Rabu, 18 Desember 2019

SKRIPSI Tentang NASKAH KUNO



ABSTRAK
Penelitian ini sangat bertujuan untuk untuk, (1). Memberi semangat kepada para pembaca agar dapat menjaga dan melestarikan budaya yang sudah diwariskan oleh leluhur dan nenek moyang, (2). Melestarikan budaya atau peningalan nenek moyang khususnya seperti naskah kuno.
 Naskah kuno merupakan salah satu warisan budaya di masa lampau yang berharga dan mengandung berbagai nilai dan informasi penting yang telah terjadi di masa lampau. Dengan demikian dapat diketahui bagaimana pola pikir yang berkembang dan kehidupan masyarakat pada masa lampau. Tembang sinom merupakan satu dari  7 jenis tembang yang ada di Sasak yaitu Tembang Dang-dang, Temabang Sinom (Nasehat), Tem bang Pangkur (wejangan/pembicaraan tua), Tembang Durma (kisah peperangan), Tembang Kasmarandane (kisah romantik) dan Tembang Maskumambang (kisah suka-duka). Naskah kuno dengan cerita Labang Kare ini merupakan salah satu karya sastra yang menjadi peninggalan para leluhur yang masih bisa dikaji dan diteliti karena kondisi naskah dan isisnya yang masih relevan di masa sekarang khususnya bagi sebagian masyarakat Sasak. seperti yang sudah diketahui bahwa mempelajari dan melestarikan naskah kuno merupakan suatu kewajiban yang sangat penting untuk mahasiswa, agar naskah kuno tidak terlupakan oleh zaman dan selalu dikenang.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan cakap, yaitu peneliti menyimak apa saja informasi atau cerita yang diberikan oleh narasumber serta bertanya apa saja kandungan yang ada didalam naskah kuno, serta peneliti melakukan dokumentasi untuk memperkuat adanya bukti khususnya Mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia semester 5 telah memenuhi tugas akhir mata kuliah filologi.














BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Naskah kuno merupakan salah satu bentuk warisan budaya dari nenek moyang atau leluhur, yang mempunyai makna atau arti yang berbeda-beda tergantung nama dan daerah tempat naskah kuno ditemukan. Naskah kuno merupaka aksara kawi dan arab melayu yang masih dilestarikan hingga saat ini, tentunya Naskah kuno sangat berpengaruh penting dalam dunia perkuliahan khususya Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia karena penelitian ini merupakan salah satu bentuk tugas untuk menyelesaikan perkuliahan pada semester ini. Penulis melakukan sebuah penelitian yaitu mencari apakah masih ada pegiat budaya yang masih menyimpan atau melestarikan naskah kuno sampai saat ini. Hingga pada hari Selasa, 22 Oktober 2019 jam 10:30 penulis beserta rekan-rekan berangkat dari mataram menuju lombok tengah dengan hanya bermodalkan google maps atau yang sering disebut dengan GPS untuk mencari alamat atau rumah salah satu pegiat yang masih menyimpan naskah kuno, sebelum penulis berangkat menuju rumah pegiat pada malam hari nya penulis bertanya pada salah satu rekan yang bersal dari jurusan yang sama kemudian dia memberikan informasi seputar narasumber atau pegiat yang aka penulis tuju dan memberikan nomor hp atau kontak yang bisa dihubungi. Sebelum berangkat penulis dahulu mengirim sms atau konfirmasi kedatangan  kepada pegiat naskah kuno, setelah beberapa jam kemudian penulis mulai melakukan perjalanan dari arah mataram yaitu melawati jalan bypass dan kecepatan kendaraan yang lajunya sangat tinggi agar dapat memperirit waktu, setelah beberapa jam kami sampai di bundaran gerung kami menghentikan motor lalu kemudian istirahat sejenak hanya untuk membeli minum guna untuk menghilangkan haus dan lelah selama perjalanan, dan beberapa ment setelahnya kamipun mulai beranjak lagi menyelusuri jalan hingga sampai dilombok tengah penulis bertanya kepada salah satu warga mengenai alamat yang sebelumnya sudah diberikan oleh narasumber dan pegiat naskah kuno namun hasilnya penulis sudah sangat jauh kelewatan dari desa yang akan ditiju, tidak mengambil waktu lama penulis akhirnya kembali dan menulusi desa demi dan desa dan bertanya disetiap warung dan toko dan pada akirnya penulis mendapat inisiatif untuk turun pada salah satu desa dan bertanya kepada para petani yang sedang memanen semangka apakah ia mengetauhi rumah pegiat yang masih menyimpan naskah kuno, kemudian salah satu dari petani itu tau akan pegiat namun nama yang sering dipanggil untuk pegiat ini adalah “Bapak putri”, petani itu memberi tahu penulis bahwa rumah pegiat ini berada disebelah kanan jalan dari kebun tempat kami bertanya, tak lama setelah itu kami akhirnya tiba di rumah pegiat atau narasumber pada jam 11:30 dengan perjuangan yang lumayan menantang dan melelahkan , sesampai kami disana penulis beserta rekan-rekan disambut dengan ramah oleh  isteri narasumber, kami dipersilahkan masuk dan duduk bahkan kami disajikan minuman sembari menunggu narasumber pulang dari sekolah, isteri dari narasumber merupakan pendatang yang ebrasal dari Ntt ia menceritakan kami sedikit perjalanan kisah cinta sampai akhirnya ia menikah dengan narasumber.
Tak lama kemudian narasumber pun datang setelah beberapa kali ditelfon oleh isterinya , kami pun bangun menyambut kedatangannya dan mulai memperkenalkan diri, beliau adalah pak “Mujahidunnafis, Spd.” Berasal dari desa Bangket perak, yang juga termasuk wilayah desa marong dan kecamatan pujut desa lombok tengah. Beliau juga termasuk guru di salah satu SMP dekat rumahnya dan sekaligus pengoleksi benda-benda kuno atau pusaka yang berjenis keris dan sebagainya.
Pak mujahid mengambil naskah yang ingin penulis tanyakan, beliau lalu mulai membua naskah tersebut dan menjelaskan satu persatu tembang yang ada di setiap naskah, lalu pertama pak mujahid membuka salah satu naskah kuno yang berjudul “Dewi Rengganis” naskah tersebut merupakan salah satu contoh tembang Maskumambang yaitu (tembang yang berisi dan meceritakan percintaan) tentang suka cita maupun duka cita namun penulis tidak akan menjelaskan secara lebar mengenai naskah Dewi Rengganis karea tapesan ini merupakan salah satu naskah yang sangat famelliar atau terkenal menurut penulis secara pribadi. Kemudian penulis meminta naskah kuno lain dan pak mujahid mengambil naskah lain yang berjudul ‘Hiayat Nur” pak mujahid mmebuka hikayat nur kemudian menembang dan membaca tapesan yang juga sering disebut dengan hikayat nabi.
Hikayat Nur menceritakan tentang nabi yang sedang bercukur, dan warga pujut yakin akan hikayat nur bisa dijadikan obat (jimat) untuk mengobati orang gila atau stres, bisa untuk menyuburkan padi yang kering agar bisa cepat dipanen dan tata caranya dengan mengambil air lalu dikelilingi dipadi pada malam jum’at. Selain iu juga diyakini sebagai jimat untuk orang yang singu (sakit parah) yang menuju sakaratul maut.
Konon usia setiap Naskah kuno tidak bisa diketauhi dan penulisnya pun tidak diketauhi karena tidak ingin di sebut atau diumbar, dan peulis dari hikayat nur merupakan wali yang tidak ingin dikenang.

B.     Rumusan Masalah
Berkaitan dengan penelitian, maka penulis perlu merumuskan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adapun rumusan masalah dalam penelitian adalah Bagaimana kaitan Naskah Kuno dengan kehidupan sehari-hari serta bagaimana kepercayaan masyarakat sekitar dan dalam penelitian ini penulis dan narasumber melakukan tradisi nyeput menggunakan takepan labengkare yang menurut narasumber takepan tersebut khusus dignakan dalam tradisi nyeput dan jika dikaji dengan menggunakan metode atau pendekatan sosiologi sastra.

C.    Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetauhi sejauh bagaimana perkembangan dan pelestarian Naskah Kuno di kalangan masyarakat dan bagaimana kaitan naskah kuno dalam kehidupan sehari-hari serta sejauh mana masyarakat masih meyakini tradisi nyeput.





BAB II
TINJAUN PUSTAKA

A.    Penelitian Yang Relevan
      Naskah kuno merupakan  objek penelitian dari suatu cabang ilmu  yaitu fiologi. Menurut KBBI, naskah kuno merupakan karangan yang masih di tulis dengan  tangan yang belum diterbitkan. Sedangkan menurut Baried dalam Venny Indria Ekowati (2003) naskah adalah tulisan tangan yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya bangsa masa lampau.
Setelah penelti mencari beberapa kajian dan bahan-bahan atau sumber pustaka tentang perkembangan pelestarian naskah kuno, peneliti menemukan peneletian serupa yang membahas atau mengkaji naskah kuno, atara lain:
1.      Penelitian yang dikaji oleh Yona Primadesi yang berjudul, “Peran Masyarakat Lokal dalam Usaha Pelestarian Naskah-Naskah Kuno Paseban”. Dalam penelitiannya, ia membahas bagaimana peran masyarakat lokal dalam usaha pelestarian naskah-naskah kuno yang ada di paseban. Perjalanan peradaban manusia pada masa lalu di ranah minang tidak banyak meninggalkan kabar dalam bentuk naskah-naskah tercetak, yang berbeda dari kebudayaan Melayu dan Jawa (Supriadi, 2001). Hal ini didukung oleh tradisi lisan yang ada di Minangkabau “kaba babarito” yang mengungkap sesuatu pesan dari mulut ke mulut. Hanya sebagian kecil pesan yang digambarkan dalam media tercetak atau dalam bahasa tertulis.    
Pada beberapa tempat di Minangkabau atau Sumatera Barat secara umum, dapat ditemukan berita tercetak atau terekam dalam bahasa tulis sebagai peninggalan para leluhur. Umumnya naskah tua tersebut adalah berupa kitab-kitab tasawuf dan buku-buku ajaran agama, baik yang sudah dicetak maupun ditulis tangan secara manual. Kerisauan yang mengemuka saat ini adalah bahwa kebanyakan naskah-naskah tua atau media tercetak yang ditinggalkan tersebut tidak lagi terpelihara dengan baik. Bukti-bukti menunjukkan bahwa sebagian besar sudah hilang dan tidak dapat dipahami lagi isinya (Sindunegara, 1997). Berbagai upaya untuk pelestarian (preservasi) naskah-naskah tua tersebut perlu segera dilakukan. Dalam konteks keilmuan, kajian terhadap naskah-naskah tua sebagai bentuk peradaban manusia masa lalu yang dapat dipahami pada masa sekarang sudah ditempatkan sebagai sebuah ilmu baru yakni Filologi. Salah satu naskah tua yang masih terpelihara sampai saat ini adalah kitab-kitab Tasawuf dan bukubuku ajaran agama di Mushala Paseban Kota Padang, yang selanjutnya di sebut dengan naskahnaskah tua Paseban. Terpeliharanya naskah-naskah tua Paseban, menunjukkan bahwa masyarakat lokal daerah tersebut memiliki energi dan kepedulian.
Naskah-naskah kuno merupakan warisan dari sebuah peradaban manusia yang terakumulasi dari sebuah budaya kehidupan masyarakat masa lalu. Selain itu, naskah-naskah kuno mengemban isi yang sangat kaya. Kekayaan tersebut dapat ditunjukkan oleh aneka ragam aspek kehidupan yang dikemukakan, seperti maslah sosial, politik, ekonomi, agama,kebudayaan, bahasa, dan sastra. Apabila dilihat dari sifat pengungkapannya, naskah-naskah kuno isinya mengacu kepada sifatsifat historis, didaktis, religius, dan belletri. (Barried, 1985:4).
2.      Penelitian yang dikaji oleh Fetty Rodiyah Kususma Dewi pada taggal, 18 Desember 2016 yang berjudul “Pelestarian Naskah Kuno Di Perpustakaan” ia membahas bagaimana Naskah Kuno harus tetap dilestarikan karena naskah kuno menyimpan kearifan lokal yang menggambarkan sejarah kebinekaan Indonesia. Tujuan pelestarian naskah kuno yaitu untuk menyelamatkan nilai informasi didalam naskah kuno, menyelamatkan fisik naskah kuno dan mengatasi kendala keterbatasan ruangan diperpustakaan.
Untuk melestarikan naskah-naskah kuno yang dimiliki oleh perpustakaan maka ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu:
Ø  Preservasi Fisik Naskah Kuno
yaitu dengan melakukan konservasi dan retorasi. Konservasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk melindungi koleksi dari kerusakan dan kehancuran, sedangkan Retorsi adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki koleksi yang rusak sehingga dapat digunakan kembali.
Ø  Preservasi Teks Dalam Naskah
Pelestarian terhadap isi naskah dapat dilakukan dengan digitalisasi, katalogisasi, dan riset, serta disalin (ditulis ulang), dialih aksarakan, dan diterjemahkan.
Peneliti juga memfokuskan hasil penelitian nya menggunakan pendekatan pragmatik.

B.     Sejarah Pendekatan Pragmatik
Pada tahun 1960 muncul dua orang tokoh ilmu sastra di Jerman Barat kedua tokoh itu adalah Hans Robert dan Wolfgangler. Keduanya mengembangkan ilmu sastra yang memberikan penekanan terhadap pembaca sabagai pemberi makna karya satra. Pada tahun 1967 (Teeuw, 1984: 5) ia mengatakan bahwa penelitian sejarah di Eropa sejak lama telah melalui jalan buntu. Hal ini karena pendekatan penulisan sejarah sastra tidak berdasarkan situasi zaman sejak zaman Romantik, dengan adanya paham Nasionalisme, maka pendekatan penulis sejarah sastra disejajarkan dengan sejarah nasional, dan pendekatan lain yang tidak menghiraukan dinamika sastra terus menerus, entah pada suatu bangsa, suautu periode, suatu angkatan dan suatu zaman. Tokoh utama dalam karya sastra yang menekankan peranan pembaca ialah Hans Robert Jousz dalam makalahnya yang bejudul literature alas provocation (sejarah sastra sebagai tantangan). Ia melancarkan gagasan-gagasan baru yang sempat menggoncangkan dunia. Ilmu sastra tradisional setelah memberi ringkasan mengeanai sejarah sastra antara lain dari aliran marsisme dan formalisme. Menghilangkan faktor yang terpenting dalam proses semiotik yang disebut kesusastraan sastra, dan sikap komunikasinya yang mrnggambarkan hubungan dialog dan proses antara karya sastra dan pembaca. Yaitu pembacalah yang menilai, menafsirkan, memahami dan menikmati karya sastra untuk menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah dan estetis.
Peneliti sejarah sastra juga  bertugas menelusuri resepsi karya sastra sepanjang zaman, keindahan dalah pengertian yang bergantung pada situasi dan latar belakang sosio budaya sipembaca dan ilmu sastra harus meneliti hal itu.



C.    Landasan Teori
1.      Pengertian pendekatan pragmatik
Secara umum pendekatan pragmatik merupakan pendekatan kritik sastra yang ingin memperlihatkan kesan dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra dalam zaman ataupun sepanjang zaman. Sedangkan menurut para ahli mendefinisakan pendekatan pragmatik adalah sebagai berikut:
·         Menurut Abram (1958: 14-21) pendekatan pragmatic merupakan perhatian utama terhadap pesan pembaca. Dalam kaitannya dengan salah satu terori modern yang paling pesat perkembangannya yaitu teori resepsi.
1.      Pendekatan pragmatik dengan demikian memberikan perhatian pada pergeseran dan funsi-fungsi baru pembaca tersebut. Secara historis (Abrams, 1976: 16) pendekatan pragmatic sudah ada sejak tahun 14 SM, terkandung dalam Ars Poetika (Hoatius). Meskipun lahirnya sekularisme memerlukan indicator lain sebagai pemicu proses estetis yaitu pembaca (Mukarovsky). Metode pendekatan pragmatik
Peneliti resepsi pembaca terhadap karya sastra dapat menggunakan beberapa metode pendekatan, antara lain pendekatan yang bersifat eksperimental, melalui karya sastra yang terikat pada masa tertentu da nada pada golongan masyarakat tertentu.
a.       Kepada pembaca, perorangan tau kelompok disajikan atau diminta pembaca karya satra sejumlah pertanyaan dalam teks atau angket yang berisi tentang permintaa, tanggapan, kesan, penerimaan terhadap karya yang dibaca tersebut untuk disi jawaban-jawaban itu kemudian ditabulasi dan dianalisis.
b.      Kepada pembaca perorangan atau kelompok. Diminta pembaca karya satra, kemudian ia diminta untuk menginterpretasikan kara sastra tersebut. Interpretasi-interpretasi yang dibuat tersebut dianalisis secara kualitatif untuk melihat bagaimana penerimaan atau tanggapan terhadap karya sastra.
c.       Kepada masyarakat tertentu diberikan angket untuk melihat prestasi mereka terhadap karya sastra, misalnya melihat prestasi sekelompok kritikus terhadap kontemporer prestasi terhadap kontemporer presepsi masyarakat tertentu terhadap karya sastra daerahnya sendiri.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
      Dalam penelitian kali ini, peneliti akan membahas atau menganalisi mengenai naskah kuno, dengan menggunakan dua metode dalam penelitian ini, yaitu metode simak dan metode cakap.
1.      Metode Simak merupakan metode yang dilakukan dengan penyimakan, yang disejajarkan dengan metode observasi (wawancara). Metode simak menurut Sudaryanto (1993:133) mencakup teknik sebagai berikut: (1) teknik sadap, secara praktis metode simak dilakukan dengan penyadapan. Seorang peneliti dalam rangka mendapatkan data, ia harus menggunakan kecerdikannya untuk menyadap pembicaraan informan; (2) teknik simak libat cakap, dalam kegiatan menyadap seorang peneliti harus berpartisipasi dalam pembicaraan dan menyimak pembicaraan, sehingga peneliti melakukan dialog secara langsung dengan informan.  Keikutsertaan peneliti bersifat fleksibel, yaitu seorang peneliti dapat bersifat aktif maupun reseptif, dikatakan aktif apabila seorang peneliti aktif berbicara dalam proses dialog, sedangkan bersifat reseptif apabila seorang peneliti karena faktor subyektif maupun objektif hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh informan; (3) teknik simak bebas libat cakap, dalam teknik ini seorang peneliti tidak dilibatkan secara langsung untuk ikut menentukan pembentukan dan pemunculan calon data kecuali hanya sebagai pemerhati terhadap calon data yang terbentuk dan muncul dari peristiwa kebahasaan yang berada diluar dirinya; (4)  teknik rekam, dalam hal ini peneliti berusaha merekam pembicaraan dengan informan yang dilakukannya tanpa sepengetahuannya, serta digunakan sebagai bukti penelitian; (5) teknik catat, disamping perekaman penelitian ini juga menggunakan teknik catat pada kartu data yang dilanjutkan pada klasifikasi data.
Metode penyediaan data ini diberi nama metode simak karena cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Istilah menyimak di sini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis. Metode ini memiliki teknik dasar yang berwujud teknik sadap. Teknik sadap disebut sebagai teknik dasar dalam metode simak, karena pada hakikatnya penyimakan diwujudkan dengan penyadapan. Dalam arti, peneliti dalam upaya mendapatkan data dilakukan dengan menyadap penggunaan bahasa seseorang atau beberapa orang yang menjadi informan. Perlu dikatakan bahwa menyadap penggunaan bahasa yang dimaksudkan menyangkut penggunaan bahasa baik secara lisan maupun secara tertulis. Penyadapan penggunaan bahasa secara lisan dimungkinkan jika peneliti tampil dengan sosoknya sebagai orang yang sedang menyadap pemakaian bahasa seseorang (yang sedang berpidato, berkhotbah dan lain-lain) atau beberapa orang yang sedang menggunakan bahasa atau bercakap-cakap, sedangkan penyadapan penggunaan bahasa secara tertulis, jika peneliti berhadapan dengan penggunaan bahasa bukan orang yang sedang berbicara atau bercakap-cakap, tetapi berupa bahasa tulis, misalnya naskah-naskah kuno, teks narasi, bahasa-bahasa pada media massa dan lain-lain. Dalam praktik selanjutnya, teknik sadap ini diikuti dengan teknik lanjutan yang berupa teknik simak libat cakap, simak bebas libat cakap, catat, dan teknik rekam.

Ø  Teknik simak libat cakap maksudnya si peneliti melakukan penyadapan dengan cara berpartisipasi sambil menyimak, berpartisipasi dalam pembicaraan, dan menyimak pembicaraan. Dalam hal ini, si peneliti terlibat langsung dalam dialog. Adapun teknik simak bebas libat cakap, maksudnya si peneliti hanya berperan sebagaipengamat penggunaan bahasa oleh para informannya. Dia tidak terlibat dalam peristiwa pertuturan yang bahasanya sedang di teliti.
Ø  Teknik simak bebas libat cakap, maksudnya si peneliti hanya berperan sebagai pengamat penggunaan bahasa oleh para informannya. Dia tidak terlibat dalam peristiwa pertuturan yang bahasanya sedang di teliti. Apabila pada teknik simak libat cakap si peneliti ikut menentukan pembebtukan dan pemunculan calod dat, maka pada teknik simak bebas libat cakap ini si peneliti tidak berperan untuk hal itu. Ia hanya menyimak dialog yang terjadi anta rinforman nya.
Ø  Teknik catat adalah teknik lanjutan yang dilakukan ketika menerapkan metode simak dengan teknik lanjutan di atas. Hal yang sama, jika tidak dilakukan pencatatan, si peneliti dapat saja melakukan perekaman ketika menerapkan metode simak dengan kedua metode lanjutan di atas.
Ø  Teknik rekan dimungkinkan terjadi jika bahasa yang diteliti adalah bahasa yang masih dituturkan oleh pemiliknya.
Keempat teknik di atas dapat digunakan secara bersama-sama jika penggunaan bahasa yang disadap yang disadap ituberwujud secara lisan. Sementara itu, apabila peneliti berhadapan dengan penggunaan bahasa secara tertulis dalam penyadapan itu peneliti hanya dapat menggunakan teknik catat sebagai gandengan teknik simakbebas libat cakap, yaitu mencatat beberapa bentuk tang relevan bagi penelitiannya dan penggunaan bahasa secara tertulis tersebut.
Dalam penelitian bahasa, baik bidang linguistik teoritis mupun linguistik interdisipliner, metode simak memainkan peran yang sangat penting untuk mengecek kembali penggunaanbahasa yang diperoleh dengan metode cakap. Tidak jarang dimulai dalam penelitian bahasa, misalnya bidang dialektologi, informan, karena alasan tertentu, misalnya malu dianggap isoleknya kurang berprestise lalu cenderung memberi keterangan tentang suatu bentuk yang lebih berprestise (dialek standar), padahal sesungguhnya tidak dapat dalam isoleknya. Untuk mengatasi hal itu, peneliti dapat melakukan dengan menyadap penggunaan bahasa para informan tanpa sepengetahuan mereka.
Selanjutnya, penggunaan metode simak yang berkaitan dengan penggunaan bahasa secara tertulis dimungkinkan jika bahasa yang dialek atau subdialeknya yang diteliti itu memiliki naskah-naskah kuno, yang menunjukkan penggunaan bahasa tersebut pada masa lampau, seperti bahasa-bahasa rumpun Indo-Eropa, bahasa Jawa, Bali, Sunda, dan lain-lain. Penggunaan data dengan memanfaatkan naskah-naskah kuno ini dapat membantu dalam menjelaskan perubahan-perubahan yang dialami pada fase-fase tertentu oleh suatu subdialek, dialek (untuk meneliti bidang dialektologi diakronis), atau bahasa (untuk penelitian bidang linguistik historis komparatif). 
2.      Sedangkan Metode cakap adalah: Penamaan metode cakap disebabkan oleh cara yang ditempuh dalam pengumpulan data yang berupa percakapan antara peneliti dan informan. Adanya percakapan antara peneliti dan informan mengandung arti terdapat kontak antarmereka, karena itulah data diperloeh melalui penggunaan bahasa secara lisan. Metode cakap memiliki teknik dasar berupa teknik pancing, karena percakapan yang diharapakan sebagai pelaksanaan metode tersebut hanya dimungkinkan muncul jika peneliti memberi stimulasi (pancingan) pada informan untuk memunculkan gejala kebahasaan yang diharapkan oleh peneliti. (Mahsun 2005:93-94)
Metode cakap merupakan metode yang dilakukan dengan jalan melakukan percakapan dan terjadi kontak antara peneliti dengan informan, metode ini dapat disejajarkan dengan metode wawancara. Menurut Sudaryanto (1993:137) metode cakap meliputi teknik sebagai berikut: (1) teknik pancing, secara praktis metode cakap diwujudkan dengan cara pemancingan, peneliti untuk mendapatkan data harus memancing  seseorang agar mau berbicara; (2) teknik rekam dan teknik catat, ketika peneliti melakukan kegiatan penelitian, maka peneliti secara langsung melakukan perekaman, kemudian diikuti pencatatan pada buku catatan; (3) teknik cakap semuka, kegiatan memancing agar informan mau melakukan pembicaraan pertama langsung, atau bersemuka dengan informan. Dalam hal ini, percakapan dikenali peneliti dan diarahkan sesuai dengan kepentingannya, yaitu memperoleh data selengkap-lengkapnya.
Menurut Mahsun (2005:94-101) ada beberapa teknik yang dapat digunakan dalam memancing data yang diharapkan dari informan oleh seorang peneliti dengan menggunakan teknik cakap semuka sebagai teknik bawahan.
























BAB IV
PEMBAHASAN


Deskripsi Data

    Dalam penelitian tentang Naskah Kuno, peneliti meneliti naskah yang telah diberikan pegiat atau informan dengan naskah yang berjudul Labangkare.  Naskah labangkare ini sebetulnya merupakan simbol nama seseorang, tetapi ini juga merupakan akronim dari lambing perkare (labangkare). Dan Naskah Labangkare ini menceritkan tentang tokoh Labangkare yang kuat yang menjadi abdi suatu kerajaan. Karena sosoknya yang kuat Labangkare menjadi kepercayaan sang Raja dari kerajaan tersebut. Naskah Labangkare ini secara garis besar menceritakan tentang Labangkare yang mencari seorang putri yang ada dalam mimpi sang Raja. Dalam mimpi sang Raja, putri tersebut sangat cantik dan jika Raja ingin menemukan Putri dalam mimpinya, Putri dalam mimpinya hanya bisa ditemukan oleh Labangkare sehingga Raja memerintahkan Labangkare untuk mencari putri tersebut dan membawanya pulang ke hadapannya.
       Pada  proses penelitian ini, peneliti juga melakukan proses nyeput yang masih menjadi tradisi orang lombok khususnya (sasak). Nyeput atau seput sejatinya berarti menjemput. Menjemput dalam artian mencari jalan pintas untuk mengatahui takdir Allah kepada insan manusia, dan Asal kata nyeput itu dari kata menjeput ( gercep)
Acara nyeput merupakan tradisi di lombok, untuk mengukur apa yang akan terjadi di masa depan (gambaran) dalam menempuh hidup di masa yang akan datang contoh seperti seorang yang akan membuka bisnisnya , bagaimana proses yang akan dilaluinya pada masa yang mendatang apakah dia akan sukses atau rugi ( tidak berhasil) dalam usahanya.
Dan ada juga seorang yang mewakilkan dirinya menjadi calon bupati ia akan melaksanakan tradisi nyeput untuk menjadi tolak ukur apakah dia akan berhasil atau tidak dalam proses mencalonkan dirinya.
Takepan yang biasa dijadikan untuk nyeput hanya lontar labangkare, takepan yusuf.
Dalam proses menyeput diawali dengan membaca shalawat 3 kali kemudian membaca bismillah setelah itu mencabut naskah dengan tangan kiri untuk memilih lembaran naskah mana yang akan  di seput. 
Kemudian akan dibacakan oleh bapak yang sudah menekuni profesi nyeput (sesepuh)
Dan pada kesempatan kali ini, peneliti dianjurkan membuka salah satu takepan untuk melihat apa yang terjadi di masa depan dan bagaimana jalan yang akan peneliti tempuh dalam masa depannya.
Dalam proses menyeput diawali dengan membaca shalawat 3 kali kemudian membaca bismillah setelah itu mencabut naskah dengan tangan kiri untuk memilih lembaran naskah mana yang akan  di seput. 
Kemudian akan dibacakan oleh bapak yang sudah menekuni profesi nyeput (sesepuh)
Dan pada kesempatan kali ini, peneliti dianjurkan membuka salah satu takepan untuk melihat apa yang terjadi di masa depan dan bagaimana jalan yang akan saya tempuh dalam masa depannya.
Nah kebetulan peneliti mendapatkan salah satu tembang, yaitu (tembang asmarandane) yaitu tembang yang isinya berkaitan dengan asmara atau percintaan.
            Terkait dengan lokasi penelitian yang dilakukan peneliti  mengenai naskah kuno berada disebuah desa yang bernama Desa Bangket Perak (Marong), Kecamatan Pujut , Lombok Tengah yang merupakan salah satu destinasi lombok yang terkenal, karena memiliki sejumlah pantai sangat indah dilengkapi pasir putih , dan saat ini juga lombok tengah akan menjadi area balap motor (sirkuit) namun Lombok tengah juga merupakan salah satu bagian pulau lombok yang paling panas, dan juga terkenal dengan daerah rawan begal (perampok), karena minimnya penghasilan dan banyak nya pengangguran sehingga sebagian kecil masyarakat lombok tengah mengambil profesi altertanatif yaitu sebagai begal. Namun sebagian masyarakatnya juga mengabdikan sebagai guide atau tour travell bagi touris macan negara, dan tamu luar daerah.
     Lombok Tengah juga merupakan salah satu kabupaten di Pulau Lombok yang menjadi salah satu destinasi/daerah tujuan wisata di Pulau Lombok. Pembangunan dan pengembangan KEK di wilayah ini meliputi areal seluas 1.175 ha yang tersebar di Desa Kuta, Desa Sukadana dan Desa Tumpak. (Kawasan Ekonomi Khusus) menandai semakin berkembangnya pariwisata di Kecamatan Pujut. Di sisi lain, kondisi pertanian di wilayah ini masih dihadapkan dengan berebagai permasalahan, padahal sebagian besar penduduknya selama ini menggantungkan hidup di sektor pertanian. Permasalahan tersebut adalah keterbatasan air untuk kebutuhan pertanian sehingga produktifitas pertanian cukup rendah, sementara itu wilayah Kecamatan Pujut memiliki potensi alam bahari yang sangat potensial dan besar di bidang pariwisata sehingga menjadi salah satu daerah pusat pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia. Hal ini yang mendorong rumah tangga petani bekerja di sektor pariwisata baik sebagai pengrajin songket, pedangang, pemandu wisata, maupun sebagainya. Pekerjaan- pekerjaan dilakukan selain untuk memanfaatkan waktu luang di sektor pertanian juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pendapatan rumah tangga petani. Dan menanggulangi begal yang yang masih beredar.









Analisis Naskah
Lombok  merupakan kebudayaan yang kaya akan naskah kuno. Naskah-naskah tersebut kebanyakan mempunyai nilai tinggi dan bisa dijadikan landasan dalam bertindak serta berperilaku bagi masyarakatnya, terkhusus bagi para orangtua dan pendidik dapat mengacu pada nilai-nilai tersebut, Ketika disinggung tentang kaitannya pembentukan karakter dengan naskah kuno, ia menyebutkan bahwa asal usul naskah kuno berasal dari hasil karya seni sastra masyarakatnya pada masa lalu, sehingga substansi yang terdapat di dalamnya berupa karakter-karakter mendasar masyarakatnya sejak dahulu kala.
Sebagai peninggalan masa lampau, naskah kuno mampu memberi informasi mengenai berbagai aspek kehidupan masyarakat masa lampau seperti politik, ekonomi, sosial budaya, pengobatan tradisional, tabir gempa atau gejala alam, fisikologi manusia, dan sebagainya. Informasi awal terkait dengan hal ini dapat ditemukan dalam kandungan naskah untuk dipelajari oleh semua orang. Naskah-naskah itu penting, baik secara akademis maupun sosial budaya. Naskah tersebut merupakan identitas, kebanggaan dan warisan budaya yang berharga. Secara sosial budaya, naskah memuat nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan sekarang, sehingga menjadi sebuah tanggung jawab telah berada di pundak kita untuk mengungkap ‘mutiara’ yang terkandung di dalamnya. Naskah kuno, di samping sebagai dokumentasi budaya juga bisa dijadikan objek pengajaran untuk mengambil nilai-nilai dan kandungan di dalamnya. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan dalam merelevansikan nilai kebaikan yang ada di masa lampau untuk diterapkan hari ini.
Keberadaan Naskah kuno sebagai salah satu warisan kebudayaan, secara nyata memberikan bukti catatan tentang kebudayaan kita masa lalu. Naskah-naskah tersebut menjadi semacam potret jaman yang menjelaskan berbagai hal tentang masa itu, dengan demikian nilainya sangat penting dan strategis. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah konkret dalam upaya penyelamatan dan pelestarian naskah-naskah tersebut. Naskah menjadi salah satu dokumentasi budaya yang tidak hanya memuat nilai-nilai tradisi, namun naskah kuno adalah media untuk mengamati dan menelaah kebudayaan lain (termasuk kebudayaan kita).
Pengajaran dalam bidang sejarah Indonesia yang menggunakan sumber-sumber (tertulis) yang tergolong langka tampaknya masih belum berkembang-terutama yang dilakukan oleh pengajar Indonesia. Boleh jadi, hal itu disebabkan antara lain oleh sifat langka yang melekat pada sumber pengajaran itu sendiri. Di sini, kelangkaan itu dipahami bukan saja jarang atau sukar diperoleh, tetapi juga unik, bahkan eksekutif. Jadi, sumber langka adalah sumber yang unik sekaligus sukar diperoleh koleksinya, dengan kata lain pada sumber langka melekat (inherent) kelangkaan. Juga menjadi jelas bahwa jangkauan peredaran sumber langka bersifat terbatas karena umumnya tidak digandakan secara masih melalui mesin cetak atau pun media transmisi lainnya.
Secara garis besar gambaran cerita yang didapat dari metode simak, catat, metode rekam dan wawancara   dari kisah Labang Kare yaitu:
Di istilahkan ada seorang labangkare  (seorang laki-laki) dan  buaya yang diutus /disuruh oleh orang yang mau memangsa labangkara , namun tekad labangkara yang kuat tidak mundur karena labangkara datang atas utusan sang putri untuk mencari sesuatu yang di laut .
Pada tembang ini dikisahkan atau dikaitkan sedikit tentang kisah hidup atau percintaan yang peneliti alami , cinta membutuhkan usaha dan  pemikiran yang panjang sebelum memulai suatu hubungan agar tidak mudah kandas di tengah jalan.
   Diantara macam-macam tembang yang masih berkembang di daerah lombok (sasak) khususnya daerah pujut:
·         Dangdang : adalah tembang yang berisi atau menceritakan tentang pembicaraan tua.
·         Sinom : adalah tembang yang berisi atau menceritakan tentang nasihat
·         Pangkur : adalah tembang yang berisi pembicaraan atau nasihat sama dengan tembang sinom.
·         Durme: adalah tembang yang menceritakan atau berisikan peperangan.
·         Asmarandane : adalah tembang yang berisi kisah percintaan atau asmara muda-mudi.
·         Maskumambang: adalah tembang yang menceritakan duka maupun suka cita yang dalam istilah orang pujut sendiri mengartikannya sebagai nyatung (menggatungkan hati atau perasaan pada pohon lalu meluapkan isi hatinya melalui tembang (menembang).



Dan ada juga beberapa proses atau cara pembuatan naskah kuno anatra lain:
§  Daun lontar direbus di wadah besar yang sudah berisikan air panas.
§  Kemudian daun lontar dipotng-potong hingaa menjadi beberapa bagian.
§  Setelah dipotong-potong daun lontar kemudian dikeringkan di bawah terik matahari hingga kering.
§  Lalu daun lontar dijepit menggunakan alat tradisional yang dibuat, agar daunnya lurus dan tidak kusut ataupun bengkok.
§  Setelah dijepit lalu digaris agar penulisannya bisa sejajar tidak naik dan turun pada saat penulisan dan agar kelihatan rapi.
§  Tahap terakhir setelah ditulis langsung, daun lontar harus segera dikeringkan.

Hasil Analisis
     Keberadan Naskah Kuno pada zaman atau abad sekarang memandang bahwa naskah kuno merupakan salah satu warisan kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu pada masa lampau. Naskah-naskah tersebut menjadi peninggalan bersejarah yang berbentuk potret zaman yang didalamnya menjelaskan berbagai hal pada masa itu, dengan demikian nilainya sangat penting dan strategis untuk di lestarikan agar tidak punah. Oleh karena itu diperlukan berbagai langkah-langkah yang konkret dalam upaya menyelamatkan peninggalan atau warisan budaya yaitu naskah kuno. Naskah kuno juga menjadi salah satu peninggalan budaya berisi dokumentasi yang mengandung nilai-nilai tradisi dan sejarah.
     Naskah kuno Labangkare menceritakan tentang tokoh labangkare (lambang perkara) yang memiliki fisik yang kuat sehingga menjadikan sebagai abdi suatu kerajaan karena memiliki tubuh yang sangat kekar sehingga menjadikan dirinya sosok kepercayaan Raja.
    Naskah labangkare diceritakan secara umum dan ditulis di atas daun lontar lalu dijepit dengan kayu berukir sebesar ukuran naskah pada umumnya. Naskah Labangkare mengisahkan tokoh Lbangakara yang diperitahkan oleh Raja Wanasari untuk mencari Dewi Supraba yang menghilang. Dengan berbagai rintangan dilewatinya dan kepasrahan serta kesabaran labangkara berhasil menemukan Dewi Supraba lalu membawanya pulang kepada Raja. Namun sayang Dewi Supraba sangat tidak berkenan kepada raja, sehingga murkalah raja, lalu kemudian raja berniat membunuh Labangkara namun tidak berhasil berkat pertolongan Dewi Supraba maka selamatlah labangkara





BAB V
 PENUTUP
Kesimpulan
Naskah kuno adalah salah satu warisan yang nyata memberikan kepada kita semua bukti catatan tentang kebudaaan masa lalu. Menjadi semacam potret zaman yang menjelaskan berbagai hal yang mempunyai hubungan dengan masa sekarang. Karena nilainya yang sangat penting dan strategis maka perlu ada langkah-langkah kongkret dalam upaya penyelamatan dan pelestarisn naskah tersebut agar tidak punah dan hilang ditelan zaman.

Saran
Ø  Naskah-naskah kuno nusantara, sebaiknya dicari, dijadikan bahan penelitian, disimpan atau dirawat dengan baik lalu di museumkan sebagai bahan edukatif bagi generasi bangsa agar tahu dan bangga dengan bangsa dan negaranya.
Ø  adanya usaha-usaha baru dalam penelitian filologi di masa yang akan datang sebagai usaha konkret cinta kebudayaan;
















DAFTAR PUSTAKA




















Lampiran Dokumentasi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

VARIASI BAHASA DALAM JUAL BELI ONLINE

VARIASI BAHASA DALAM JUAL BELI ONLINE