ABSTRAK
Penelitian ini
sangat bertujuan untuk untuk, (1). Memberi semangat kepada para pembaca agar
dapat menjaga dan melestarikan budaya yang sudah diwariskan oleh leluhur dan
nenek moyang, (2). Melestarikan budaya atau peningalan nenek moyang khususnya
seperti naskah kuno.
Naskah kuno merupakan salah satu
warisan budaya di masa lampau yang berharga dan mengandung berbagai nilai dan
informasi penting yang telah terjadi di masa lampau. Dengan demikian dapat
diketahui bagaimana pola pikir yang berkembang dan kehidupan masyarakat pada
masa lampau. Tembang sinom merupakan satu dari
7 jenis tembang yang ada di Sasak yaitu Tembang Dang-dang, Temabang
Sinom (Nasehat), Tem bang Pangkur (wejangan/pembicaraan tua), Tembang Durma
(kisah peperangan), Tembang Kasmarandane (kisah romantik) dan Tembang
Maskumambang (kisah suka-duka). Naskah kuno dengan cerita Labang Kare ini
merupakan salah satu karya sastra yang menjadi peninggalan para leluhur yang
masih bisa dikaji dan diteliti karena kondisi naskah dan isisnya yang masih
relevan di masa sekarang khususnya bagi sebagian masyarakat Sasak. seperti
yang sudah diketahui bahwa mempelajari dan melestarikan naskah kuno merupakan
suatu kewajiban yang sangat penting untuk mahasiswa, agar naskah kuno tidak
terlupakan oleh zaman dan selalu dikenang.
Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan cakap, yaitu peneliti
menyimak apa saja informasi atau cerita yang diberikan oleh narasumber serta
bertanya apa saja kandungan yang ada didalam naskah kuno, serta peneliti
melakukan dokumentasi untuk memperkuat adanya bukti khususnya Mahasiswa Jurusan
Bahasa Indonesia semester 5 telah memenuhi tugas akhir mata kuliah filologi.
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Naskah
kuno merupakan salah satu bentuk warisan budaya dari nenek moyang atau leluhur,
yang mempunyai makna atau arti yang berbeda-beda tergantung nama dan daerah
tempat naskah kuno ditemukan. Naskah kuno merupaka aksara kawi dan arab melayu
yang masih dilestarikan hingga saat ini, tentunya Naskah kuno sangat
berpengaruh penting dalam dunia perkuliahan khususya Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia karena penelitian ini merupakan salah satu bentuk tugas untuk
menyelesaikan perkuliahan pada semester ini. Penulis melakukan sebuah
penelitian yaitu mencari apakah masih ada pegiat budaya yang masih menyimpan
atau melestarikan naskah kuno sampai saat ini. Hingga pada hari Selasa, 22
Oktober 2019 jam 10:30 penulis beserta rekan-rekan berangkat dari mataram
menuju lombok tengah dengan hanya bermodalkan google maps atau yang sering
disebut dengan GPS untuk mencari alamat atau rumah salah satu pegiat yang masih
menyimpan naskah kuno, sebelum penulis berangkat menuju rumah pegiat pada malam
hari nya penulis bertanya pada salah satu rekan yang bersal dari jurusan yang
sama kemudian dia memberikan informasi seputar narasumber atau pegiat yang aka
penulis tuju dan memberikan nomor hp atau kontak yang bisa dihubungi. Sebelum
berangkat penulis dahulu mengirim sms atau konfirmasi kedatangan kepada pegiat naskah kuno, setelah beberapa
jam kemudian penulis mulai melakukan perjalanan dari arah mataram yaitu
melawati jalan bypass dan kecepatan kendaraan yang lajunya sangat tinggi agar
dapat memperirit waktu, setelah beberapa jam kami sampai di bundaran gerung
kami menghentikan motor lalu kemudian istirahat sejenak hanya untuk membeli
minum guna untuk menghilangkan haus dan lelah selama perjalanan, dan beberapa
ment setelahnya kamipun mulai beranjak lagi menyelusuri jalan hingga sampai
dilombok tengah penulis bertanya kepada salah satu warga mengenai alamat yang
sebelumnya sudah diberikan oleh narasumber dan pegiat naskah kuno namun
hasilnya penulis sudah sangat jauh kelewatan dari desa yang akan ditiju, tidak
mengambil waktu lama penulis akhirnya kembali dan menulusi desa demi dan desa
dan bertanya disetiap warung dan toko dan pada akirnya penulis mendapat
inisiatif untuk turun pada salah satu desa dan bertanya kepada para petani yang
sedang memanen semangka apakah ia mengetauhi rumah pegiat yang masih menyimpan
naskah kuno, kemudian salah satu dari petani itu tau akan pegiat namun nama
yang sering dipanggil untuk pegiat ini adalah “Bapak putri”, petani itu memberi
tahu penulis bahwa rumah pegiat ini berada disebelah kanan jalan dari kebun
tempat kami bertanya, tak lama setelah itu kami akhirnya tiba di rumah pegiat
atau narasumber pada jam 11:30 dengan perjuangan yang lumayan menantang dan
melelahkan , sesampai kami disana penulis beserta rekan-rekan disambut dengan
ramah oleh isteri narasumber, kami
dipersilahkan masuk dan duduk bahkan kami disajikan minuman sembari menunggu
narasumber pulang dari sekolah, isteri dari narasumber merupakan pendatang yang
ebrasal dari Ntt ia menceritakan kami sedikit perjalanan kisah cinta sampai
akhirnya ia menikah dengan narasumber.
Tak lama
kemudian narasumber pun datang setelah beberapa kali ditelfon oleh isterinya ,
kami pun bangun menyambut kedatangannya dan mulai memperkenalkan diri, beliau
adalah pak “Mujahidunnafis, Spd.” Berasal dari desa Bangket perak, yang juga
termasuk wilayah desa marong dan kecamatan pujut desa lombok tengah. Beliau
juga termasuk guru di salah satu SMP dekat rumahnya dan sekaligus pengoleksi
benda-benda kuno atau pusaka yang berjenis keris dan sebagainya.
Pak
mujahid mengambil naskah yang ingin penulis tanyakan, beliau lalu mulai membua
naskah tersebut dan menjelaskan satu persatu tembang yang ada di setiap naskah,
lalu pertama pak mujahid membuka salah satu naskah kuno yang berjudul “Dewi Rengganis”
naskah tersebut merupakan salah satu contoh tembang Maskumambang yaitu (tembang
yang berisi dan meceritakan percintaan) tentang suka cita maupun duka cita
namun penulis tidak akan menjelaskan secara lebar mengenai naskah Dewi
Rengganis karea tapesan ini merupakan salah satu naskah yang sangat famelliar
atau terkenal menurut penulis secara pribadi. Kemudian penulis meminta naskah
kuno lain dan pak mujahid mengambil naskah lain yang berjudul ‘Hiayat Nur” pak
mujahid mmebuka hikayat nur kemudian menembang dan membaca tapesan yang juga
sering disebut dengan hikayat nabi.
Hikayat
Nur menceritakan tentang nabi yang sedang bercukur, dan warga pujut yakin akan
hikayat nur bisa dijadikan obat (jimat) untuk mengobati orang gila atau stres,
bisa untuk menyuburkan padi yang kering agar bisa cepat dipanen dan tata
caranya dengan mengambil air lalu dikelilingi dipadi pada malam jum’at. Selain
iu juga diyakini sebagai jimat untuk orang yang singu (sakit parah) yang menuju
sakaratul maut.
Konon usia
setiap Naskah kuno tidak bisa diketauhi dan penulisnya pun tidak diketauhi
karena tidak ingin di sebut atau diumbar, dan peulis dari hikayat nur merupakan
wali yang tidak ingin dikenang.
B.
Rumusan
Masalah
Berkaitan
dengan penelitian, maka penulis perlu merumuskan masalah yang menjadi fokus
dalam penelitian ini adapun rumusan masalah dalam penelitian adalah Bagaimana
kaitan Naskah Kuno dengan kehidupan sehari-hari serta bagaimana kepercayaan
masyarakat sekitar dan dalam penelitian ini penulis dan narasumber melakukan
tradisi nyeput menggunakan takepan labengkare yang menurut narasumber takepan
tersebut khusus dignakan dalam tradisi nyeput dan jika dikaji dengan
menggunakan metode atau pendekatan sosiologi sastra.
C.
Tujuan
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetauhi sejauh bagaimana perkembangan dan pelestarian
Naskah Kuno di kalangan masyarakat dan bagaimana kaitan naskah kuno dalam kehidupan
sehari-hari serta sejauh mana masyarakat masih meyakini tradisi nyeput.
BAB II
TINJAUN PUSTAKA
A.
Penelitian
Yang Relevan
Naskah
kuno merupakan objek penelitian dari
suatu cabang ilmu yaitu fiologi. Menurut
KBBI, naskah kuno merupakan karangan yang masih di tulis dengan tangan yang belum diterbitkan. Sedangkan menurut
Baried dalam Venny Indria Ekowati (2003) naskah adalah tulisan tangan yang
menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya bangsa
masa lampau.
Setelah penelti mencari beberapa kajian dan
bahan-bahan atau sumber pustaka tentang perkembangan pelestarian naskah kuno,
peneliti menemukan peneletian serupa yang membahas atau mengkaji naskah kuno,
atara lain:
1.
Penelitian
yang dikaji oleh Yona
Primadesi yang berjudul, “Peran Masyarakat Lokal
dalam Usaha Pelestarian Naskah-Naskah Kuno Paseban”. Dalam penelitiannya, ia
membahas bagaimana peran masyarakat lokal dalam usaha pelestarian naskah-naskah
kuno yang ada di paseban. Perjalanan peradaban manusia pada masa lalu di ranah
minang tidak banyak meninggalkan kabar dalam bentuk naskah-naskah tercetak,
yang berbeda dari kebudayaan Melayu dan Jawa (Supriadi, 2001). Hal ini didukung
oleh tradisi lisan yang ada di Minangkabau “kaba babarito” yang mengungkap
sesuatu pesan dari mulut ke mulut. Hanya sebagian kecil pesan yang digambarkan
dalam media tercetak atau dalam bahasa tertulis.
Pada beberapa tempat di
Minangkabau atau Sumatera Barat secara umum, dapat ditemukan berita tercetak
atau terekam dalam bahasa tulis sebagai peninggalan para leluhur. Umumnya
naskah tua tersebut adalah berupa kitab-kitab tasawuf dan buku-buku ajaran
agama, baik yang sudah dicetak maupun ditulis tangan secara manual. Kerisauan
yang mengemuka saat ini adalah bahwa kebanyakan naskah-naskah tua atau media
tercetak yang ditinggalkan tersebut tidak lagi terpelihara dengan baik.
Bukti-bukti menunjukkan bahwa sebagian besar sudah hilang dan tidak dapat
dipahami lagi isinya (Sindunegara, 1997). Berbagai upaya untuk pelestarian
(preservasi) naskah-naskah tua tersebut perlu segera dilakukan. Dalam konteks
keilmuan, kajian terhadap naskah-naskah tua sebagai bentuk peradaban manusia
masa lalu yang dapat dipahami pada masa sekarang sudah ditempatkan sebagai
sebuah ilmu baru yakni Filologi. Salah satu naskah tua yang masih terpelihara
sampai saat ini adalah kitab-kitab Tasawuf dan bukubuku ajaran agama di Mushala
Paseban Kota Padang, yang selanjutnya di sebut dengan naskahnaskah tua Paseban.
Terpeliharanya naskah-naskah tua Paseban, menunjukkan bahwa masyarakat lokal
daerah tersebut memiliki energi dan kepedulian.
Naskah-naskah kuno merupakan
warisan dari sebuah peradaban manusia yang terakumulasi dari sebuah budaya
kehidupan masyarakat masa lalu. Selain itu, naskah-naskah kuno mengemban isi
yang sangat kaya. Kekayaan tersebut dapat ditunjukkan oleh aneka ragam aspek
kehidupan yang dikemukakan, seperti maslah sosial, politik, ekonomi,
agama,kebudayaan, bahasa, dan sastra. Apabila dilihat dari sifat
pengungkapannya, naskah-naskah kuno isinya mengacu kepada sifatsifat historis,
didaktis, religius, dan belletri. (Barried, 1985:4).
2. Penelitian
yang dikaji oleh Fetty Rodiyah Kususma
Dewi pada taggal, 18 Desember 2016 yang berjudul “Pelestarian Naskah Kuno
Di Perpustakaan” ia membahas bagaimana Naskah Kuno harus tetap dilestarikan
karena naskah kuno menyimpan kearifan lokal yang menggambarkan sejarah
kebinekaan Indonesia. Tujuan pelestarian naskah kuno yaitu untuk menyelamatkan
nilai informasi didalam naskah kuno, menyelamatkan fisik naskah kuno dan
mengatasi kendala keterbatasan ruangan diperpustakaan.
Untuk melestarikan
naskah-naskah kuno yang dimiliki oleh perpustakaan maka ada dua hal yang harus
diperhatikan yaitu:
Ø Preservasi
Fisik Naskah Kuno
yaitu dengan melakukan
konservasi dan retorasi. Konservasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk
melindungi koleksi dari kerusakan dan kehancuran, sedangkan Retorsi adalah
kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki koleksi yang rusak sehingga dapat
digunakan kembali.
Ø Preservasi
Teks Dalam Naskah
Pelestarian terhadap isi
naskah dapat dilakukan dengan digitalisasi, katalogisasi, dan riset, serta
disalin (ditulis ulang), dialih aksarakan, dan diterjemahkan.
Peneliti juga memfokuskan
hasil penelitian nya menggunakan pendekatan pragmatik.
B.
Sejarah
Pendekatan Pragmatik
Pada
tahun 1960 muncul dua orang tokoh ilmu sastra di Jerman Barat kedua tokoh itu
adalah Hans Robert dan Wolfgangler. Keduanya mengembangkan ilmu sastra yang
memberikan penekanan terhadap pembaca sabagai pemberi makna karya satra. Pada
tahun 1967 (Teeuw, 1984: 5) ia mengatakan bahwa penelitian sejarah di Eropa
sejak lama telah melalui jalan buntu. Hal ini karena pendekatan penulisan
sejarah sastra tidak berdasarkan situasi zaman sejak zaman Romantik, dengan
adanya paham Nasionalisme, maka pendekatan penulis sejarah sastra
disejajarkan dengan sejarah nasional, dan pendekatan lain yang tidak
menghiraukan dinamika sastra terus menerus, entah pada suatu bangsa, suautu
periode, suatu angkatan dan suatu zaman. Tokoh utama dalam karya sastra yang
menekankan peranan pembaca ialah Hans Robert Jousz dalam makalahnya yang bejudul
literature alas provocation (sejarah sastra sebagai tantangan). Ia melancarkan
gagasan-gagasan baru yang sempat menggoncangkan dunia. Ilmu sastra tradisional
setelah memberi ringkasan mengeanai sejarah sastra antara lain dari aliran
marsisme dan formalisme. Menghilangkan faktor yang terpenting dalam proses
semiotik yang disebut kesusastraan sastra, dan sikap komunikasinya yang mrnggambarkan
hubungan dialog dan proses antara karya sastra dan pembaca. Yaitu pembacalah
yang menilai, menafsirkan, memahami dan menikmati karya sastra untuk menentukan
nasib dan peranannya dari segi sejarah dan estetis.
Peneliti sejarah sastra juga bertugas menelusuri resepsi karya sastra
sepanjang zaman, keindahan dalah pengertian yang bergantung pada situasi dan
latar belakang sosio budaya sipembaca dan ilmu sastra harus meneliti hal itu.
C.
Landasan
Teori
1.
Pengertian
pendekatan pragmatik
Secara umum
pendekatan pragmatik merupakan pendekatan kritik sastra yang ingin
memperlihatkan kesan dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra dalam zaman
ataupun sepanjang zaman. Sedangkan menurut para ahli mendefinisakan pendekatan
pragmatik adalah sebagai berikut:
·
Menurut
Abram (1958: 14-21) pendekatan pragmatic merupakan perhatian utama terhadap
pesan pembaca. Dalam kaitannya dengan salah satu terori modern yang paling
pesat perkembangannya yaitu teori resepsi.
1.
Pendekatan
pragmatik dengan demikian memberikan perhatian pada pergeseran dan funsi-fungsi
baru pembaca tersebut. Secara historis (Abrams, 1976: 16) pendekatan pragmatic
sudah ada sejak tahun 14 SM, terkandung dalam Ars Poetika (Hoatius). Meskipun
lahirnya sekularisme memerlukan indicator lain sebagai pemicu proses estetis yaitu
pembaca (Mukarovsky). Metode pendekatan pragmatik
Peneliti
resepsi pembaca terhadap karya sastra dapat menggunakan beberapa metode
pendekatan, antara lain pendekatan yang bersifat eksperimental, melalui karya
sastra yang terikat pada masa tertentu da nada pada golongan masyarakat
tertentu.
a.
Kepada
pembaca, perorangan tau kelompok disajikan atau diminta pembaca karya satra
sejumlah pertanyaan dalam teks atau angket yang berisi tentang permintaa,
tanggapan, kesan, penerimaan terhadap karya yang dibaca tersebut untuk disi
jawaban-jawaban itu kemudian ditabulasi dan dianalisis.
b.
Kepada
pembaca perorangan atau kelompok. Diminta pembaca karya satra, kemudian ia
diminta untuk menginterpretasikan kara sastra tersebut. Interpretasi-interpretasi
yang dibuat tersebut dianalisis secara kualitatif untuk melihat bagaimana
penerimaan atau tanggapan terhadap karya sastra.
c.
Kepada
masyarakat tertentu diberikan angket untuk melihat prestasi mereka terhadap
karya sastra, misalnya melihat prestasi sekelompok kritikus terhadap
kontemporer prestasi terhadap kontemporer presepsi masyarakat tertentu terhadap
karya sastra daerahnya sendiri.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian kali ini, peneliti akan
membahas atau menganalisi mengenai naskah kuno, dengan menggunakan dua metode
dalam penelitian ini, yaitu metode simak dan metode cakap.
1. Metode Simak merupakan metode yang
dilakukan dengan penyimakan, yang disejajarkan dengan metode observasi (wawancara).
Metode simak menurut Sudaryanto (1993:133)
mencakup teknik sebagai berikut: (1) teknik sadap, secara praktis metode simak
dilakukan dengan penyadapan. Seorang peneliti dalam rangka mendapatkan data, ia
harus menggunakan kecerdikannya untuk menyadap pembicaraan informan; (2) teknik
simak libat cakap, dalam kegiatan menyadap seorang peneliti harus
berpartisipasi dalam pembicaraan dan menyimak pembicaraan, sehingga peneliti
melakukan dialog secara langsung dengan informan. Keikutsertaan peneliti
bersifat fleksibel, yaitu seorang peneliti dapat bersifat aktif maupun
reseptif, dikatakan aktif apabila seorang peneliti aktif berbicara dalam proses
dialog, sedangkan bersifat reseptif apabila seorang peneliti karena faktor
subyektif maupun objektif hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh informan;
(3) teknik simak bebas libat cakap, dalam teknik ini seorang peneliti tidak
dilibatkan secara langsung untuk ikut menentukan pembentukan dan pemunculan
calon data kecuali hanya sebagai pemerhati terhadap calon data yang terbentuk
dan muncul dari peristiwa kebahasaan yang berada diluar dirinya; (4)
teknik rekam, dalam hal ini peneliti berusaha merekam pembicaraan dengan
informan yang dilakukannya tanpa sepengetahuannya, serta digunakan sebagai
bukti penelitian; (5) teknik catat, disamping perekaman penelitian ini juga
menggunakan teknik catat pada kartu data yang dilanjutkan pada klasifikasi
data.
Metode penyediaan data
ini diberi nama metode simak karena cara yang digunakan untuk memperoleh data
dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Istilah menyimak di sini tidak
hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan
bahasa secara tertulis. Metode ini memiliki teknik dasar yang berwujud teknik
sadap. Teknik sadap disebut sebagai teknik dasar dalam metode simak, karena
pada hakikatnya penyimakan diwujudkan dengan penyadapan. Dalam arti, peneliti
dalam upaya mendapatkan data dilakukan dengan menyadap penggunaan bahasa
seseorang atau beberapa orang yang menjadi informan. Perlu dikatakan bahwa
menyadap penggunaan bahasa yang dimaksudkan menyangkut penggunaan bahasa baik
secara lisan maupun secara tertulis. Penyadapan penggunaan bahasa secara lisan
dimungkinkan jika peneliti tampil dengan sosoknya sebagai orang yang sedang
menyadap pemakaian bahasa seseorang (yang sedang berpidato, berkhotbah dan
lain-lain) atau beberapa orang yang sedang menggunakan bahasa atau
bercakap-cakap, sedangkan penyadapan penggunaan bahasa secara tertulis, jika
peneliti berhadapan dengan penggunaan bahasa bukan orang yang sedang berbicara
atau bercakap-cakap, tetapi berupa bahasa tulis, misalnya naskah-naskah kuno,
teks narasi, bahasa-bahasa pada media massa dan lain-lain. Dalam praktik
selanjutnya, teknik sadap ini diikuti dengan teknik lanjutan yang berupa teknik
simak libat cakap, simak bebas libat cakap, catat, dan teknik rekam.
Ø Teknik simak libat
cakap maksudnya si peneliti melakukan penyadapan dengan cara berpartisipasi
sambil menyimak, berpartisipasi dalam pembicaraan, dan menyimak pembicaraan.
Dalam hal ini, si peneliti terlibat langsung dalam dialog. Adapun teknik simak
bebas libat cakap, maksudnya si peneliti hanya berperan sebagaipengamat
penggunaan bahasa oleh para informannya. Dia tidak terlibat dalam peristiwa
pertuturan yang bahasanya sedang di teliti.
Ø Teknik simak bebas
libat cakap, maksudnya si peneliti hanya berperan sebagai pengamat penggunaan
bahasa oleh para informannya. Dia tidak terlibat dalam peristiwa pertuturan
yang bahasanya sedang di teliti. Apabila pada teknik simak libat cakap si
peneliti ikut menentukan pembebtukan dan pemunculan calod dat, maka pada teknik
simak bebas libat cakap ini si peneliti tidak berperan untuk hal itu. Ia hanya
menyimak dialog yang terjadi anta rinforman nya.
Ø Teknik catat adalah
teknik lanjutan yang dilakukan ketika menerapkan metode simak dengan teknik
lanjutan di atas. Hal yang sama, jika tidak dilakukan pencatatan, si peneliti
dapat saja melakukan perekaman ketika menerapkan metode simak dengan kedua
metode lanjutan di atas.
Ø Teknik rekan
dimungkinkan terjadi jika bahasa yang diteliti adalah bahasa yang masih
dituturkan oleh pemiliknya.
Keempat teknik di atas
dapat digunakan secara bersama-sama jika penggunaan bahasa yang disadap yang
disadap ituberwujud secara lisan. Sementara itu, apabila peneliti berhadapan
dengan penggunaan bahasa secara tertulis dalam penyadapan itu peneliti hanya
dapat menggunakan teknik catat sebagai gandengan teknik simakbebas libat cakap,
yaitu mencatat beberapa bentuk tang relevan bagi penelitiannya dan penggunaan
bahasa secara tertulis tersebut.
Dalam penelitian
bahasa, baik bidang linguistik teoritis mupun linguistik interdisipliner,
metode simak memainkan peran yang sangat penting untuk mengecek kembali
penggunaanbahasa yang diperoleh dengan metode cakap. Tidak jarang dimulai dalam
penelitian bahasa, misalnya bidang dialektologi, informan, karena alasan
tertentu, misalnya malu dianggap isoleknya kurang berprestise lalu cenderung
memberi keterangan tentang suatu bentuk yang lebih berprestise (dialek
standar), padahal sesungguhnya tidak dapat dalam isoleknya. Untuk mengatasi hal
itu, peneliti dapat melakukan dengan menyadap penggunaan bahasa para informan
tanpa sepengetahuan mereka.
Selanjutnya,
penggunaan metode simak yang berkaitan dengan penggunaan bahasa secara tertulis
dimungkinkan jika bahasa yang dialek atau subdialeknya yang diteliti itu
memiliki naskah-naskah kuno, yang menunjukkan penggunaan bahasa tersebut pada
masa lampau, seperti bahasa-bahasa rumpun Indo-Eropa, bahasa Jawa, Bali, Sunda,
dan lain-lain. Penggunaan data dengan memanfaatkan naskah-naskah kuno ini dapat
membantu dalam menjelaskan perubahan-perubahan yang dialami pada fase-fase
tertentu oleh suatu subdialek, dialek (untuk meneliti bidang dialektologi
diakronis), atau bahasa (untuk penelitian bidang linguistik historis
komparatif).
2. Sedangkan Metode cakap adalah: Penamaan metode cakap disebabkan oleh cara
yang ditempuh dalam pengumpulan data yang berupa percakapan antara peneliti dan
informan. Adanya percakapan antara peneliti dan informan mengandung arti
terdapat kontak antarmereka, karena itulah data diperloeh melalui penggunaan
bahasa secara lisan. Metode cakap memiliki teknik dasar berupa teknik pancing,
karena percakapan yang diharapakan sebagai pelaksanaan metode tersebut hanya
dimungkinkan muncul jika peneliti memberi stimulasi (pancingan) pada informan
untuk memunculkan gejala kebahasaan yang diharapkan oleh peneliti. (Mahsun
2005:93-94)
Metode cakap merupakan metode yang
dilakukan dengan jalan melakukan percakapan dan terjadi kontak antara peneliti
dengan informan, metode ini dapat disejajarkan dengan metode wawancara. Menurut
Sudaryanto (1993:137) metode cakap meliputi teknik sebagai berikut: (1) teknik
pancing, secara praktis metode cakap diwujudkan dengan cara pemancingan,
peneliti untuk mendapatkan data harus memancing seseorang agar mau
berbicara; (2) teknik rekam dan teknik catat, ketika peneliti melakukan
kegiatan penelitian, maka peneliti secara langsung melakukan perekaman,
kemudian diikuti pencatatan pada buku catatan; (3) teknik cakap semuka,
kegiatan memancing agar informan mau melakukan pembicaraan pertama langsung,
atau bersemuka dengan informan. Dalam hal ini, percakapan dikenali peneliti dan
diarahkan sesuai dengan kepentingannya, yaitu memperoleh data
selengkap-lengkapnya.
Menurut Mahsun (2005:94-101) ada
beberapa teknik yang dapat digunakan dalam memancing data yang diharapkan dari
informan oleh seorang peneliti dengan menggunakan teknik cakap semuka sebagai
teknik bawahan.
BAB IV
PEMBAHASAN
Deskripsi Data
Dalam penelitian tentang Naskah
Kuno, peneliti meneliti naskah yang telah diberikan pegiat atau informan dengan
naskah yang berjudul Labangkare. Naskah
labangkare ini sebetulnya merupakan simbol nama seseorang, tetapi ini juga
merupakan akronim dari lambing perkare (labangkare).
Dan Naskah Labangkare ini
menceritkan tentang tokoh Labangkare yang kuat yang menjadi abdi suatu
kerajaan. Karena sosoknya yang kuat Labangkare menjadi kepercayaan sang Raja
dari kerajaan tersebut. Naskah Labangkare ini secara garis besar menceritakan
tentang Labangkare yang mencari seorang putri yang ada dalam mimpi sang Raja.
Dalam mimpi sang Raja, putri tersebut sangat cantik dan jika Raja ingin
menemukan Putri dalam mimpinya, Putri dalam mimpinya hanya bisa ditemukan oleh Labangkare
sehingga Raja memerintahkan Labangkare untuk mencari putri tersebut dan
membawanya pulang ke hadapannya.
Pada proses penelitian ini, peneliti juga
melakukan proses nyeput yang masih menjadi tradisi orang lombok khususnya
(sasak). Nyeput atau seput sejatinya berarti menjemput. Menjemput dalam artian
mencari jalan pintas untuk mengatahui takdir Allah kepada insan manusia, dan
Asal kata nyeput itu dari kata menjeput ( gercep)
Acara nyeput merupakan tradisi di lombok, untuk mengukur apa yang akan
terjadi di masa depan (gambaran) dalam menempuh hidup di masa yang akan datang
contoh seperti seorang yang akan membuka bisnisnya , bagaimana proses yang akan
dilaluinya pada masa yang mendatang apakah dia akan sukses atau rugi ( tidak
berhasil) dalam usahanya.
Dan ada juga seorang yang mewakilkan dirinya menjadi calon bupati ia akan
melaksanakan tradisi nyeput untuk menjadi tolak ukur apakah dia akan berhasil
atau tidak dalam proses mencalonkan dirinya.
Takepan yang biasa dijadikan untuk nyeput hanya lontar labangkare, takepan
yusuf.
Dalam proses menyeput diawali dengan membaca shalawat 3 kali kemudian
membaca bismillah setelah itu mencabut naskah dengan tangan kiri untuk memilih
lembaran naskah mana yang akan di seput.
Kemudian akan dibacakan oleh bapak yang sudah menekuni profesi nyeput
(sesepuh)
Dan pada kesempatan kali ini, peneliti dianjurkan membuka salah satu
takepan untuk melihat apa yang terjadi di masa depan dan bagaimana jalan yang
akan peneliti tempuh dalam masa depannya.
Dalam proses menyeput diawali dengan
membaca shalawat 3 kali kemudian membaca bismillah setelah itu mencabut naskah
dengan tangan kiri untuk memilih lembaran naskah mana yang akan di seput.
Kemudian akan dibacakan oleh bapak yang
sudah menekuni profesi nyeput (sesepuh)
Dan pada kesempatan kali ini, peneliti
dianjurkan membuka salah satu takepan untuk melihat apa yang terjadi di masa
depan dan bagaimana jalan yang akan saya tempuh dalam masa depannya.
Nah kebetulan peneliti mendapatkan salah
satu tembang, yaitu (tembang asmarandane) yaitu tembang yang isinya berkaitan
dengan asmara atau percintaan.
Terkait dengan lokasi
penelitian yang dilakukan peneliti
mengenai naskah kuno berada disebuah desa yang bernama Desa Bangket
Perak (Marong), Kecamatan Pujut , Lombok Tengah yang merupakan salah satu
destinasi lombok yang terkenal, karena memiliki sejumlah pantai sangat indah
dilengkapi pasir putih , dan saat ini juga lombok tengah akan menjadi area
balap motor (sirkuit) namun Lombok tengah juga merupakan salah satu bagian
pulau lombok yang paling panas, dan juga terkenal dengan daerah rawan begal
(perampok), karena minimnya penghasilan dan banyak nya pengangguran sehingga
sebagian kecil masyarakat lombok tengah mengambil profesi altertanatif yaitu
sebagai begal. Namun sebagian masyarakatnya juga mengabdikan sebagai guide atau
tour travell bagi touris macan negara, dan tamu luar daerah.
Lombok Tengah juga merupakan salah satu
kabupaten di Pulau Lombok yang menjadi salah satu destinasi/daerah tujuan
wisata di Pulau Lombok. Pembangunan dan pengembangan KEK di wilayah ini
meliputi areal seluas 1.175 ha yang tersebar di Desa Kuta, Desa Sukadana dan
Desa Tumpak. (Kawasan Ekonomi Khusus) menandai semakin berkembangnya pariwisata
di Kecamatan Pujut. Di sisi lain, kondisi pertanian di wilayah ini masih
dihadapkan dengan berebagai permasalahan, padahal sebagian besar penduduknya
selama ini menggantungkan hidup di sektor pertanian. Permasalahan tersebut
adalah keterbatasan air untuk kebutuhan pertanian sehingga produktifitas
pertanian cukup rendah, sementara itu wilayah Kecamatan Pujut memiliki potensi
alam bahari yang sangat potensial dan besar di bidang pariwisata sehingga
menjadi salah satu daerah pusat pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di
Indonesia. Hal ini yang mendorong rumah tangga petani bekerja di sektor
pariwisata baik sebagai pengrajin songket, pedangang, pemandu wisata, maupun
sebagainya. Pekerjaan- pekerjaan dilakukan selain untuk memanfaatkan waktu
luang di sektor pertanian juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi
pendapatan rumah tangga petani. Dan menanggulangi begal yang yang masih beredar.
Analisis Naskah
Lombok merupakan kebudayaan yang kaya akan naskah
kuno. Naskah-naskah tersebut kebanyakan mempunyai nilai tinggi dan bisa
dijadikan landasan dalam bertindak serta berperilaku bagi masyarakatnya,
terkhusus bagi para orangtua dan pendidik dapat mengacu pada nilai-nilai
tersebut, Ketika disinggung tentang kaitannya pembentukan karakter dengan
naskah kuno, ia menyebutkan bahwa asal usul naskah kuno berasal dari hasil
karya seni sastra masyarakatnya pada masa lalu, sehingga substansi yang
terdapat di dalamnya berupa karakter-karakter mendasar masyarakatnya sejak
dahulu kala.
Sebagai peninggalan
masa lampau, naskah kuno mampu memberi informasi mengenai berbagai aspek
kehidupan masyarakat masa lampau seperti politik, ekonomi, sosial budaya,
pengobatan tradisional, tabir gempa atau gejala alam, fisikologi manusia, dan
sebagainya. Informasi awal terkait dengan hal ini dapat ditemukan dalam
kandungan naskah untuk dipelajari oleh semua orang. Naskah-naskah itu penting,
baik secara akademis maupun sosial budaya. Naskah tersebut merupakan identitas,
kebanggaan dan warisan budaya yang berharga. Secara sosial budaya, naskah
memuat nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan sekarang, sehingga
menjadi sebuah tanggung jawab telah berada di pundak kita untuk mengungkap
‘mutiara’ yang terkandung di dalamnya. Naskah kuno, di samping sebagai
dokumentasi budaya juga bisa dijadikan objek pengajaran untuk mengambil
nilai-nilai dan kandungan di dalamnya. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan
dalam merelevansikan nilai kebaikan yang ada di masa lampau untuk diterapkan
hari ini.
Keberadaan Naskah kuno
sebagai salah satu warisan kebudayaan, secara nyata memberikan bukti catatan
tentang kebudayaan kita masa lalu. Naskah-naskah tersebut menjadi semacam
potret jaman yang menjelaskan berbagai hal tentang masa itu, dengan demikian
nilainya sangat penting dan strategis. Oleh karena itu diperlukan
langkah-langkah konkret dalam upaya penyelamatan dan pelestarian naskah-naskah
tersebut. Naskah menjadi salah satu dokumentasi budaya yang tidak hanya memuat
nilai-nilai tradisi, namun naskah kuno adalah media untuk mengamati dan
menelaah kebudayaan lain (termasuk kebudayaan kita).
Pengajaran dalam
bidang sejarah Indonesia yang menggunakan sumber-sumber (tertulis) yang
tergolong langka tampaknya masih belum berkembang-terutama yang dilakukan oleh
pengajar Indonesia. Boleh jadi, hal itu disebabkan antara lain oleh sifat
langka yang melekat pada sumber pengajaran itu sendiri. Di sini, kelangkaan itu
dipahami bukan saja jarang atau sukar diperoleh, tetapi juga unik, bahkan
eksekutif. Jadi, sumber langka adalah sumber yang unik sekaligus sukar
diperoleh koleksinya, dengan kata lain pada sumber langka melekat (inherent)
kelangkaan. Juga menjadi jelas bahwa jangkauan peredaran sumber langka bersifat
terbatas karena umumnya tidak digandakan secara masih melalui mesin cetak atau
pun media transmisi lainnya.
Secara
garis besar gambaran cerita yang didapat dari metode simak, catat, metode rekam
dan wawancara dari kisah Labang Kare
yaitu:
Di
istilahkan ada seorang labangkare
(seorang laki-laki) dan buaya
yang diutus /disuruh oleh orang yang mau memangsa labangkara , namun tekad
labangkara yang kuat tidak mundur karena labangkara datang atas utusan sang
putri untuk mencari sesuatu yang di laut .
Pada
tembang ini dikisahkan atau dikaitkan sedikit tentang kisah hidup atau
percintaan yang peneliti alami , cinta membutuhkan usaha dan pemikiran yang panjang sebelum memulai suatu
hubungan agar tidak mudah kandas di tengah jalan.
Diantara macam-macam tembang yang masih
berkembang di daerah lombok (sasak) khususnya daerah pujut:
·
Dangdang :
adalah tembang yang berisi atau menceritakan tentang pembicaraan tua.
·
Sinom :
adalah tembang yang berisi atau menceritakan tentang nasihat
·
Pangkur :
adalah tembang yang berisi pembicaraan atau nasihat sama dengan tembang sinom.
·
Durme:
adalah tembang yang menceritakan atau berisikan peperangan.
·
Asmarandane
: adalah tembang yang berisi kisah percintaan atau asmara muda-mudi.
·
Maskumambang:
adalah tembang yang menceritakan duka maupun suka cita yang dalam istilah orang
pujut sendiri mengartikannya sebagai nyatung (menggatungkan hati atau perasaan
pada pohon lalu meluapkan isi hatinya melalui tembang (menembang).
Dan ada juga beberapa proses atau cara
pembuatan naskah kuno anatra lain:
§ Daun
lontar direbus di wadah besar yang sudah berisikan air panas.
§ Kemudian
daun lontar dipotng-potong hingaa menjadi beberapa bagian.
§ Setelah
dipotong-potong daun lontar kemudian dikeringkan di bawah terik matahari hingga
kering.
§ Lalu
daun lontar dijepit menggunakan alat tradisional yang dibuat, agar daunnya
lurus dan tidak kusut ataupun bengkok.
§ Setelah
dijepit lalu digaris agar penulisannya bisa sejajar tidak naik dan turun pada
saat penulisan dan agar kelihatan rapi.
§ Tahap
terakhir setelah ditulis langsung, daun lontar harus segera dikeringkan.
Hasil Analisis
Keberadan Naskah Kuno pada zaman atau abad
sekarang memandang bahwa naskah kuno merupakan salah satu warisan kebudayaan
yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu pada masa lampau. Naskah-naskah
tersebut menjadi peninggalan bersejarah yang berbentuk potret zaman yang
didalamnya menjelaskan berbagai hal pada masa itu, dengan demikian nilainya
sangat penting dan strategis untuk di lestarikan agar tidak punah. Oleh karena
itu diperlukan berbagai langkah-langkah yang konkret dalam upaya menyelamatkan
peninggalan atau warisan budaya yaitu naskah kuno. Naskah kuno juga menjadi
salah satu peninggalan budaya berisi dokumentasi yang mengandung nilai-nilai
tradisi dan sejarah.
Naskah kuno Labangkare menceritakan
tentang tokoh labangkare (lambang perkara) yang memiliki fisik yang kuat
sehingga menjadikan sebagai abdi suatu kerajaan karena memiliki tubuh yang
sangat kekar sehingga menjadikan dirinya sosok kepercayaan Raja.
Naskah labangkare diceritakan secara umum dan ditulis di atas daun
lontar lalu dijepit dengan kayu berukir sebesar ukuran naskah pada umumnya.
Naskah Labangkare mengisahkan tokoh Lbangakara yang diperitahkan oleh Raja
Wanasari untuk mencari Dewi Supraba yang menghilang. Dengan berbagai rintangan
dilewatinya dan kepasrahan serta kesabaran labangkara berhasil menemukan Dewi
Supraba lalu membawanya pulang kepada Raja. Namun sayang Dewi Supraba sangat
tidak berkenan kepada raja, sehingga murkalah raja, lalu kemudian raja berniat
membunuh Labangkara namun tidak berhasil berkat pertolongan Dewi Supraba maka
selamatlah labangkara
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Naskah kuno adalah salah satu warisan yang nyata
memberikan kepada kita semua bukti catatan tentang kebudaaan masa lalu. Menjadi
semacam potret zaman yang menjelaskan berbagai hal yang mempunyai hubungan
dengan masa sekarang. Karena nilainya yang sangat penting dan strategis maka
perlu ada langkah-langkah kongkret dalam upaya penyelamatan dan pelestarisn
naskah tersebut agar tidak punah dan hilang ditelan zaman.
Saran
Ø
Naskah-naskah
kuno nusantara, sebaiknya dicari, dijadikan bahan penelitian, disimpan atau
dirawat dengan baik lalu di museumkan sebagai bahan edukatif bagi generasi
bangsa agar tahu dan bangga dengan bangsa dan negaranya.
Ø
adanya
usaha-usaha baru dalam penelitian filologi di masa yang akan datang sebagai
usaha konkret cinta kebudayaan;
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran Dokumentasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar