INOVASI PEMBUATAN KUE SAKO-SAKO CETAK KHAS BIMA
THE
NEW METHOD FOR PRODUCING A BIMANESE TRADITIONAL DESSICATED COCONUT “SAKO-SAKO”
COOKIES
Annisatulhair1),
Ahmad Alamsyah2), I Wayan Sweca Yasa2)
1)Mahasiswa
Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram
2)Staf Pengajar
Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram
ABSTRACT
The aim of this research is to find out the appropriate
method for producing “Sako-sako” - a
Bimanese cookies made from dessicated coconut . The experiment was conducted in laboratory and
arranged with Completely Randomized Block Design (RCBD) of two factors and 3
replications. The factors were the baking time of 15, 30 and 45 minutes and the
thickness of the cookies (0.5 cm, 1 cm, and 3 cm). Data was anayzed with
analysis of variance and post hoc test with Honestly Significant Difference
(HSD) at 5 percent of significant level. The parameter were the chemical
characteristic of “sako-sako” included
water content, fat content and protein content; physical characteristic
included hardness, lightness and the Hue, and sensory attributes colour, taste,
flavour and cohessiveness. The result showed that interaction between baking
time and tichness of the cookies had
significatly effect on water content, lipid and protein as well as the
sensoriy attributes. However, the interaction did not have affect on ash content, lightness and Hue. The higher of the
tihckness at the same baking time, the higher of the water and protein content
of the cookies, but the lower of the lipid content and cohessiveness. The
higher of baking time at the same thickness of the cookies, the lower of the lower of the water and protein content of the
cookies, but the higher of the lipid content and cohessiveness. The baking time
of 45 minutes and the thickness of 0,5 cm producing the best quality of Sako
sako cookies. The cookies had the
highest score of sesories attributes and cohessiveness as well as met the
Indonesian National standard chemical composition of cookies.
Keywords: baking, cookies,dessicated
coconut, thickness
ABSTRAK
Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui metode baru pembuatan kue kering khas Bima berbahan
kelapa parut “Sako-sako” yang dicetak. Percobaan
dilaksanakan di laboratorium dan ditata menggunakan rancangan acak f kelompok
faktorial dengan 2 faktor
dan 3 ulangan. Faktor perlakuan meliputi lama pemanggangan, yaitu lama
pemanggangan 15, 30 dan 45 menit, dan tebal kue kering, yaitu ketebalan kue
0,5; 1,0 dan 1,5 cm. Data dianalisis dengan analisis keragaman pada taraf nyata
5 persen dan uji lanjut menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf nyata
yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara lama pemanggangan dan ketebalan kue sako-sako
cetak berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar lemak dan kadar protein,
parameter fisik (tekstur), mutu organoleptik tekstur, aroma, warna dan rasa, tetapi interaksi tidak berpengaruh terhadap kadar abu, nilai L*,dan oHUE. Pada lama pemanggangan yang
sama, semakin tebal kue sako sako cetak, maka semakin tinggi kadar air dan
protein, namun kadar lemak dan kekompokan kue sako-sako. Pada ketebalan yang
sama, semakin lama waktu pemanggangan, maka kadar air dan protein kue sako-sako
semakin rendah, namun kadar lemak dan kekompakan tekstur kue semakin tinggi.
Lama pemanggangan dan ketebalan kue Sako-sako cetak terbaik adalah kue yang
dibuat dengan lama pemanggangan 45 menit dan ketebalan 1 cm. Kue ini memiliki
skor sensoris dan kekompakan tekstur tertinggi serta memenuhi komposisi kimia
kue kering menurut SNI.
Kata Kunci : Kue kering, kelapa parut, ketebalan,
pemangganga
PENDAHULUAN
Indonesia
memiliki beragam makanan tradisional, mulai dari nasi, lauk, sayuran, sampai
dengan jajanan tradisional lainnya. Tetapi, jajanan tradisional di Indonesia
kini mulai tergantikan dengan jajanan modern. Hal ini disebabkan karena
pergeseran gaya hidup masyarakat yang semakin modern menjadikan mereka lupa
akan makanan tradisional yang ada pada daerahya. Banyak bermunculan
makanan-makanan inovasi cepat saji yang dianggap lebih menarik, sehingga
semakin populer merabah ke berbagai lapisan masyarakat. (Utomo A.W, 2016)
menjelaskan bahwa 63,2% anak lebih menyukai makanan cepat saji atau modern
seperti, burger dan pizza. Sementara ada 36,8% anak yang mengaku menyukai makanan
tradisional. Di Nusa Tengara Barat masih banyak memiliki jajanan tradisional,
salah satu jajanan tradisional yang masih banyak diminati oleh masyarakat yaitu jajanan tradisional sako-sako yang berasal dari Bima.
Sako-sako adalah makanan pengganjal
perut ketika lapar. Sako-sako adalah jajanan khas Bima yang terbuat dari bahan
baku seperti tepung beras, parutan kelapa, dan garam kemudian dicampurkan dan
di sangrai. Sako-sako dikonsumsi dengan cara menambahkan gula putih. Sako-sako
memiliki rasa yang enak yaitu perpaduan rasa manis dan gurih, beraroma khas
kelapa, berwarna kuning kecoklatan. Sako-sako merupakan makanan kering yang
biasanya di konsumsi oleh semua kalangan terutama anak rantauan dan sebagai
bekal perjalanan para jemaah haji karena memiliki masa simpan yang panjang.
Sako-sako yang bentuknya seperti
serbuk kasar serta bertekstur kering dan renyah, karena bentuknya serbuk
sehingga apabila dikonsumsi harus berhati-hati dan usahakan jagan sambil bicara
karena dapat muncrat. Bentuk dari kue sako-sako yang kurang praktis, kurang
menarik dan pola konsumsi masyarakat mulai banyak berubah, semakin maraknya
makanan modern semakin menurun pula tingkat mengkonsumsi makanan tradisional di
kalangan masyarakat, menyebabkan kue sako-sako ini sudah kurang diminati oleh
masyarakat. Hal ini disebabkan banyaknya makanan produk olahan sehingga
sebagian masyarakat lebih memilih makanan modern dibandingkan makanan
tradisional agar lebih bergengsi untuk disuguhkan. Oleh karena itu perlu
dilakukan sebuah inovasi untuk membentuk kue sako-sako menjadi bentuk yang
padat sehingga mudah untuk dikonsumsi, lebih praktis dan memudahkan proses
pengemasan. Salah satu inovasi yang dilakukan untuk merubah bentuk kue
sako-sako ini adalah dengan cara di cetak.
Pencetakan kue sako-sako ini
dilakukan dengan menggunakan alat pencetakan kue kering. Cara pencetakannya
hampir sama dengan cara mencetak kue sagon kering, pada ketebalan bahan pangan
saat pemanggangan sangat mempengaruhi tingkat kematangan produk yang dihasilkan.
Semakin tebal produk yang dipanggang maka penguapan airnya sedikit sedangkan
bila bahan yang di panggang tipis maka penguapan airnya banyak dan bahan pangan
menjadi cepat matang (Rahmi, 2004). Menurut hasil penelitian Sarifudin (2015)
tentang karakteristik sifat fisiko-kimia thermal
serta penerimaan organoleptik kue sagon berbasis tepung pisang, kue sagon
dicetak dengan menggunakan cetakan sagon
6 cm x 3 cm x 0,5 cm hasil uji hedonik terhadap kue sagon berbasis
tepung pisang menunjukkan formulasi kue pada rasio tepung pisang : kelapa parut
(1:2) adalah produk kue sagon yang secara umum paling disukai responden.
Sedangkan Menurut Anjasari (2013) pada penelitian tentang pengaruh perbandingan
tepung ubi jalar dengan tepung ketan dan suhu pemanggangan terhadap
karakteristik cookies sagon kelapa,
kue sagon dicetak dengan menggunakan cetakan dengan ukuran ketebalan 1 cm
dengan hasil penelitian terbaik yang dilihat dari rasa yang paling disukai
yaitu cookies yang memiliki
perbandingan tepung ubi jaral kuning dengan tepung beras ketan (4:1) dan suhu
pemanggangan 140oC.
Suhu pemanggangan
sangat mempengaruhi tingkat kematangan produk yang dihasilkan. Suhu
pemanggangan juga dapat mempengaruhi waktu yang dibutuhkan oleh adonan hingga
membentuk produk yang diinginkan. Semakin tinggi suhu pemanggangan yang
digunakan, maka semakin cepat waktu pemanggangan yang dibutuhkan untuk
membentuk produk yang diinginkan (Priyanto 1991, dalam Rahma 2015).
Menurut Setya (2012) pemanfaatan
tepung kulit ari kedelai (Glycine max)
sebagai pembuatan serat pada cookies
dengan flavor pisang ambon (Musa acuminate colla), penambahan tepung
kulit ari 30% dengan pisang ambon 10% dan dipanggang dengan oven pada suhu 150oC
selama 30 menit merupakan perlakuan terbaik. Menurut Nurlaela (2017) daya
terima kesukaan panelis terhadap cookies
ubi jalar terbaik adalah cookies
formulasi C3 (penambahan tepung ubi jalar 50%) dengan suhu pemanggangan 150oC
selama 45 menit. Cookies yang sudah
dicetak dioven pada suhu 150oC dengan lama pemanggangan 15 menit
(Ferdiansyah dan Affandi, 2017). Penerapan tentang ukuran ketebalan dan lama
pengovenan untuk kue sako-sako belum pernah dilakukan. Oleh karena itu
dilakukan penelitian tentang “Inovasi
Pembuatan Kue Sako- sako Cetak Khas Bima”.
METODOLOGI
BAHAN
dan ALAT
Bahan-bahan
yang digunakan dalam penelitian ini antara lain tepung beras, kelapa parut,
gula, garam, mentega, kuning telur dan air. Sedangkan bahan-bahan untuk
analisis meliputi aquadest, petroleum benzene 300 ml, H2SO4
25 ml, K2SO4 2 gram, CuSo4 1 gram
dan NaOH.
Adapun alat-alat yang digunakan dalam
penelitian ini antara lain : baskom, sendok, piring, wajan, kompor gas, sutil.
Alat yang digunakan untuk analisis kimia adalah timbangan analitik, cawan
porselin, desikator, tang penjepit, oven pengering, tanur, desikator, soxlet,
pendingin tegak, penangas air, labu penampung, pinset, labu Kjeldahl, erlenmeyer, baker glass, pipet ukur, kompor dextruksi, distilasi unit, pompa hisap
dan aluminium foil.
METODE
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental yang
dilaksanakan di laboratorium.
Rancangan
Percobaan
Rancangan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan
percobaan faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama (P) adalah pemanggangan
sako-sako (dengan lama waktu pemanggangan) dan faktor kedua (K) adalah ukuran
ketebalan cetakan yang terdiri dari 3 aras
perlakuan, dengan perlakuan sebagai berikut :
a. Teknik Pengovenan dengan lama pemanggangan yang berbeda
yang terdiri dari 3 aras, yakni :
P1 =
Pemanggangan dengan suhu 1500C selama 15 menit
P2 = Pemanggangan dengan suhu 1500C
selama 30 menit
P3 = Pemanggangan dengan suhu 1500C
selama 45 menit
b. Ukuran Ketebalan Cetakan terdiri dari 3 aras, yakni :
K1=
Ukuran Ketebalan 0,5 cm
K2=
Ukuran Ketebalan 1 cm
K3=
Ukuran Ketebalan 1,5 cm
Analisis
Data
Masing-masing kedua faktor dikombinasikan sehhingga
diperoleh 9 kombinasi perlakuan, yang selanjutnya masing-masing kombinasi
perlakuan diulang 3 kali ulangan sehingga diperoleh 27 unit percobaan.
Data
dari hasil pengamatan fisik dan organoleptik dianalisis menggunakan Analysis
of Variance (ANOVA) dengan taraf nyata 5% dengan menggunakan software
Co-stat. Apabila terdapat beda nyata, dilakukan uji lanjut BNJ (Beda Nyata
Jujur) pada taraf nyata 5% untuk parameter fisik dan organoleptik (Hanafiah,
2001).
PELAKSANAAN PENELITIAN
1.
Pembuatan Tepung
Beras
Adapun cara membuat
tepung beras adalah
sebagai berikut:
1.
Persiapan
Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan adalah beras.
Beras yang digunakan harus bagus, berwarna putih dan tidak rusak.
2.
Sortasi
Pilihlah
beras yang berkualitas bagus (bervarietas C4). Beras yang digunakan merk beras
super C4 yang dibeli di kekalek.
3.
Perendaman
Beras yang telah di
sortasi kemudian direndam selama 2 jam. Dalam penelitian ini tujuan perendaman
agar beras lebih lunak sehingga memudahkan untuk proses selanjutnya.
4.
Penirisan
Beras yang
sudah direndam kemudian ditirskan selama
1 jam. Tujuan penirisan ini untuk menggurangi kadar air pada beras selama
proses perndaman.
5.
Penggilingan/
penepungan
Penepungan
adalah suatu proses penghancuran bahan pangan menjadi butiran-butiran yang
sangat halus, kering dan tahan lama, serta fleksibel
dalam penggunaannya. Penggilingan beras dilakukan untuk memperkecil ukuran
dengan menggunakan mesin penggiling.
6.
Pengayakan
Pengayakan adalah suatu proses penghalusan
bahan pangan menjadi sangat halus dengan menggunakan mesin penyagakan 80 mesh.
2.
Pembuatan Kue Sako-sako Cetak Khas Bima
1.
Sortasi
Bahan baku yang digunakan adalah beras dan
kelapa. Beras yang digunakan adalah beras yang berkualitas baik (varietas
C4) dan kelapa yang digunakan adalah
buah kelapa yang tua (varietas dalam) yang di beli di pasar kekalek.
2.
Pemarutan
Kelapa
Pemarutan dagin buah kelapa dilakukan untuk
memperkecil untuk ukuran dengan menggunakan alat pemarut yang bentuknya dapat
disesuaikan dengan bentuk yang diinginkan. Pemarutan kelapa bertujuan
memberikan karakteristik bentuk dari produk pangan sako-sako.
3.
Penyangraian
Kelapa Parut dan Tepung Beras
Penyangraian merupakan cara pemasakan bahan
makanan dengan radiasi panas. Dengan perlakua-perlakuan tersebut terjadi
perubahan keadaan bahan makanan, baik sifat fisik maupun sifat kimawinya
sehingga keadaan bahan pangan ada yang menjadi lunak dan enak dimakan. Tepung
beras dan kelapa parut di sangria selama 25 menit sampai berwarna kuning
kecoklatan.
4.
Pencampuran
Tepung beras dan parutan kelapa yang telah
disangrai di campurkan dengan gula, garam dan air, agar bahan-bahan tersebut
tercampur secara homogen.
5.
Pencetakan
Pencetakan merupakan suatu proses yang
bertujuan untuk menghasilkan ukuran produk akhir menjadi seragam sehingga
memudahkan dalam proses selanjutnya.
6.
Pengovenan
Pengovenan merupakan salah satu proses
pematangan dengan menggunakan suhu 150oC.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan
analisis yang terbatas pada ruang lingkup penelitian ini serta didukung teori
yang ada, maka dikemukakan pembahasan sebagai berikut:
Mutu
Kimia
1.
Kadar
Air
Hubungan Interaksi Lama Pemanggangan dan Ketebalan Terhadap Kadar Air Kue
sako-sako cetak khas bima dapat dilihat gambar 1.
Gambar
1. Diagram Perlakuan Interaksi Lama
Pemanggangan (P) dan Ketebalan (K) Terhadap Kadar Air Kue Sako-sako Cetak Khas
Bima.
Berdasarkan Gambar 1.
Menunjukkan bahwa perlakuan pada ketebalan 0,5 cm (K1), semakin lama pemanggangan maka kadarnya semakin rendah. Hal ini
juga terjadi pada ketebalan 1 cm (K2) dan 1,5 cm (K3). Kadar air yang tertinggi
pada perlakuan lama pemanggangan dan ketebalan
kue sako-sako cetak perlakuan P1 (15 menit) : K3 (1,5 cm) yaitu sebesar 16,40%
dan kadar air terendah pada perlakuan P3 (45 menit) : K1(0,5 cm) yaitu sebesar
2,49%. Hal ini disebabkan karena perlakuan ini menggunakan lama pemanggangan dan ketebalan, semakin lama waktu
pemanggangan maka kadar air semakin menurun dan semakin sebentar waktu
pemanggangan maka kadar air semakin meningkat. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian Wulandari (2018) yang menyatakan bahwa kadar air cookies pada semua jenis perlakuan
memiliki kecenderungan menurun karena semakin lama pemanggangan maka semakin
sedikit kadar air. Hal ini terjadi karena panas yang disalurkan melalui alat
pemanggangan akan menguapkan air yang terdapat dalam bahan yang dipanggang
(Sitroresmi, 2012).
Hasil penelitian ini sesuai dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Anjasari (2013) pengaruh perbandingan
tepung ubi jalar dengan tepung ketan dan suhu pemanggangan terhadap
karakteristik cookies sagon kelapa,
pada perlakuan b1 (13o0C), b2 (14o0C) dan b3 (150oC),
semakin rendah perlakuan suhu pemanggangan maka semakin tinggi kadar airnya,
sebaliknya semakin tinggi suhu maka
kadar air semakin rendah. Kapasitas proses penguapan air akan berkurang disebabkan
oleh menurunya temperatur aliran udara panas dan naiknya kelembaban relative
udara sehingga udara panas menjadi jenuh dan tidak mampu menguapkan air lagi.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian Kasim (2015) pada pengaruh suhu dan lama
pemanggangan terhadap kesukaan dan kandungan gizi snack food bars berbahan
dasar tepung pisang gorong dan tepung ampas tahu yang menunjukkan adanya
perbedaan nyata antara keempat perlakuan suhu dan lama pemanggangan 130oC
selama 30 menit, 130oC selama 60 menit, 160oC selama 30
menit dan 160oC selama 60 menit. semakin lama waktu pemanggangan
kadar air semakin menurun. Berdasarkan
SNI (2012) kadar air maksimal kue kelapa adalah 4% dan kadar air kue sako-sako
cetak pada perlakuan lama pengovenan 45 menit (P3) dengan ketebalan 0,5 cm (K1)
dan 1 cm (K2) telah memenuhi persyaratan.
2.
Kadar Abu
Hubungan perlakuan lama pemanggangan
dan ketebalan terhadap kadar abu kue sako-sako dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Diagram
Perlakuan Lama Pemanggangan Terhadap Kadar Abu Kue Sako-sako Cetak Khas Bima
Gambar 3. Diagram
Perlakuan Ketabalan Terhadap Kadar Abu
Kue Sako-sako Cetak Khas Bima
Berdasarkan Gambar 2
dan 3. menunjukkan bahwa lama pemanggangan dan
ketebalan tidak berpengaruh nyata pada kadar abu (Tabel 13). Semakin lama pemanggangan maka kadar abu semakin tinggi dan
sebaliknya semakin sebentar waktu pemanggangan
maka kadar abu semakin rendah, kadar abu terendah pada perlakuan lama pemanggangan yaitu pada lama pemanggangan 15 menit (P1) yaitu 1,0% dan perlakuan tertinggi
yaitu pada lama pemanggangan 45 menit (P3)
yaitu 1,31%. Sedangkan pada perlakuan ketebalan, semakin tebal ukuran maka
kadar abu semakin rendah dan sebaliknya, semakin tipis ukuran ketebalan maka
kadar abu akan semakin tinggi. Nilai kadar abu pada perlakuan ketebalan yang
tertinggi pada ketebalan 0,5 cm (K1) yaitu sebesar 1,29% dan nilai kadar abu
terendah yaitu sebesar 0,96%. Kenaikan nilai kadar abu ini terus berlangsung
dengan semakin lamanya waktu yang digunakan selama pengovenan. Peningkatan
kadar abu karena waktu pengovenan dan ketebalan yang digunakan juga semakin
meningkat yang berbanding terbalik dengan kadar air yang semakin menurun.
Sesuai dengan pernyataan Sudarmaji et.al
(1997), bahwa kadar abu tergantung pada jenis bahan, cara pengabuan, waktu, dan
suhu yang digunakan saat pengeringan.
Hasil penelitian ini
sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anjasari (2013) pengaruh
perbandingan tepung ubi jalar dengan tepung ketan dan suhu pemanggangan
terhadap karakteristik cookies sagon
kelapa, perlakuan perbandingan tepung ubi jalar dengan tepung ketan 5 : 1, 4 :
1, 3 : 1 tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar abu cookies sagon kelapa. Sejalan dengan
hasil penelitian Kasim (2015) pada pengaruh suhu dan lama pemanggangan terhadap
kesukaan dan kandungan gizi snack food bars berbahan dasar tepung pisang
gorong dan tepung ampas tahu yang menunjukkan antara keempat perlakuan suhu dan
lama pemanggangan 130oC selama 30 menit, 130oC selama 60
menit, 160oC selama 30 menit dan 160oC selama 60 menit.
Perlakuan suhu dan lama pemanggangan tidak merusak kandungan mineral atau abu
pada snack food bars. Menurut Papuli
dkk (2007), pada umumnya garam-garam mineral tidak berpengaruh secara
signifikansi dengan perlakuan kimia dan fisik selamaa pengolahan. Berdasarkan
SNI (2012) kadar abu maksimal kue kelapa yaitu 2% dan kadar abu kue sako-sako
cetak pada semua perlakuan telah memenuhi persyaratan.
Terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhi bahan-bahan dalam pembuatan cookies sagon kelapa berupa tepung ubi jalar, tepung ketan, kelapa
kering maupun gula adalah bahan organik yang pada saat pembakaran terbakar
sempurna menjadi karbon dioksida dan air (Winarno, 2002).
3. Kadar Lemak
Hubungan lama
pengovenan dan ketebalan terhadap kadar lemak kue sako-sako dapat dilihat pada
gambar 5.
Gambar 5. Diagram
Perlakuan Interaksi Lama Pemanggangan (P) dan Ketebalan (K) Terhadap Kadar
Lemak Kue Sako-sako Cetak Khas Bima.
Berdasaekan Gambar 5.
Menunjukkan bahwa pada perlakuan lama pemanggangan
dan ketebalan kue sako-sako cetak memberikan pengaruh yang beda nyata pada
kadar lemak kue sako-sako. Kadar lemak yang terendah pada perlakuan P1 (15
menit) : K3 (1,5 cm) yaitu sebesar 23,31%
dan kadar lemak yang tertinggi pada perlakuan P3 (45 menit) : K1 (0,5
cm) yaitu sebesar 31,40%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin lama waktu pemanggangan kue sako-sako cetak maka kadar lemak
kue sako-sako semakin meningkat, sesuai dengan literatur menurut Zuhra et.al (2012) yang menyatakan bahwa
meningkatnya kadar lemak dengan suhu pengeringan yang tinggi dapat disebabkan
oleh penurunan kadar air sehingga persentase kadar lemak meningkat. Sedangkan
kadar lemak yang tinggi dapat terjadi sebagai akibat dari rusaknya lemak akibat
temperatur pengeringan yang relative tinggi. lemak merupakan suatu senyawa yang
terbentuk sebagai hasil dari reaksi esterifikasi antara gliserol dengan asam
lemak. Pemberian panas yang tinggi pada lemak akan mengakibatkan terputusnya
ikatan-ikatan rangkap pada lemak, sehingga lemak tersebut akan terdekomposisi
menjadi gliserol dan asam lemak.
Berdasarkan SNI (1992) kadar lemak
minimal kue kering yaitu 9,5% dan kadar lemak kue sako-sako cetak pada semua
perlakuan telah memenuhi persyaratan. Diperkuat oleh Oktavia (2008) lemak yang
terdapat pada cookies umumnya berasal
dari margarin dan telur.
4. Kadar Protein
Hubungan lama pengovenan dan ketebalan terhadap kadar protein kue
sako-sako dapat dilihat pada gambar 6.
Gambar 6. Diagram Perlakuan Interaksi Lama Pemanggangan
(P) dan Ketebalan (K) Terhadap Kadar Protein Kue Sako-sako Cetak Khas Bima.
Berdasarkan Gambar 9.
Menunjukkan bahwa pengaruh lama pemanggangan
dan ketebalan pada kue sako-sako cetak memberikan pengaruh yang beda nyata pada
kadar protein kue sako-sako cetak. Kadar protein yang tertinggi pada perlakuan
P1 (15 menit) : K3 (1,5 cm) yaitu sebesar
6,28 (%) dan kadar protein yang rendah pada perlakuan P3 (45 menit) : K1
(0,5 cm) yaitu sebesar 0,68, dapat dilihat bahwa semakin sebentar lama pemanggangan dan semakin tebal ukurannya maka kadar
protein semakin tinggi, dan sebaliknya semakin lama waktu pemanggangan dan semakin tipis ukurannya maka
semakin rendah kadar protein kue sako-sako. Penurunan kadar protein yang
terjadi diduga akan semakin besar, sejalan dengan bertambahnya waktu pemanggangan dan ketebalan. Hal ini sesuai dengan
penelitian Jacoeb dkk, (2008) semakin lama pemanggangan maka semakin menurun kadar protein
kasarnya. Semakin tinggi suhu
pemanggangan akan terjadi penurunan kadar protein, dimana semakin tinggi suhu
pemanggangan maka akan terjadi denaturasi protein yang mengakibatkan perubahan
struktur protein oleh suhu pemanggangan yang berbeda. Denaturasi protein
merupakan suatu keadaan dimana protein mengalami perubahan atau perusakan
struktur sekunder, tersier dan kuartenernya (Zulfikar, 2008 dalam Novia 2011).
Menurut Palupi dkk (2007), pengolahan bahan pangan berprotein yang tidak terkontrol
dengan baik dapat menyebabkan terjadinya penurunan protein. Protein akan
mengalami penurunan akibat adanya proses pemanasan dimana protein merupakan
senyawa reaktif yang tersusun dari beberapa asam amino yang mempunyai gugus
reaktif yang dapat berikatan dengan komponen lain pada saat proses pemanasan,
misalnya berikatan dengan gula pereduksi, polifenol, lemak dan produk
oksidasinya serta bahan tambahan kimia lainnya.
Hasil penelitian ini sesuai dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusuma (2016) pada pembuatan cookies dengan penambahan tepung daun
kelor (Moring oleifera) pada berbagai
suhu pemanggangan, yang menunjukkan bahwa kadar protein Kadar protein produk cookies kelor dengan suhu pemanggangan S3
(160oC) lebih rendah yaitu 12,76% dibandingkan dengan suhu
pemanggangan S1 (140oC) yaitu sebesar 13,28%. Hal ini
juga sejalan dengan hasil penelitian Kasim (2015) pada pengaruh suhu dan lama
pemanggangan terhadap kesukaan dan kandungan gizi snack food bars berbahan
dasar tepung pisang gorong dan tepung ampas tahu yang menunjukkan antara
keempat perlakuan suhu dan lama pemanggangan 130oC selama 30 menit,
130oC selama 60 menit, 160oC selama 30 menit dan 160oC
selama 60 menit, semakin tinggi suhu dan lama pemanggangan kadar protein makin
berkurang. Berdasarkan SNI (1992) kadar protein minimal kue kering yaitu 9% dan
kadar protein kue sako-sako cetak pada semua perlakuan tidak memenuhi
persyaratan.
MUTU FISIK
1.
TEKSTUR
Hubungan lama
pemanggangan dan ketebalan terhadap tekstur kue sako-sako dapat dilihat pada
gambar 7.
Gambar 7. Diagram
Perlakuan Lama Pemanggangan dan Ketebalan Terhadap Nilai Tekstur Kue Sako-sako
Cetak Khas Bima
Berdasarkan Gambar 7.
Menunjukkan bahwa pengaruh lama pemanggangan
dan ketebalan memberikan pengaruh yang beda nyata pada tekstur kue sako-sako.
Nilai tekstur yang terendah pada perlakuan P1 ( 15 menit) : K3 (1,5 cm) yaitu
sebesar 0,16 kg/cm2 dan nilai tekstur yang tertinggi yaitu pada
perlakuan P3 (45 menit) : K1 (0,5 cm) yaitu sebesar 1,10 kg/cm2. Hal
ini dikarenakan, semakin lama waktu pemanggangan akan menyebabkan penguapan air
yang semakin besar. Menurut Diniyah dkk, (2012) semakin besar penguapan air
maka total padatan terlarut akan semakin meningkat yang menyebabkan tekstur
produk semakin keras dan memadat.
2.
Nilai oHUE
Gambar
8. Diagram Perlakuan Lama Pemanggangan Terhadao Nilai oHUE
Kue Sako-sako Cetak Khas Bima.
Gambar
9. Diagram Perlakuan Ketebalan Terhadao
Nilai oHUE Kue Sako-sako Cetak Khas Bima.
Berdasarkan Gambar 8 dan 9.
Menunjukkan bahwa nilai a (merah) dan nilai b (kuning), dengan nilai a dan b
dapat ditentukan nilai oHUE yang mempengaruhi hasil degradasi warna oHUE.
Nilai oHUE mewakili panjang gelombang dominan yang akan menentukan
warna suatu bahan (Winarno, 2004). Jika nilai a dan nilai b semakin meningkat
yang menunjukkan bahwa sampel memiliki warna yang semakin kearah merah dan
kekuningan. Data yang didapat hasil nilai oHUE berkisaran 72,56 -
75,04. Deskripsi warna yang dihasilkan berdasarkan nilai oHUE yaitu yellow red.
3.
Nilai L*
Hubungan lama pengovenan dan
ketebalan pada nilai L* kue sako-sako dapat dilihat pada gambar 10.
Gambar
10. Diagram Perlakuan Lama Pemanggangan
Terhadao Nilai L* Kue Sako-sako Cetak Khas Bima.
Gambar
11. Diagram Perlakuan Ketebalan Terhadap
Nilai L* Kue Sako-sako Cetak Khas Bima.
Gambar 10 dan 11.
Menunjukkan bahwa perlakuan lama pemanggangan memberikan pengaruh yang beda
nyata pada nilai L* kue sako-sako cetak, tetapi perlakuan ketebalan dan
interaksi lama pengovenan dan ketebalan memberikan pengaruh yang tidak beda
nyata pada nilai L* kue sako-sako cetak. Nilai L* kue sako-sako pada perlakuan
P1 (15 menit) : K1 (0,5 cm), P1 (15 menit) : K2 (1 cm), P1 (15 menit) : K3 (1,5 cm), P2 (30 menit) :
K1 (0,5 cm), P2 (30 menit) : K2 (1 cm), P2 (30 menit) : K3 (1,5 cm), P3 (45
menit) : K1 (0,5 cm), P3 (45 menit) : K2 (1 cm), P3 (45 menit) : K3 (1,5 cm),
secara bertutut-turut 75,65, 75,40, 73,20, 73,09, 69,80, 69,42, 68,24, 66,00,
dan 64,38. Nilai L* yang tertinggi yaitu sebesar 75,65 kg/cm2 dan
nilai L* terendah yaitu sebesar 64,38 kg/cm2. Penurunan nilai lightness karena semakin tinggi suhu
pemanggangan yang digunakan menyebabkan terjadinya reaksi pencoklatan (maillard) sehingga cookies berwarna agak gelap. Reaksi maillard berlangsung karena gula pereduksi bereaksi dengan asam
amino dari protein membentuk senyawa berwarna coklat yang disebut melanoidin
(Davidek et.al.,2004). Menurut
Eriksson (1981) penyebab reaksi maillard antara
lain adalah suhu dan waktu pemanasan, akan tetapi secara umum suhu lebih
berpengaruh dari pada waktu pemanasan. Menurut Broadhust (2002) karamelisaisi
memberikan warna mulai dari kuning hingga coklat tua dan warna akan semakin
gelap selama peningkatan suhu. Selama proses pemanasan, fruktosa akan lebih
dahulu terdekomposisi, kemudian glukosa dan diakhiri oleh sukrosa (Mathur,
2004).
UJI ORGANOLEPTIK
1. Uji Hedonik
Hasil uji hedonik untuk parameter
tekstur, aroma, warna dan rasa dapat dilihat pada Gambar
12.
Gambar 12. Diagram
Perlakuan Lama Pemanggangan dan Ketebalan Terhadap Uji Hedonik Kue Sako-sako
Cetak Khas Bima.
Berdasarkan Gambar 15.
Menunjukkan hasil uji hedonik 20 panelis terhadap parameter tekstur, aroma,
warna dan rasa kue sako-sako cetak. Interaksi
lama pemanggangan dan ketebalan memberikan pengaruh yang beda nyata terhada
parameter tekstur, aroma, warna dan rasa kue sako-sako cetak khas bima.
Teksur merupakan aspek penting dalam
penilaian mutu produk pangan. Tekstur juga termasuk salah satu faktor yang
mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap produk pangan (Hellyer, 2004).
Tekstur makanan mempengaruhi peampilan makanan yang akan dihidangkan. Nilai
untuk parameter tekstur pada interaksi perlakuan lama pemanggangan dan
ketebalan kue sako-sako P1 (15 menit) : K1 (0,5 cm), P1 (15 menit) : K2 (1 cm),
P1 (15 menit) : K3 (1,5 cm), P2 (30 menit) : K1 (0,5 cm), P2 (30 menit)
: K2 (1 cm), P2 (30 menit) : K3 (1,5 cm), P3 (45 menit) : K1(0,5 cm), P3 (45
menit) : K2 (1 cm), P3 (45 menit): K3(1,5 cm), secara bertutut-turut 3,32,
3,70, 3,15, 3,23, 3,73, 3,13, 3,43, 3,58 dan 3,65. Purata untuk tekstur kue
sako-sako cetak yang paling terendah yaitu sebesar 3,15 dengan kriteria agak
suka dan yang tertinggi yaitu sebesar 3,73 dengan kriteria suka. Hasil ini
menunjukkan bahwa tingkat kesukaan panelis terhadap tekstur kue sako-sako cetak
pada semua perlakuan disukai. Manley (2000) melaporkan bahwa mutu utama produk cookies adalah kerenyahannya. Cookies memiliki kadar air 1-5% sehingga
teksturnya dapat menjadi renyah. Kerenyahan merupakan fungsi dari jumlah air
yang terikat pada matriks karbohidrat. Kandungan air yang tinggi membuat cookies tidak renyah dan tekstur kurang
disukai (Pratiwi, 2008). Brown (2000) menyatakan bahwa kadar air, kadar lemak
juga dapat mempengaruhi tekstur.
Aroma adalah aroma yang disebarkan
oleh makanan yang mempunyai daya tarik
yang merangsang indera pencium, sehingga dapat membangkitkan selera (Nida,
2011). Nilai untuk parameter aroma pada interaksi perlakuan lama pemanggangan
dan ketebalan kue sako-sako P1 (15 menit) : K1 (0,5 cm), P1 (15 menit) : K2 (1
cm), P1 (15 menit) : K3 (1,5 cm), P2 (30
menit) : K1 (0,5 cm), P2 (30 menit) : K2 (1 cm), P2 (30 menit) : K3 (1,5 cm),
P3 (45 menit) : K1 (0,5 cm), P3 (45 menit) : K2 (1 cm), P3 (45 menit) : K3 (1,5
cm), secara bertutut-turut 3,68, 3,55, 3,55, 3,57, 3,58, 3,57, 3,57, 3,53 dan
3,55. Purata untuk aroma kue sako-sako cetak yang terendah yaitu sebesar 3,53
dengan kriteria suka dan tertinggi yaitu sebesar 3,68 dengan kriteria suka.
Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat kesukaan panelis terhadap aroma kue
sako-sako cetak pada semua perlakuan disukai.
Warna merupakan salah satu aspek
penting dalam hal penerimaan konsumen terhadapa suatu produk pangan. Warna
dalam bahan pangan dapat menjadi ukuran terhadap mutu. Warna dapat digunakan
sebagai indikator kesegaran atau kematangan, baik tidaknya cara pencampuran
atau cara pengolahannya (Widayanti, 2011). Nilai untuk parameter warna pada
interaksi perlakuan lama pemanggangan dan ketebalan kue sako-sako P1 (15 menit)
: K1 (0,5 cm), P1 (15 menit) : K2 (1 cm),
P1 (15 menit) : K3 (1,5 cm), P2 (30 menit) : K1 (0,5 cm), P2 (30 menit)
: K2 (1 cm), P2 (30 menit) : K3 (1,5 cm), P3 (45 menit) : K1 (0,5 cm), P3 (45
menit) : K2 (1 cm), P3 (45 menit) : K3 (1,5 cm), secara bertutut-turut 3,23,
3,40, 3,05, 3,42, 3,48, 3,57, 3,87, 4,37 dan 3,50. Purata untuk warna yang
terendah yaitu sebesar 3,05 dengan kriteria agak suka dan tertinggi pada yaitu
sebesar 4,37 dengan kriteria sangat suka. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat
kesukaan panelis terhadap warna kue sako-sako cetak pada semua perlakuan
disukai. Sejalan dengan pendapat Tranggono, dkk (1989), bahwa kenampakan suatu
produk akan mempengaruhi ketertarikan konsumen terhadap produk tersebut. Dimana
jika pangan tidak dapat diterima secara
estetis (kenampakan), pangan tidak akan mendapat kesempatan untuk berperan pada
pemenuhan kebutuhan gizi seseorang. Menurut Andarwulan, Feri dan Dilan (2011),
bila warna produk tidak disukai atau dianggap menyimpang dari warna yang
seharusnya, maka konsumen biasanya tidak tertarik lagi untuk memberikan
penilaian yang baik terhadap mutu atribut lainnya. Kenampakan pada setiap
perlakuan yang diberikan menghasilkan nilai yang beda-beda.
Rasa merupakan tanggapan atas adanya
rangsangan kimiawi yang sampai pada indera pengecap lidah. Suatu produk dapat
diterima atau diminati konsumen jika mempunyai rasa yang diinginkan. Terdapat
lima dasar rasa yaitu manis, pahit, asam, dan umami (Setyaningsih et al, 2010). Nilai untuk parameter rasa pada interaksi perlakuan
lama pemanggangan dan ketebalan kue sako-sako P1 (15 menit) : K1 (0,5 cm), P1
(15 menit) : K2 (1 cm), P1 (15 menit) :
K3 (1,5 cm), P2 (30 menit) : K1 (0,5 cm), P2 (30 menit) : K2 (1 cm), P2 (30
menit) : K3 (1,5 cm), P3 (45 menit) : K1 (0,5 cm), P3 (45 menit) : K2 (1 cm),
P3 (45 menit) : K3 (1,5 cm), secara bertutut-turut 3,35, 3,52, 3,50, 3,23,
3,60, 3,23, 3,72, 3,67 dan 3,23. Purata untuk aroma yang terendahyaitu sebesar
3,23 dengan kriteria agak suka dan yang tertinggi yaitu sebesar 3,72 dengan
kriteria suka. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat kesukaan panelis terhadap
rasa kue sako-sako cetak pada semua perlakuan disukai.
2. Uji Skoring
Hasil uji
skoring untuk parameter tekstur, aroma, warna dan rasa kue sako-sako cetak
dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13. Diagram
Perlakuan Interaksi Lama Pemanggangan dan Ketebalan Terhadap Uji Skoring
Tekstur, Aroma, Warna dan Rasa Kue Sako-sako Cetak Khas Bima.
Berdasarkan Gambar 13.
Menunjukkan hasil uji skoring 20 panelis terhadap parameter tekstur, aroma,
warna dan rasa kue sako-sako cetak. Tabel purata (Tabel 23). Nilai untuk
parameter tekastur pada interaksi perlakuan lama pemanggangan dan ketebalan kue
sako-sako (Gambar 14) P1 (15 menit) : K1 (0,5 cm), P1 (15 menit) : K2 (1
cm), P1 (15 menit) : K3 (1,5 cm), P2 (30
menit) : K1 (0,5 cm), P2 (30 menit) : K2 (1 cm), P2 (30 menit) : K3 (1,5 cm),
P3 (45 menit) : K1 (0,5 cm), P3 (45 menit) : K2 (1 cm), P3 (45 menit) : K3 (1,5
cm), secara bertutut-turut 2,08, 2,23, 2,77, 2,35, 2,93, 3,07, 4,07, 3,17, dan
3,25. Purata tekstur yang terendah yaitu sebesar 2,08 dengan kriteria tidak
renyah dan tertinggi yaitu sebesar 4,07 dengan kriteria renyah. Hal ini
dikarenakan, semakin tinggi suhu dan lama waktu pemanggangan akan menyebabkan
penguapan air semakin besar. Semakin besar penguapan air pada snack food bars menghasilakan tekstur
yang kokoh, keras dan memadat (Kasim, 2005). Menurut Diniyah dkk (2012) semakin
besar penguapan air maka total padatan terlarut akan semakin meningkat yang
menyebabkan tekstur produk semakin keras dan memadat.
Nilai untuk
parameter aroma pada interaksi perlakuan lama pemanggangan dan ketebalan kue
sako-sako (Gambar 14) P1 (15 menit) : K1
(0,5 cm), P1 (15 menit) : K2 (1 cm), P1
(15 menit) : K3 (1,5 cm), P2 (30 menit) : K1 (0,5 cm), P2 (30 menit) : K2 (1
cm), P2 (30 menit) : K3 (1,5 cm), P3 (45 menit) : K1 (0,5 cm), P3 (45 menit) :
K2 (1 cm), P3 (45 menit) : K3 (1,5 cm), secara bertutut-turut 3,52, 3,02, 2,90,
2,93, 3,08, 2,85, 2,78, 2,88, dan 3,18. Purata untuk aroma yang terendah yaitu
sebesar 2,78 dengan kriteria aroma kelapa kuat dan yang tertinggi yaitu sebesar
3, 52 dengan kriteria Aroma kelapa agak kuat. Hasil ini menunjukkan bahwa
tingkat kesukaan panelis terhadap aroma kue sako-sako cetak pada semua
perlakuan beraroma kelapa. Hal ini sesuai dengan literatur (Kasim, 2005), snack food bars yang dihasilkan dominan
aroma khas kelapa sehingga disukai oleh panelis. Aroma khas VCO ditimbulkan
oleh senyawa nonil meta keton (Kataren 1986 dalam Fadillah 2014),
Nilai untuk
parameter warna pada perlakuan lama pemanggangan dan ketebalan kue sako-sako P1
(15 menit) : K1 (0,5 cm), P1 (15 menit) : K2 (1 cm), P1 (15 menit) : K3 (1,5 cm), P2 (30 menit) :
K1 (0,5 cm), P2 (30 menit) : K2 (1 cm), P2 (30 menit) : K3 (1,5 cm), P3 (45
menit) : K1 (0,5 cm), P3 (45 menit) : K2 (1 cm), P3 (45 menit) : K3 (1,5 cm),
secara bertutut-turut 2,40, 2,40, 2,63, 3,23, 3,12, 3,03, 3,03, 3,13 dan 2,77.
Purata warna yang terendah yaitu sebesar 2,40 dengan kriteria coklat muda dan
yang tertinggi yaitu sebesar 3,23 dengan kriteria cream. Hal ini diduga karena
panelis lebih menyukai kenampakan (warna) kue sako-sako cetak yang coklat dan
cerah serta panelis kurang menyukai warna kue sako-sako yang kenampakannya
coklat gelap. Hal ini sejalan dengan pendapat Lubis (2008), bahwa waktu
pengeringan terlalu lama dan suhu pengeringan yang terlalu tinggi dapat
menyebabkan pigmen-pigmen pada bahan pangan mengalami oksidasi, sehingga
menyebabkan bahan pangan berubah agak kecoklatan. Putri
(2015) menyatakan bahwa warna yang terdapat pada kukis terjadi akibat reaksi maillard. Saat pemanggangan asam amino
akan bereaksi dengan gula reduksi yang menghasilkan warna coklat. Menurut
Winarno (2004) reaksi maillard
merupakan reaksi antara gugus amino potein dengan gugus karbosil gula pereduksi
yang menyebabkan perubahan warna menjadi kecoklatan. Semakin banyak protein
yang terkandung pada bahan kemungkinan terjadinya reaksi maillard lebih besar sehingga warna kukis akan semakin coklat.
Nilai untuk
parameter rasa pada interaksi perlakuan lama pemanggangan dan ketebalan kue
sako-sako P1 (15 menit) : K1 (0,5 cm), P1 (15 menit) : K2 (1 cm), P1 (15 menit) : K3 (1,5 cm), P2 (30 menit) :
K1 (0,5 cm), P2 (30 menit) : K2 (1 cm), P2 (30 menit) : K3 (1,5 cm), P3 (45
menit) : K1 (0,5 cm), P3 (45 menit) : K2 (1 cm), P3 (45 menit) : K3 (1,5 cm),
secara bertutut-turut3,73, 3,63, 3,55, 3,48, 3,62, 3,60, 4,00, 3,70 dan 3,70.
Purata terendah yaitu sebesar 3,55 dengan kriteria gurih dan tertinggi yaitu
sebesar 4,00 dengan kriteria gurih. Menurut Winarno (1997), penyebab terjadinya
peningkatan rasa gurih dari suatu produk ditentukan oleh besarnya kandungan
protein dan lemaknya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil
analisa serta uraian pembahasan yang terbatas pada lingkup penelitian ini maka
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.
Interaksi
antara perlakuan lama pengovenan dan ketebalan kue sako-sako cetak memberikan
pengaruh yang beda nyata terhadap parameter kimia (kadar air, kadar lemak dan
kadar protein), parameter fisik (tekstur), mutu organoleptik metode hedonik
(tekstur, aroma, warna dan rasa), organoleptik metode skoring (tekstur dan
aroma).
2.
Interaksi
antara lama pengovenan dan ketebalan kue sako-sako cetak memberikan pengaruh
yang tidak beda nyata pada parameter kimia (kadar abu), parameter fisik (nilai
L dan nilai oHUE) dan organoleptik metode skoring (warna dan rasa).
3.
Pada
perlakuan lama pengovenan 45 menit dengan ketebalan 0,5 cm (P3K1) kue sako-sako
cetak merupakan perlakuan terbaik untuk parameter kadar air dan kadar lemak
yaitu 2,49% dan 31,39%. Sedangkan perlakuan lama pengovenan 15 menit dengan
ketebalan 1,5 cm (P1K3) merupakan perlakuan terbaik untuk kadar abu dan protein
yaitu sebesar 0,79% dan 6,29%.
4.
Pada
parameter fisik untuk tekstur kue sko-sako cetak perlakuan yang terbaik yaitu
pada lama pengovenan 45 menit dengan ketebalan 0,5 cm (P3K1) yaitu 1,10 kg/cm2 dan nilai kecerahan
72,56-75,04 yaitu yellow red.
5.
Pada parameter organoleptik kue sako-sako
dengan tekstur renyah, aroma kelapa, warna coklat dan rasanya gurih.
DAFTAR PUSTAKA
Andayani R. 2013. Diferivikasi Tepung
Cassava dalam Pembuatan Sagon, Kembang Goyang, dan Kecipir. Jurnal Khasanah Ilmu. Vol IV (1).
Andarwulan, N, Kusnandar, F,
Herawati, D. 2011. Analisis Pangan. Dian Rakyat. Jakarta.
Anjasari B. Yudi Gardina dan Farida
N.A., 2013. Pengaruh Perbandingan Tepung Ubi Jalar Dengan Tepung Ketan dan Suhu
Pemanggangan Terhadap Karakkteristik Cookies Sagon Kelapa. Skripsi. Fakultas Teknologi
Pangan. Universitas Pasudan. Bandung.
Asmarajati, T. 1999. Pengaruh Blanching dan Suplementasi Bekatul
terhadap Kualitas Cookies. Skripsi.
Fakultas Pertanian UNSOED. Purwokerto.
Badan Standarisasi Nasional Indonesia
(BNS). 2012. SNI 01-4475-1998. Tentang
Syarat Mutu Kue Kelapa. Badan Standarisai Nasional Indonesia. Jakarta.
Badan Standarisasi Nasional Indonesia
(BNS). 2009. SNI 3549-2009. Tentang Syarat Mutu Tepung Beras. Badan Standarisai
Nasional Indonesia. Jakarta.
Badan Standarisasi Nasional Indonesia
(BNS). 1994. SNI 0104-76. Tentang Syarat Mutu Garam. Badan Standarisai Nasional
Indonesia. Jakarta.
Departemen Kesehatan. 2005. Komponen
Zat Gizi Beras Giling per 100 Gram. Jakarta.
Estiasih, Teti, Ahmadi. 2009.
Teknologi Pengolahan Panga. Jakarta: Bumi Aksara.
Fellows, P. J. 1990. Food Prossesing
Technology Principles and Practice. Ellis Horwood Limited. New York.
Gustiar, H. 2009. Sifat Fisiko-Kimia
Dan Indeks Glikemik Produk Cookies Berbahan Baku Pati Garut (Maranta arundinacea L). Termodifikasi.
Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
Hellyer, J. 2004. Quality Testing with Instrumental Texture
Analysis in Food Manufactering. Diaksesada tangal 14 juli 2019.
Kaim, R., Siti A.L., Marleni L, dan
Fadhilah P.M. 2015. Pengaruh Suhu dan Lama Pemanggangan Terhadap Tingkat
Kesukaan dan Kandungan Gizi Snack Food Bars Berbahan Dasar Tepung Pisang Goroho
dan Tepung Ampas Tahu. Jurusan Ilmu dan Teknologi Pengolahan Pangan. Fakultas
Pertanian. Universitas Negeri Gorontalo.
Kartasapoetra, A. G. 1994. Teknologi
Penanganan Pasca Panen. Rineka Cipta. Jakarta. 252 hal.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi
Minyak dan Lemak Pangan. Universitas Indonesia, Jakarta. 315 hal. ISBN :
979-8034-05-8.
Muchtadi, T.R dan Sugiono. 2013.
Prinsip Proses dan Teknologi Pangan. Alfabeta: Bandung.
Nida, K. 2012. Faktor-faktor yang
Berhubungan dengan Sisa Makanan Pasien Rawat Inap di RSJ Sambang Lihum.
Skripsi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Banjar Baru.
Nuryanti S. 2012. Konsep Pengendalian
Mutu dan HACCP (Hazard Analyisis Critical Control Point) Di Usaha Kecil
Menengah Pembuatan Rangin Kering “Amanah”. Skripsi. Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret Surakarta. Surakarta.
Palupi, N.S, E. Prangdimurti, dan R.
Zakaria .2007. Pengaruh PengolahanTerhadap Nilai Gizi Pangan. Modul e-Learning
ENBP. Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB.
Rahmi. 2004. Pengaruh Perubahan Suhu
Oven terhadap Mutu Produk Biskuit Kelapa di PT Mayora Indah. Skripsi. Fakultas
Teknologi Pertanian, IPB. Bogor.
Rahayu, W.P. 1998. Penuntun Praktikum
Penilaian Organoleptik. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Riyansyah, A. Supriadin A, dan R.
Novianti .2013. Pengaruh Perbedaan Suhu dan Waktu Pengeringan Terhadap
Karakteristik Ikan Asin Sepat Siam (Trichogaster
pectoralis) dengan Menggunakan Oven.
Rosmisari, A. 2006. Tepung Jagung
Komposit, Pembuatan dan Pengolahannya. Bogor : Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Pascapanen Pertanian.
Saparinto, Cahyo dan Diana Hidayati.
2006. Bahan Tambahan Pangan. Yogyakarta : Kanisius.
Sastrosupadi, A., 2004. Rancangan
Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Ed. Revisi. Kanisius, Yogyakarta.
Susanto, T. dan B. Saneto, 1994.
Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. Bina Ilmu, Surabaya.
Suhardiyono, L., 1988. Tanaman Kelapa, Budidaya dan
Pemanfaatannya. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. 153-156.
Palungkun, R., 1992. Aneka Produk
Olahan Kelapa. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sudarmaji. S. dkk. 1997. Prosedur
Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta.
Sudarmaji S. 2010. Analisa Bahan
Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Liberty Yogyakarta.
Sarifudin, Achmad dan Riyanti
Ekafitri. 2015. Karakteristik Sifat Fisiko K imia dan Thermal Serta Penerimaan
Organoleptik Kue Sagon Berbasis Tepung Pisang. Jurnal Penelitian Pasca Panen. Volume 12 (1). Halaman 27-37.
Setyanigsih, Dwi, Anton Apriyantono,
dan Maya Puspita Sari. 2010. Analisis Sensori untuk Industri Pangan dan Agro.
IPB press : Bogor.
Sitoresmi, M.A. 2012. Pengaruh Lama
Pemanggangan dan Ukuran Tebal Tempe Terhadap Komposisi Proksimat Tempe Kedelai,
Program Studi S1 Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah :
Surakarta.
Utomo, A. W. 2016. Pengembangan
Ensiklopedia Makanan Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta :
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Winarno, F.G., 1993. Pangan Gizi
Teknologi dan Konsumen. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Winarno, F.G., 1980. Enzim Pangan.
Pusbangtepa. Bogor.
Winarno, F.G., 2004. Kimia Pangan dan
Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Wisti C. 2011. Pembuatan Kue Kering
dengan Tepung Ubi Jalar Ungu (Ipoema
Batatas Poiret). Skripsi. Fakultas Tenik. Jurusan Teknologi Jasa dan
Produksi. Universitas Negeri Semarang. Semarang.
Wulandari, E.S. 2018. Pengaruh
Blansing Dan Lama Pemanggangan Terhadap Karakteristik Cookies Gayong (Canna Edulis
Ker.) Difortifikasi Iodium. Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Teknik
Universitas Pasudan.
Zuhra, S. dan C. Erlina. 2012.
Pengaruh Kondisi Operasi Alat Pengeringan Semprot terhadap Kualitas Susu Bubuk
Jagung. Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan. Vol. 9. No,1. Hal 36-44. Jurnal
Teknik Kimia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar