KATA PENGANTAR
Segala puji atas kehadirat Allah SWT.
Yang masih memberikan kita nikmat sehat dan sempat sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tepat pada
waktunya.
Shalawat serta salam selalu tercurah
kepada baginda Rasulullah SAW. Pejuang islam yang selalu menjadi panutan umat
hingga akhir zaman.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk
memenuhi tugas mata pelajaran “PKN”
dengan tema “MENUMBUHKAN NILAI SUMPAH PEMUDA DALAM DIRI PEMUDA INDONESIA
MASA KINI”
Dalam penulisan makalah ini, kami
menyadari bahwa terdapat banyak kesalahan, oleh karena itu, kami mengharapkan
kritik dan saran dari para pembaca.
Demikian makalah ini kami buat, semoga
bermanfaat bagi kita semua. Amin.
BAB I
PENDAHULUAN
Sumpah Pemuda merupakan babak baru bagi
perjuangan bangsa Indonesia. Karena, perjuangan yang bersifat lokal
(kedaerahan) berubah menjadi perjuangan yang bersifat nasional. Para pemuda
jaman dahulu sadar bahwa perjuangan yang bersifat lokal sia-sia belaka.
Penjajah dapat mematahkan perlawanan mereka walaupun cukup merepotkan juga.
Mereka juga sadar bahwa hanya dengan persatuan dan kesatuan, cita-cita
kemerdekaan dapat diraih. Oleh karena itu, peristiwa 28 Oktober 1928 tidak
layak dan tidak boleh kita lupakan, terlebih oleh para pemuda. Karena,
pemudalah yang mengucapkan sumpah tersebut dan dengan sungguh-sungguh
mentaatinya. Saat ini, cita-cita untuk meraih kemerdekaan sudah tercapai.
Lalu, apakah Sumpah Pemuda masih
relevan untuk saat ini? Tentu saja Sumpah Pemuda masih berperan penting, yaitu
untuk kembali menumbuhkan semangat kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia yang
kini kian meredup. Para pemuda sepatutnya kembali menggali nilai-nilai
luhur yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai yang ditemukan diharapkan
menjadi pendorong dan arah untuk memperkuat kesatuan dan persatuan tersebut.
Oleh karena itu, diperlukan pemaknaan tiada
henti (terus-menurus) tentang Sumpah Pemuda. Juga, memberi pemaknaan
secara baru sesuai dengan perubahan zaman dan kondisi aktual. Kesatuan dan
persatuan amat penting bagi negara kita yang karakteristik masyarakatnya
majemuk berganda, yaitu majemuk secara horisontal dan majemuk secara vertikal.
Penulis berharap melalui tulisan ini masyarakat Indonesia semakin menyadari
pentingnya persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan cita-cita bersama menuju
masyarakat yang adil dan makmur.
BAB II
SUMPAH PEMUDA
A. Latar Belakang Sumpah Pemuda
Pada tahun 1908, bangsa Indonesia mulai
bangkit. Kebangkitan ini ditandai dengan berdirinya Budi Utomo atas inisiatif
dan dorongan Dr. Wahidin Sudirohusada. Walaupun Budi Utomo waktu itu masih
dengan corak kesadaran lokal yang tercermin dari tujuannya, yaitu mau
memajukan dan membangkitkan masyarakat dan kebudayaan Jawa terutama
melalui pendidikan, Budi Utomo membawa peran penting bagi pemuda waktu itu.
Budi Utomo mencoba membantu orang-orang muda yang tidak mampu memperoleh
pendidikan yang lebih tinggi. Dampaknya, semakin banyak muncul organisasi
pemuda, seperti Tri Koro Darmo. (Jong Java), Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon,
Jong Betawi, Jong Minahasa, Sekar Rukun, dan Pemuda Timor.
Organisasi-organisasi inilah yang nantinya akan mendorong lahirnya Sumpah
Pemuda.
Perhimpunan pemuda yang paling gencar
mengumandangkan persatuan bangsa adalah Perhimpunan Indonesia (PI). PI sendiri
sudah memberi teladan terlebih dahulu. Hal itu nampak jelas di mana pemuda
Indonesia dari macam-macam pulau itu sudah bersatu di Belanda dalam wadah PI.
Rasa kesukuan dan kedaerahan sudah hilang. Hal itu, nampak dalam ideologi PI,
yaitu:
- Kesatuan nasional: mengesampingkan perbedaan-perbedaan
sempit yang berdasarkan kedaerahan kemudian menciptakan kesatuan aksi.
- Solidaritas: tanpa melihat perbedaan antarsesama bangsa
Indonesia, seharusnya kita sadar bahwa terdapat perbedaan kepentingan yang
mendasar antara penjajah dengan yang dijajah.
- Non kooperatif: kemerdekaan harus timbul dengan
kekuatan sendiri.
- Swadaya: untuk mengandalkan kekuatan sendiri perlu
dikembangkan suatu struktur alternatif dalam kehidupan nasional politik,
sosial, ekonomi, dan hukum yang kuat berakar pada masyarakat pribumi.
Empat ideologi pokok PI secara
eksplisit mendorong bangsa Indonesia untuk bersatu meraih kemerdekaan.
B. Lahirnya Sumpah Pemuda
- Kongres Pemuda
Untuk mewujudkan suatu persatuan dan
kesatuan antarorganisasi pemuda yang ada, sudah berkali-kali dicoba diadakan
pertemuan sejak tahun 1920. Usaha ini cukup sulit dilaksanakan karena berusaha
untuk menyatukan organisasi yang berbeda-beda landasannya. Sebelumnya,
organisasi-organisasi itu harus bergulat untuk memilih wadah yang cocok bagi
organisasinya. Setelah itu, masih harus disesuaikan dengan organisasi
lainnya.
Pada tanggal 15 November 1925
organisasi-organisasi pemuda berkumpul dan menyepakati dibentuknya suatu
panitia untuk mempersiapkan kesepakatan besar pemuda. Diharapkan dengan adanya
kesepakatan besar bersama dari para pemuda, berkembanglah paham persatuan
kebangsaan dan berusaha merekatkan tali persatuan di antara
organisasi-organisasi pemuda. Sehingga, pada tanggal 30 April 1926, rapat besar
pemuda itu berlangsung dan kemudian dikenal dengan nama Konggres Pemuda
I. Konggres Pemuda I berhasil merumuskan dasar-dasar pemikiran bersama.
Kesepakatan itu meliputi:
- Cita-citaIndonesia merdeka menjadi cita-cita semua
pemuda Indonesia.
- Semua perkumpulan pemuda berdaya upaya menggalang
persatuan organisasi pemuda dalam suatu wadah. Dari hasil kesepakatan
yang dicapai ini, sangat tampak kemajuan yang mendukung arti pentingnya
kesatuan dan persatuan antarmereka. Hal ini merupakan suatu prestasi
besar pada saat itu.
- Kongres Pemuda
Konggres Pemuda II diadakan tanggal 26
– 28 Oktober 1928. Semua perkumpulan pemuda dan mahasiswa serta partai politik
diundang hadir untuk memberikan dukungan bagi pertemuan pemuda tersebut.
Pertemuan selama 3 hari itu diisi dengan sambutan-sambutan yang
mempropagandakan persatuan dalam sanubari para pemuda.
Dalam pertemuan tersebut, sempat
terjadi 2 kali insiden hanya karena disebut-sebutnya “Kemerdekaan Indonesia”.
Polisi Belanda sempat menegur ketua rapat agar tidak menggemakan lagi
“Kemerdekaan Indonesia”. Insiden itu justru semakin menyulut kebencian pemuda
pada pihak Belanda.
Setelah sidang ketiga tanggal 28
Oktober 1928, Moh. Yamin menyimpulkan semua pembicaraan dalam konggres
tersebut. Perumusan yang berupa kesimpulan itulah yang dikenal dengan
Sumpah Pemuda. Kemudian Moh. Yamin dipersilakan untuk menjelaskan rumusan itu
dan disetujui secara aklamasi oleh seluruh peserta sidang. Inilah kesimpulan
dari Moh. Yamin itu yang kita kenal dengan SUMPAH PEMUDA:
Pertama
Kami putera dan
puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang
satu, tanah
Indonesia.
Kedua
Kami putera dan
puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu,
bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putera dan
puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan,
bahasa Indonesia.
BAB III
NILAI-NILAI SUMPAH PEMUDA DAN PERSATUAN
A.
Nilai-Nilai Sumpah Pemuda
Sejarah
merupakan modal awal untuk mencari bagaimana wajah Indonesia di masa depan.
Sumpah Pemuda sebagai peristiwa historis juga menjadi salah satu kekuatan untuk
membangun kepribadian bangsa. Kekuatan itu berupa nilai-nilai luhur yang
terkandung di dalamnya. Maka, amat disayangkan jika nilai-nilai luhur dalam
Sumpah Pemuda tidak digali, diperkenalkan, dan disebarluaskan bagi generasi
muda saat ini yang adalah generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, penulis
ingin menggali, memperkenalkan, dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur yang
terkandung dalam Sumpah Pemuda sehingga mendorong generasi muda untuk
melestarikannya.
Nilai-nilai itu antara lain:
1.
Kebersamaan dan persaudaraan
Penderitaan
akibat penjajahan menimbulkan rasa kesamaan nasib yang semakin mempererat tali
persaudaraan para pemuda. Rasa kebersamaan dan persaudaraan itu membuka
kesadaran bahwa perbenturan kepentingan individu dapat menimbulkan keretakan
yang justru merugikan mereka sendiri. Oleh karena itu, dalam proses hingga
perumusan Sumpah Pemuda, rasa kebersamaan dan persaudaraan menjadi landasan
utamanya.
2.
Toleransi
Rasa
toleransi dari para pemuda sangat tampak ketika para pemuda terbuka pada
kemajemukan dan keberagaman. Mereka memberi tempat pada pluralitas. Dan, mereka
tidak terbelenggu pada eksistensi agama, suku, dan lokalitas kedaerahan. Dengan
mengembangkan sikap toleransi yang tinggi para pemuda berhasil mengikrarkan
Sumpah Pemuda.
3.
Tanggung jawab dan disiplin diri
Tanggal
28 Oktober 1928 merupakan saat pengucapan janji, tetapi amatlah jauh lebih
berharga bila janji itu ditepati oleh para pemuda. Dan, ternyata memang benar
para pemuda menepati janji itu. Terbukti dengan perubahan cara berpikir dan
tindak mereka. Dulunya perjuangan mereka masih terbelenggu pada kedaerahan dan
kesukuan, tetapi setelah Sumpah Pemuda, berubah menjadi perjuangan nasional.
Hal tersebut memperlihatkan rasa tanggung jawab dan disiplin diri yang tinggi
dari para pemuda dulu untuk memenuhi janji mereka.
4.
Wawasan
Sumpah
Pemuda membuka wawasan para pemuda tentang betapa luas dan beragamnya suatu
wilayah yang bernama Indonesia. Selain itu, konsep tentang suatu negara yang
dulunya hanya milik beberapa orang yang terpelajar, menjadi pemahaman bersama para
pemuda yang hadir saat konggres itu.
5.
Nasionalisme
Adanya
kebersamaan perasaan senasib, kedekatan fisik atau non fisik, terancam dari
musuh yang sama, dan punya tujuan yang sama yaitukemerdekaan, mendorong
bangkitnya nasionalisme pemuda. Nasionalisme Indonesia dapat mengatasi ikatan
primordial (lokalitas, suku, ras, dan agama) sehingga nasionalisme Indonesia
lahir sebagai sebuah ikatan bersama. Nilai-nilai sumpah pemuda yang penulis
telah paparkan merupakan bekal pendiri (pemuda jaman itu) yang tak ternilai
harganya untuk mengangkat semangat juang, rasa percaya diri, dan optimisme
bangsa (pemuda) untuk menghadapi tantangan saat ini. Tentunya, nilai-nilai yang
diuraikan di atas dilandasi oleh sikap-sikap yang mendukung, seperti saling
menghargai, saling menghormati, saling memperhatikan, setia kawan, dan sikap
mengutamakan dialog untuk menyelesaikan suatu persoalan.
B.
Sumpah Pemuda dan Persatuan
Kesatuan
dan persatuan harus menjadi basis ketahanan sebuah bangsa, apalagi bangsa yang
sedang berkembang seperti Indonesia dalam menghadapi arus globalisasi yang
makin keras. Konggres Pemuda II tanggal 26 – 28 Oktober 1928 telah berhasil
merumuskan ideologi yang berhasil mendasari jiwa kesatuan dan persatuan, yaitu
bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia; berbangsa yang satu, bangsa
Indonesia; dan memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Satu tanah air,
berarti mereka merasa menikmati hidup dalam satu wilayah yang sama. Bertumbuh
dan berkembang dalam tanah yang sama. Mereka sudah tidak memikirkan bahwa
wilayah yang lain memiliki kekayaan alam yang berlimpah sehingga mengundang
kecemburuan sosial. Semua adalah milik bersama dan untuk bersama.
Berbangsa
satu, berarti mereka terlebih dahulu menanggalkan identitas-identitas
primordial seperti etnis, suku, dan ras. Doktrin-doktrin yang melekat pada
suatu kelompok yang merasa memiliki perbedaan budaya, sejarah, maupun
prinsip-prinsip hidup sendiri juga dicoba untuk dihargai dan dihormati karena
memiliki rasa ”berbangsa satu”.
Bahasa
persatuan, berarti mereka sudah mempunyai sarana untuk mengikat persatuan
mereka. Suatu persatuan membutuhkan suatu komunikasi yang terus-menerus.
Untunglah hal itu sudah dijembatani oleh bahasa Melayu yang kemudian diangkat
menjadi bahasa Indonesia. Para pemuda menggunakan bahasa Indonesia dengan
bangga tanpa perlu meninggalkan bahasa daerah masing-masing. Peristiwa
Sumpah Pemuda menunjukkan kesatuan dan persatuan Indonesia terbentuk atas dasar
kesadaran bersama bukan paksaan. Jelaslah bahwa kesatuan dan persatuan amat
dibutuhkan bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita bersama.
BAB IV
PENUTUP
Segala
sesuatu yang kita nikmati keberadaannya kita terima begitu saja tanpa
membayangkan betapa sulitnya meraih, antara lain bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan, kemerdekaan, dan pembangunan-pembangunan yang kita nikmati
saat ini. Maka, tanggung jawab generasi saat ini adalah bagaimana
mempertahankan apa yang telah ada dan jauh lebih penting lagi mengembangkannya.
Untuk mengemban misi itu, kesatuan dan persatuan amat dibutuhkan mengingat
begitu banyaknya rintangan-rintangan yang dihadapi bangsa Indonesia. Bertitik
tolak pada persatuan itulah kita hendaknya berjuang seperti pendahulu kita.
Kita harus sadar bahwa kita masih menderita. Memang, sebab penderitaan
saat ini, berbeda dengan jaman dahulu.
Dulu,
bangsa kita menderita karena penjajah, tetapi sekarang bangsa kita menderita
karena ketidakberesan di antara bangsa Indonesia sendiri. Harusnya,
masalahnya jauh lebih mudah karena kita tidak perlu berjuang mati-matian
memanggul senapan untuk mengusir penjajah. Lalu, apa yang salah dengan
bangsa Indonesia? Masalahnya adalah bangsa Indonesia masih terpecah-pecah. Sumpah
Pemuda mempunyai nilai-nilai strategis yang mendukung ke arah kesatuan dan
persatuan bangsa seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Kalau
sekarang nilai-nilai itu sepertinya terabaikan dalam berbangsa, itu adalah
kesalahan transformasi nilai.
Maka,
yang kita butuhkan di masa depan adalah sejarah sebagai pembelajaran moral
untuk kepentingan kebangsaan. Masa lalu sebagai pengalaman adalah guru dan
darinya kita dapat berefleksi dan memperoleh banyak nilai yang terkandung di
dalamnya.

