KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji bagi Allah Tuhan Pencipta Alam,
salawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, seluruh
keluarganya, sahabat-sahabatnya dan pengikutnya.
Dengan ini penyusun dapat menyelesaikan laporan praktik
kerja lapangan yang berjudul “Analisis
saluran pemasaran jamur tiram udayana kecematan selaparan kota mataram” tepat pada waktunya. Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa
penulisan laporan ini dapat diselesaikan dengan baik karena bantuan, dukungan,
bimbingan, dan arahan dari semua pihak maka penulisannya dapat diselesaikan
dengan rencana yang telah di tentukan penyususn, untuk itu tidak lupa penyusun
mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:
1.
Bapak Dr. Ir. Abdullah Usman, M.AGR.SC. selaku
Ketua Program S1 Reguler Sore Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas
Mataram.
2.
Bapak Ir. Anwar, MP selaku Dosen Pembimbing
PKL.
3.
Bapak Muhammad Ma’arifudin sekaligus sebagai pembimbing lapangan, yang
telah memberikan izin dan pengarahan kepada kami dalam pelaksanaan Praktik
Kerja Lapangan di lokasinya, dan ucapan terima kasih kepada bapak Muhammad
Ma’arifudin yang telah membantu kelancaran Praktik Kerja Lapangan.
Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca, serta
rekan-rekan mahasiswa program studi agribisnis yang akan mengambil program PKL
kedepan.
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Saluran Pemasaran Satu Jalur............................................................. 11
Gambar 2. Struktur Organisasi Usaha budidaya jamur tiram
udayana................ 16
Gambar
2.
Saluran Pemasaran Usaha budidaya
jamur tiram udayana ................ 33
DAFTAR TABEL
Tabel
1. Kandungan Gizi Jamur Tiram.................................................................. 5
Table 2. Rencana
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) Usaha budidaya jamur tiram udayana 17
Table 3.Daftar Kegitan
Pelaksanaan PKL di Usaha budidaya jamur tiram udayana 19
BAB I. PENDAHULUAN
Pengertian
pertanian secara luas ialah pemanfaatan dari sumber daya hayati yang dilakukan
oleh manusia dengan cara menanam tanaman yang produktif yang bisa menghasilkan
serta dapat di pergunakan bagi kehidupan. Ataupun seluruh kegiatan yang
mencakup kedalam pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan juga
perikanan yang hasilnya bisa digunakan bagi kehidupan manusia. Tetapi arti
pertanian secara sempit ialah proses dari budidaya tanaman pada suatu lahan
yang hasilnya bisa mencukupi dari kebutuhan manusia. Ataupun proses dari
bercocok tanam yang dilakukan di lahan yang sudah disiapkan sebelumnya dan
kemudian dikelola menggunakan cara yang manual dan tidak terlalu banyak
menggunakan manajemen. Pertanian
awalnya dimulai dengan cara membuka suatu lahan dan menanami tanaman yang bisa
dikonsumsi, kemudian setelah itu ditinggal dan masyarakat membuka lahan baru di
tempat lain. Hal ini dikarenakan masyarakat kuno masih belum menetap dan masih
berpindah-pindah tempat untuk mempertahankan hidupnya. Setelah itu masyarakat
mulai menetap dan membuka lahan baru dan dibarengi dengan meningkatnya cara
pengelolaan pertanian yang lebih baik. Juga mulai dibangunnya saluran irigasi
yang baik bagi pertanian. Pada era
globalisasi saat ini, akan sangat dibutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya
memiliki gelar serjana tetapi juga ditunjang untuk memiliki keterampilan atau
sebuah keahlian khusus oleh era saat ini. Karena keterampilan merupakan salah
satu cara untuk menumbuhkan dan mengembangkan pemikiran yang ada serta sebagai
wadah dalam mempraktekan apa saja yang telah diperoleh dari bangku kuliah adalah
dengan melakukan program kerja lapangan.
Seiring
perkembangan zaman dan jumlah penduduk bumi yang semakin meningkat sehingga
lahan yang dibutuhkan untuk tinggal semakin banyak, maka lama kelamaan lahan
untuk bercocok tanam semakin sempit terutama di daerah perkotaan. Oleh
karenanya banyak sekali muncul budidaya-budidaya yang dilakukan yaitu suatu
budidaya jamur tiram. Budidaya jamur tiram dapat dilakukan dengan cara
memanfaatkan lahan pekarangan rumah.
Jamur
tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan
sumber bahan pangan yang bernilai gizi tinggi, mengandung protein, karbohidrat,
lemak, mineral dan vitamin. Oleh karena itu jamur tiram sebagai sayuran sangat
aman dikonsumsi setiap hari, sumber yang baik untuk asam amino diperlukan dalam
membentuk protein dalam tubuh, terutama vitamin B1, B2, dan sumber mineral
terutama kalium dan fosfor. Jamur ini dibudidayakan dengan teknologi sederhan
yaitu menggunakan media dari serbuk gergaji kayu ditambah dengan bahan
sumplemen antara lain dedak, tepung jagung, kapur dan air.
Adapun
tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk :
1.
Mengetahui
bagaimana saluran pemasaran jamur tiram.
2.
Mengetahui share
petani jamur tiram.
Adapun
kegunaan dari penelitian ini adalah :
1.
Untuk mendapatkan
pengetahuan dari lapangan langsung.
2.
Untuk mendapatkan
pengetahuan tentang pembuatan jamur tiram.
3.
Sebagai bahan
pertimbangan bagi petani jamur tiram untuk meningkatkan produksi dan memilih
pola pemasaran yang tepat.
4.
Sebagai bahan
informasi bagi peneliti lain yang berminat pada masalah yang sama.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gambaran Umum Jamur
Jamur merupakan tumbuhan yang mudah dijumpai dan
banyak terdapat di alam bebas, misalnyadi hutan atau di kebun, jamur dapat tumbuh
sepanjang tahun, terutama pada musim hujan (Cahyana et al.,1997). Jamur sering
juga disebut dengan nama supa (Sunda) atau mushroom (Inggris). Definisi lain
menurut Cahyana (1997), jamur merupakan organisme yang tidak berklorofil
sehingga jamur tidak dapat menyediakan makanan sendiri dengan cara fotosintesis
seperti pada tanaman berklorofil. Jamur mengambil zat-zat makanan yang sudah
jadi, yang dibuat atau dihasilkan oleh organisme lain untuk kebutuhan hidupnya.
Karena ketergantungannya terhadap organisme lain, maka jamur digolongkan
sebagai tanaman heterotrofik. Sementara bagi tanaman yang dapat menyediakan
makanan sendiri, seperti karbohidrat (gula, pati, dan lain-lain), disebut
autotrofik.
Menurut Redaksi Agromedia (2011) jamur selain
memiliki banyak manfaat, ternyata ada jenis jamur tertentu yang mengandung
racun. Racun jamur ini dapat merusak fungsi organ, bahkan memyebabkan kematian.
Untuk mencegah terjadinya keracunan jamur, kita perlu mengetahui ciri-cirinya.
Berikut kriteria fisik jamur beracun yang harus dihindari.
1. Warna
tubuh buah bervariasi, dari merah darah, kuning terang dan oranye, hingga putih
atau pucat.
2. Biasanya
memiliki cincin atau cawan pada pangkal batangnya.
3. Mengeluarkan
bau amoniak, seperti telor busuk.
4. Jika
dipotong dengan pisau stainless akan meninggalkan bekas hitam atau biru pada
pisau.
5. Jika
dimasak, fisik jamur akan berubah menjadi gelap.
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur
pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan
ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk
setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Jamur
tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan
sebutan King Oyster Mushroom.(Pleurotus ostreatus) di sebut jamur tiram sebab
mempunyai tubuh yang ada tangkainya dan biasanya tumbuh di samping atau tumbuh
menyamping dan bentuknya mirip sekali dengan tiram. Jamur tiram (Pleurotus
ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas
Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem
dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian
tengah agak cekung. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan
sering di kenal dengan sebuta King Oyster Mushrom (Cahyana, Y.A, muchroji dan
M. Bakrun, 2001).
Jamur tiram putih (Pleurotus Sp.) merupakan jenis
jamur kayu yang paling mudah dibudidayakan karena dapat tumbuh di berbagai
macam jenis substrat dan mempunyai kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang
tinggi. Kemampuan produksi jamur tiram pun relatif tinggi, dari 1.000 gram
substrat kering, 50-70 persen jamur segar dapat dihasilkan, bahkan saat ini
produktivitas panen sudah dapat ditingkatkan hingga 120-150 persen (Dirjen
Hortikultura, 2011).
Budidaya jamur merupakan salah satu budidaya yang
tidak mengenal musim dan tidak membutuhkan tempat yang luas. Jenis jamur tiram yang
banyak dibudidayakan antara lain sebagai berikut:
a.
Jamur tiram putih (Pleurotus Ostreatus)
b.
Jamur tiram merah muda (Pleurotus Flatellatus)
c.
Jamur tiram cokelat (Pleurotus Cycstidiosus)
d.
Jamur tiram kuning terang (Pleurotus Citrinopelatus)
e.
Jamur tiram abu-abu (Pleurotus sajor caju)
f.
Jamur tiram hitam (Pleurotus Sapidus)
Hasil
panen jamur tersebut tak hanya untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri bahkan
ada juga yang di ekspor seperti jamur kancing dan jamur payung. Media untuk
pertumbuhan jamur dapat menggunakan limbah yaitu limbah pertanian (merang dan
daun pisang) dan limbah industri (serbuk gergaji). Ramuan atau campuran yang
digunakan sebagai media juga bermacam-macam, sedangkan metode yang
digunakan untuk budidaya jamur ini juga bermacam-macam seperti cara ilmiah,
konvensional,tradisional,dan semi modern (Agromedia pustaka,2002).
Ada beberapa syarat penting dalam budidaya jamur
tiram. Adapun syarat-syarat tersebut menurut Dirjen Hortikultura (2011) sebagai
berikut:
1) Media
Tumbuh
Media untuk pertumbuhan jamur tiram dibuat menyerupai
kondisi tempat tumbuh jamur tiram di alam. Bahan baku yang digunakan sebagai
media dalam budidaya jamur tiram adalah serbuk gergaji. bekatul sebagai sumber
karbohidrat, lemak dan protein, kapur (CaCO3) sebagai sumber mineral dan
pengatur pH media serta gips sebagai bahan penambah mineral dan untuk
mengokohkan media.
Ada beberapa komposisi campuran media antara serbuk
gergaji dan penambahan nutrisi yang berbeda-beda. Salah satu komposisi campuran
media tumbuh jamur tiram adalah serbuk gergaji (80 persen), bekatul (16
persen), kapur atau CaCO3 (2 persen) dan gips (2 persen).
Kadar air media diatur antara 60-65 persen dengan
cara menambahkan air bersih. Apabila air yang ditambahkan kurang maka
penyerapan makanan oleh jamur menjadi kurang optimal sehingga jamur menjadi
kurus. Apabila air yang ditambahkan terlalu banyak maka mengakibatkan busuk
akar. Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur
tiram. Keasaman atau pH media perlu diatur antara pH enam sampai tujuh dengan
penambahan kapur ke dalam media.
2) Syarat
Tumbuh
Pertumbuhan jamur tiram putih yang baik yaitu saat
suhu inkubasi atau saat jamur tiram putih membentuk miselium adalah berkisar
antara 22-28°C dengan kelembaban udara antara 60-70 persen. Sedangkan suhu pada
pembentukan tubuh buah berkisar antara 16-22°C dengan kelembaban udara antara
80-90 persen.
Pertumbuhan jamur tiram putih sangat peka terhadap
cahaya secara langsung. Intensitas cahaya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
jamur sekitar 200 lux (10 persen), sedangkan pada pertumbuhan miselium tidak
diperlukan cahaya. Kandungan air dalam substrat berkisar antara 60-65 persen.
Apabila kondisi kering maka pertumbuhan jamur akan terganggu atau terhenti,
begitu pula sebaliknya apabila kadar air terlalu tinggi maka miselium akan
membusuk dan mati. Penyemprotan air ke dalam ruangan dapat dilakukan untuk
mengatur suhu dan kelembaban (Suriawira, 1986).
3) Proses
Budidaya
Hal yang paling pertama dilakukan dalam budidaya
jamur tiram putih yaitu pencampuran bahan baku. Menurut Suriawira (1986) serbuk
kayu, dedak atau bekatul, jagung halus serta kapur yang telah ditimbang,
kemudian dicampurkan. Pencampuran dapat dilakukan secara manual dengan tenaga
manusia apabila kapasitas produksinya masih kecil. Kemudian, proses pengomposan
dilakukan dengan cara membumbun campuran serbuk kayu atau gergaji, kemudian
menutupnya secara rapat dengan menggunakan plastik selama satu sampai dua hari.
Proses pengomposan yang baik ditandai dengan kenaikan suhu menjadi sekitar
50ºC, sedangkan kadar air campuran atau kompos harus diatur pada kondisi 50-60
persen dengan tingkat keasaman (pH) enam sampai tujuh (Cahyana et al.,
1997)
Tahapan selanjutnya yaitu pembungkusan dilakukan
dengan menggunakan plastik poliprolene (PP). Pembungkusan dilakukan dengan cara
memasukkan adonan ke dalam plastik kemudian ujung plastik disatukan dan
dipasang cincin yang terbuat dari potongan pralon atau bambu kecil pada bagian
leher plastik (Cahyana et al., 1997).
Sterilisasi adalah suatu proses yang dilakukan untuk
menginaktifkan mikrobe, baik bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat
mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 80 -
90ºC selama enam hingga delapan jam. Alat yang digunakan pada proses ini, dapat
berbentuk drum minyak yang sedikit dimodifikasi dengan menambahkan sarangan
sebagai pembatas antara air dengan tempat media (Suriawira, 1986).
Setelah proses sterilisasi kemudian tahap
selanjutnya adalah inokulasi. Inokulasi adalah proses pengisian bibit ke dalam
media tanam pada tempat yang steril (Suriawira, 1986). Setelah di inokulasi
kemudian dilakukan tahapan inkubasi dengan cara menyimpan media yang telah
diisi dengan bibit pada kondisi tertentu agar miselia jamur tiram putih tumbuh.
Suhu yang dibutuhkan untuk penumbuhan miselia antara 22 - 28ºC. Inkubasi
dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata. Biasanya media akan
tampak putih secara merata antara 40 – 60 hari sejak dilakukan inokulasi.
Keberhasilan pertumbuhan miselia jamur dapat diketahui sejak dua minggu setelah
inkubasi (Suriawira,
1986).
Media tumbuh jamur tiram putih yang sudah putih oleh
miselia jamur tiram putih sudah siap untuk dilakukan penumbuhan. Penumbuhan
dilakukan dengan cara membuka plastik atau media tumbuh yang sudah penuh oleh
miselia. Pembukaan media dilakukan dengan tujuan memberikan oksigen yang cukup
untuk pertumbuhan tubuh buah jamur. Tubuh buah tumbuh setelah satu sampai dua
minggu dengan suhu 16 - 22ºC dan kelembapan 80 – 90 persen. Tubuh buah yang
sudah tumbuh tersebut selanjutnya dibiarkan selama dua sampai tiga hari atau
sampai mencapai pertumbuhan yang optimal (Cahyana et al., 1997)
Panen dilakukan dengan cara mencabut seluruh rumpun
jamur tiram putih yang ada. Pemanenan tidak dapat dilakukan dengan cara
memotong cabang yang berukuran besar saja, sebab dalam satu rumpun jamur tiram
putih mempunyai stadia pertumbuhan yang sama (Suriawira, 1986). Jamur tiram
putih yang sudah dipanen tidak perlu
dipotong menjadi bagian per bagian tudung, tetapi hanya dibersihkan kotoran
yang menempel pada bagian akarnya saja. Dengan cara tersebut, daya tahan simpan
jamur tiram putih akan lebih lama. Jamur
tiram putih yang sudah dibersihkan dari kotoran yang menempel,
dimasukkan ke dalam plastik dengan ukuran tertentu untuk dipasarkan dalam
bentuk segar.
Membudidaya Jamur Tiram memiliki
berbagai keunggulan dibandingkan dengan
budidaya tanaman lainnya. Kelebihan
Budidaya Jamur Tiram memiliki keunggulan antara lain:
1. Jamur
tiram sangat mudah di budidayakan , karena proses perlakuan dalam budidaya
jamur tiram sangat berbeda dengan cara perlakuan pada budidaya tanaman lainya,
dalam budidaya jamur tiram petani hanya perlu mengontrol kelembapan suhu tempat
budidaya menjaga kebersihan lingkungan tempat budidaya dan menyiram setiap
hari.
2. Tidak
memerlukan tempat atau lahan pertanian yang luas, jadi budidaya jamur bisa
dilakukan di lahan yang sempit sekalipun, bahkan jika disiasati dalam lahan
yang hanya beberapa meter saja kita bisa maksimal membudidayakan jamur tiram.
3. Tidak
memerlukan alat-alat bertani pada umumnya yaitu, cangkul,garfu tanah dan
lainnya.
4. Sangat
toleran terhadap perubahan cuaca dan musim, jadi dalam musim dan cuaca apapun
jamur tiram dapat tumbuh dengan baik dengan metode perlakuan yang berbeda
disetiap perubahan kondisi lingkungannya
5. Budidaya
jamur lebih produktif dibanding tanaman pertanian lainnya, tidak mengenal waktu
dan musim untuk dapat tumbuh dan dipanen
6. Jamur
tiram juga dapat hidup dan tumbuh di berbagai media tanam, jadi banyak
alternatif bahan media yang dapat dipilih dan salahsatu andalan sebagai bahan
baku media tanam jamur tiram adalah serbuk gergaji dan dedak yang sangat
melimpah dinegara kita tercinta ini.
Dengan
kelebihan-kelebihan budidaya jamur tiram diatas terutama dalam hal perlakuan
budidaya, maka dapat disimpulkan bahwa budidaya jamur tiram sangat tidak
menyita waktu sehingga budidaya jamur tiram dapat dijalankan sebagai usaha
sampingan bagi mereka yang memiliki rutinitas kesibukan, dengan demikian maka
usaha budidaya jamur dapat dijadikan salahsatu pilihan bagi mereka yang ingin
menjalankan usaha sampingan (Dinas pertanian, 2007).
Pada umumnya jamur tiram, Pleurotus ostreatus, mengalami dua
tipe perkembangbiakan dalam siklus hidupnya, yakni secara aseksual maupun
seksual. Seperti halnya reproduksi aseksual jamur, reproduksi aseksual
basidiomycota secara umum yang terjadi melalui jalur spora yang terbentuk
secara endogen pada kantung spora atau sporangiumnya, spora aseksualnya yang
disebut konidiospora terbentuk dalam konidium.
Sedangkan
secara seksual, reproduksinya terjadi melalui penyatuan dua jenis hifa yang
bertindak sebagai gamet jantan dan betina membentuk zigot yang kemudian tumbuh
menjadi primodia dewasa. Spora seksual pada jamur tiram putih, disebut juga
basidiospora yang terletak pada kantung basidium.
Mula-mula basidiospora bergerminasi membentuk suatu masa
miselium monokaryotik, yaitu miselium dengan inti haploid. Miselium terus
bertumbuh hingga hifa pada miselium tersebut berfusi dengan hifa lain yang
kompatibel sehingga terjadi plasmogami membentuk hifa dikaryotik. Setelah itu
apabila kondisi lingkungan memungkinkan (suhu antara 10-20 °C, kelembapan
85-90%, cahaya mencukupi, dan CO2 < 1000 ppm) maka tubuh buah akan
terbentuk. Terbentuknya tubuh buah diiringi terjadinya kariogami dan meiosis
pada basidium.
Nukleus haploid hasil meiosis kemudian bermigrasi menuju
tetrad basidiospora pada basidium. Basidium ini terletak pada bilah atau sekat
pada tudung jamur dewasa yang jumlahnya banyak (lamela). Dari spora yang terlepas
ini akan berkembang menjadi hifa monokarion. Hifa ini
akan memanjangkan filamennya dengan membentuk cabang hasil pembentukan dari dua
nukleus yang dibatasi oleh septum (satu septum satu nukleus).
Kemudian hifa monokarion akan mengumpul membentuk jaringan
sambung menyambung berwarna putih yang disebut miselium awal dan akhirnya
tumbuh menjadi miselium dewasa (kumpulan hifa dikarion). Dalam tingkatan ini,
hifa-hifa mengalami tahapan plasmogami, kariogami, dan meiosis hingga membentuk
bakal jamur. Nantinya, jamur dewasa ini dapat langsung dipanen atau
dipersiapkan kembali menjadi bibit induk (Dwidjoseputro. D, 1994).
2.6 Pemasaran
Pemasaran adalah suatu proses social
yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan
inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk
yang bernilai dengan pihak lain (Philip Kotler,2002). Sistem pemasaran yang
dilakukan oleh petani jamur tiram yaitu menjual jamur tiram dalam bentuk eceran
ataupu borongan kepada konsumen secara langsung. Semakin pendek saluran
pemasaran maka saluran pemasaran semakin kecil, dan bagian yang diterima oleh
petani semakin besar. Keadaan ini menunjukkan bahwa pemasaran suatu komoditi
tersebut sudah efisien.
Secara umum jalur distribusi hanya
menggunakan saluran satu jalur, seperti yang telihat pada gambar dibawa ini :
1.
Produsen
Orang
yang menghasilkan barang dan jasa untuk dijual atau dipasarkan. produsen dalam
melakukan kegiatan ekonomi bertujuan untuk menghasilkan barang atau jasa yang
akan dijual kepada konsumen.
2.
Pengecer
Merupakan
lembaga pemasaran yang berhadapan langsung dengan konsumen. Pengecer merupakan
ujung tombak dari suatu proses produksi yang bersifat komersil. Artinya
kelanjutan proses produksi yang dilakukan oleh produsen dan lemabaga-lembaga
pemasaran sangat tergantung dengan aktivitas pengecer dalam menjual produk ke
konsumen. Oleh sebab itu tidak jarang suatu perusahaan menguasai proses
produksi sampai ke pengecer.
3.
Konsumen
Setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam
masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun
makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
2.7 Saluran Pemasaran
Sistem saluran pemasaran (marketing channel system)
adalah sekelompok saluran pemasaran tertentu yang digunakan oleh sebuah
perusahaan dan keputusan tentang sisem ini merupakan salah satu keputusan
terpenting yang dihadapi manjemen. peran utama saluran pemasaran adalah
mengubah pembeli potensial menjadi pelanggan yang menguntungkan. saluran
pemasaran tidak hanya melayani pasar, tetapi mereka juga harus membentuk pasar.
Dalam mengelola pelantara perusahaan harus memutuskan berapa besar usaha yang
dilakukan untuk melakukan strategi pemasaran dorong atau tarik yaitu :a Push
Strategi (strategi dorong) menggunakankan energy tenaga penjual, uang
promosi dagang, produsen untuk mendorong perantara membawa, mempromosikan, dan
menjual produk ke pengguna akhir. b.Pull Strategy (strategi tarik), dimana
produsen menggunakan Iklan, Promosi, Komunikasi, untuk meyakinkan konsumen agar
meminta produk dari perantara sehingga mendorong perantara memesan produk
tersebut (Kotler, Philip. 2000).
2.8 Harga
Agar dapat
sukses dalam memasarkan suatu produk, setiap produsen harus menetapkan harga
secara tepat. “Harga merupakan saru-satunya unsur bauran pemasaran yang
memberikan pemasukan atau pendapatan bagi produsen, sedangkan ketiga unsur
lainnya (produk,tempat, dan promosi) menyebabkan timbulnya biaya atau
pengeluaran.
Dalam
prmbentukan harga suatu produk pertanian terdapat tiga subyek yang menentukan
(Kotler, Philip. 2000) :
1.
Produsen dengan dasar biaya
produksi yang dikeluarkan sehingga produk ini berwujud dan siap di pasarkan.
2.
Konsumen dengan daya beli dan
dasar kebutuhan serta kesukaannya.
3.
Pemerintah dengan peraturan dan
ketentuan harga sebagai pengendali harga pasar.
2.9 Margin
Pemasaran
Margin pemasaran yaitu selisih harga jual dengan harga
beli dan merupakan salah indicator yang digunakan untuk mengukur tinggat
efisiensi suatu sistem pemasaran (Kotler, Philip. 2000).
2.10 Share Petani
Share petani yaitu persentase harga yang diterima
petani dibandingkan dengan harja jual pada pedagang pengecer maupun konsumen
akhir. Semakin tinggi tingkat persentase share petani yang diterima petani maka
dikatakan semakin efisien kegiatan pemasaran yang dilakukan sebaiknya semakin
rendah tingkat persentase share petani yang diterima petani, maka akan semakin rendah
pula tingkat efisiensi dari suatu pemasaran.
BAB III. URAIAN SINGKAT INSTANSI PKL
Usaha budidaya
jamur udayana di bangun pada tanggal 15 maret 2016, dengan modal awal yaitu
sebesar Rp.2.000.000,-, pemilik dari usaha budidaya jamur
udayana adalah bapak Muhammad Ma’arifufin atau biasa disebut pak amat.
Sebelum memulai usaha tersebut pak amat melakukan sebuah perencanaan tentang jamur ini dengan mengikuti acara acara yg di adakan dalam jamur tiram dalam sebuah seminar atau perkumpulan membahas budidaya jamur dan di ajarkan oleh guru yg sudah ahli dalam bidang budidaya jamur sehingga dapat di terapkan di kemudian hari. Dan melakukan survey pasar tentang permintaan produk jamur di sekitar kota Mataram, serta prospek pasarnya. Usaha budidaya jamur udayana memiliki rumah tempat membudidaya jamur tiram dengan ukuran 4x6
dan 5x10
dengan daya
tampung 1000 buah baglog smpai 3000 buah baglog (media tanam jamur).
Sebelum memulai usaha tersebut pak amat melakukan sebuah perencanaan tentang jamur ini dengan mengikuti acara acara yg di adakan dalam jamur tiram dalam sebuah seminar atau perkumpulan membahas budidaya jamur dan di ajarkan oleh guru yg sudah ahli dalam bidang budidaya jamur sehingga dapat di terapkan di kemudian hari. Dan melakukan survey pasar tentang permintaan produk jamur di sekitar kota Mataram, serta prospek pasarnya. Usaha budidaya jamur udayana memiliki rumah tempat membudidaya jamur tiram dengan ukuran 4x6
Kegiatan budidaya tersebut berhasil berproduksi secara berkelanjutan dan hasil keuntungan tersebut sebagian digunakan untuk memperbesar modal kinerja usaha jamur tiramnya. Usaha budidaya jamur udayana semakin membaik sampai tahun 2019 dan terus berkembang sehingga memiliki 3 tiga tempat budidaya jamur , 1 ruang pencampuran, 1 ruang inokulasi( pembibitan) dan 1 ruang inkubasi(penyimpananbibit).
Selain pada budidaya dan pengolahan hasil pemilik usaha jamur juga memproduksi bibit jamur tiram yang di budidaya sendiri, baik itu F0,F1,F2,dan F3. Dengan varietas jamur tiram floridan dan HU, coklat, aemtri. Pemilik usaha juga melakukan pendidikan dan pelatihan budidaya dan pengolahan jamur tiram untuk semua masyarakat baik itu secara individu maupun kelompok, di samping itu juga pemilik usaha jamur tiram melakukan pembinaan terhadap para mahasiswa/i yang PKL (Praktik kerja Lapangan) yang di tempatkan di Usaha Budidaya Jamur Udayana baik itu dari universitas negri maupun swasta.
Demikian sejarah singkat Usaha budidaya jamur Udayana yang menjadi inspirasi bagi yang lain dan semoga bermanfaat.
Ruang lingkup usahanya adalah usaha budidaya
jamur tiram, pengolahan jamur tiram menjadi kripik jamur tiram, jamur tiram
crispy dan sate jamur. Penjualan jamur tiram langsung dilakukan ke konsumen
akhir, baik di warga masyarakat sekitar lokasi budidaya dan menjual langsung ke
pasar. Salain itu pemilik usaha ini juga memiliki pelanggan tetap yaitu
restoran di kawasan Gomong yang hampir memesan jamur tiram segar setiap
harinya. Sedangkan untuk keripik jamur tiram dan jamur tiram crispy dibuat
ketika stok jamur segar melimpah dan untuk sate jamur tiram dibuat ketiak ada
pesana dari konsumen.
Adapun aset usaha yang dimiliki oleh Bapak Muhammad
Ma’arifudin. diantaranya :
1.
Modal usaha
Sumber modal usaha yang digunakan merupakan modal sendiri
dan tambahan dari bantun pemerintah atau pihak lainnya.
2.
Alat-alat yang
dimilki
Oven, kompor, tabung gas, bak, panci, sekop, keranjang,
selang air, cincin paralon, plastik, paralon pendek, karet, tali, koran,
cangkul,kusri kayu pendek, alat pres.
3.
Area/Tempat
Budidaya Jamur Tiram
Tempat yang digunakan dalam usaha ini adalah lahan milik
sendiri dengan menggunakan alat dan bahan yang sederhan. Lokasi yang digunakan
berada pada satu tempat dengan tiga pembagian yaitu tempat penyimpanan bag log
berupa rak-rak dari bambu dan tempat penyimpanan berupa tali yang menggantung
serta tempat penyampuran media tanam.
|
Pemilik/Manejer
Muhammad Ma’arifudin
|
|
Penanggung Jawab
Muhibah
|
|
Perlengkapan
Amar muis
|
|
Bidang Pemasaran dan olahan
Sahidi
|
Gambar 2. Struktur Organisasi budidayan Usaha jamur
udayana
BAB IV. KEGITAN PRAKTIK LAPANGAN
4.1. Waktu Kegiatan
Kegiatan PKL dimulai dari tanggal 25 September 2019 s/d 14 november 2019. Dalam seminggu kami bekerja sebanyak 6 hari kerja, yaitu Senin,
Selasa, Rabu, Kamis, Jum’a,t dan Sabtu.
4.2. Rencana
Kegiatan
Dalam mengembangkan suatu usaha dibutuhkan suatu perencanaan yang
matang karena tanpa adanya perencanaan suatu usaha tidak akan berjalan lancer,
begitu pula dengan kegiatan praktik lapangan (PKL). Tanpa adanya perencanaan
maka apa yang menjadi tujuan dan sasaran PKL tidak akan tercapai. Oleh Karena
itu untuk menunjang kesuksesan dari pelaksanaan PKL ini maka disusunlah rencana
kegiatan.
Rencana kegiatan dapat dilihat sebagai pada table dibawah ini :
|
No
|
Jenis
Kegiatan
|
Tanggal
Pelaksanaan
|
Lokasi
|
Keterangan
|
|
1.
|
Survei lokasi PKL
|
9 september 2019
|
Usaha budidaya Jamur
udayana
|
Menentukan lokasi yang sesuai dengan keinginan
|
|
2.
|
Pelepasan mahasiswa PKL
|
Jumat 20 september /14 November 2019
|
Usaha budidaya jamur
udayana
|
Pelepasan mahasiswa dilakukan sebagai bentuk
formalitas dari fakultas
|
|
3.
|
Penarikan Mahasiswa PKL
|
25 November 2019
|
Usahabudidaya jamur udayana
|
Penyeharan sertifikat Kepada Usaha budidaya
jamur udayana
|
5.1 Waktu dan Lokasi PKL
Pada awal kegiatan praktik kerja lapangan (PKL)
ini, anggota PKL melakukan survey di beberapa tempat yang akan dijadikan tempat
PKL nantinya. Ada beberapa tempat yang akan dijadikan lokasi PKL, dengan
berbagai pertimbangan jarak tempuh dari kampus dan rumah anggota PKL. Setelah
berdiskusi dengan anggota, maka disepati bahwa kegiatan PKL akan dilaksanakan
di “Usaha Budidaya Jamur Udayana”.
Kegiatan PKL (Praktik Kerja Lapangan) ini dilaksanakan dari tanggal 20 September 2019 Sampai 25 November 2019 dengan jadwal 6
hari kerja dalam seminggu, yaitu hari senin, selasa, rabu, kamis, jum’at, dan sabtu dimulai dari jam 07.30 WITA sampai dengan jam
12.00 WITA. Pada tanggal 20 Oktober 2019, anggota PKL melakukan perkenalan
kepada pemilik tempat PKL dan mendengarkan cerita tentang sejarah awal mulanya
didirikannya usaha budidaya jamur tiram berserta mendengarkan pemaparan pemilik tempat tentang apa saja yang
akan dilakukan dan apa saja yang akan diajarkan kepada peserta PKL.
5.2 Kegiatan Pelaksanaan PKL
Dalam
pelaksanaan kegiatan PKL di Usaha budidaya
jamur Udayana kegiatan-kegiatan
yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
Table 2 Daftar Kegitan Pelaksanaan PKL di Usaha budidaya Jamur udayana
|
No
|
Hari
/Tgl
|
Jenis
Kegiatan
|
|
Pelaksana
|
|
Tempat
|
|
1.
|
Jum’at,
20 September 2019
|
-
Pengenalan Lokasi
-
Pembekalan
-
Penyampuran
|
|
-
Pembimbing PKL
-
Dosen Pembibing PKL
|
|
Lokasi
PKL
|
|
2.
|
Senin,
23 September 2019
|
-
Penyiraman jamur
|
|
-
Pembimbing PKL
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
3.
|
Selasa,
24 September 2019
|
-
Pengisian bibit kedalam baglog (inokulasi)
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
4.
|
Rabu,
25 September 2019
|
-
Melakukan pencampuran
-
Pembuatan baglog
-
Penyiraman jamur di kumbung
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
5.
|
Kamis,
26 September 2019
|
- Pengisisan bibit kedalam baglog (inokulasi)
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
6.
|
Jum’at,
27 September 2019
|
- Pengisian bibit kedalam baglog (inokulasi)
- Pembuatan produksi baglog
- Sterilisasi baglog
- Penyiraman jamur
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
7.
|
Sabtu,
28 September 2019
|
-
Pengisian bibit ke dalam baglog (inokulasi)
-
Pembuatan produksi baglog
-
Sterilisasi
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
8.
|
Senin,
30 September 2019
|
-
Pembuatan produksi baglog
-
Streilisasi
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
9.
|
Selasa,
1 Oktober 2019
|
-
Pengisian bibit jamur ke dalam baglog
(inokulasi)
-
Pembuatan produksi baglog
-
Sterilisasi
|
|
-
Pembimbing PKL
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
10.
|
Rabu,
2 Oktober 2019
|
- Pembersihan botol bibit
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
11.
|
Kamis,
3 Oktober 2019
|
-
Pembersihan botol bibit
|
|
-
Pembimbing PKL
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
12.
|
Jumat, 4 Oktober 2019
|
-
Penyiraman jamur
-
Pembuatan kumbung jamur
|
|
-
Pembimbing PKL
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
13.
|
Sabtu, 5 Oktober 2019
|
-
Pembuatan produksi baglog
-
Strelisasi
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
14.
|
Senin, 7 Oktober 2019
|
-
Pemindahan baglog dari ruang inokulasi ke
ruang inkubasi (tempat penyimpanan jamur)
-
Pembuatan kumbung jamur
-
Pembersihan & pembuatan bibit
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
15.
|
Selasa, 8 Oktober 2019
|
-
Pembuatan kumbung jamur
-
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
16.
|
Rabu, 9 Oktober 2019
|
-
Pembersihan baglog jamur
|
|
-
Pembimbing PKL
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi Udayana
|
|
17.
|
Kamis, 10 Oktober 2019
|
-
Pembersihan baglog jamur
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
18.
|
Jum’at, 11 Oktober 2019
|
-
Pemindahan baglog dari ruang inkubasi ke
ruang pembuahan
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
19.
|
Sabtu, 12 Oktober 2019
|
-
sPemeliharaan baglog
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
20.
|
Senin, 14 Oktober 2019
|
-
Pemelihraan baglog
-
Pencampuran media jamur
|
|
-
Mahasiswa
|
|
-
Lokasi PKL
|
|
21.
|
Selasa, 15 Oktober 2019
|
-
Pemeliharaan baglog
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
22.
|
Rabu, 16 Oktober 2019
|
-
Pencampuran media jamur
-
Pembuatan produksi jamur
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
23.
|
Kamis, 17 Oktober 2019
|
-
Pencampuran
media jamur
-
Pembuatan produksi jamur
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
24.
|
Jum’at, 18 Oktober 2019
|
-
Pembuatan produksi jamur
-
Streilisasi
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
25.
|
Sabtu, 19 Oktober 2019
|
-
Pemindahan baglog dari ruang inokulasi ke
ruang inkubasi
-
Pemindahan baglog dari tempat streilisasi ke
ruang inokulasi (pembibitan)
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
26.
|
Senin, 21 Oktober 2019
|
-
Pembuatan produksi baglog
-
Sterilisasi
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
27.
|
Selasa, 22 Oktober 2019
|
-
Pengisian bibit ke dalam baglog (inokulasi)
-
Pemindahan baglod dari ruang inkubasi ke
ruang pembuahan
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
28.
|
Rabu, 23 Oktober 2019
|
-
Pemindahan baglog ke ruang inkubasi ke ruang
pembuahan
-
Pemindahan baglog dari ruang inokulasi ke ruang inkubasi
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
PKL
|
|
29.
|
Kamis, 24 Oktober 2019
|
-
Pemeliharaan jamur
|
|
-
Pembimbing PKL
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi
Udayana
|
|
30.
|
Jum’at, 25 Oktober 2019
|
-
Pembuatan produksi baglog
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
31.
|
Sabtu, 26 Oktober 2019
|
-
Pembuatan baglog
-
Sterilisasi
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
32.
|
Rabu, 30 Oktober 2019
|
-
Pengisian bibit ke dalam baglog (inokulasi)
-
Pembuatan produksi baglog
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
33.
|
Kamis, 31 Oktober 2019
|
-
Pemindahan baglog dari ruang inkubasi ke ruang pembuahan
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
34.
|
Jum’at, 1 November 2019
|
-
Pembuangan baglog yang lama
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
35.
|
Selasa, 5 November 2019
|
-
Pembuatan produksi baglog
-
Sterilisasi
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
36.
|
Rabu, 6 November 2019
|
-
Pemindahan baglog dari tempat sterilisasi ke
ruang inokulasi
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
37.
|
Kamis, 7 November 2019
|
-
Pengisian bibit ke dalam baglog
-
Pemindahan baglog dari ruang inokulasi ke
ruang inkubasi
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
38.
|
Jum’at, 8
November 2019
|
-
Pembersihan dan perawatan baglog jamur
-
Pengisian bibit ke dalam baglog
-
Pemindahan baglod dari ruang inokulasi ke
ruang inkubasi
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
39.
|
Rabu, 13 November 2019
|
-
Perwatan dan penyiraman baglog jamur
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
|
40.
|
Kamis, 14 November 2019
|
-
Pembersihan kumbung
-
Penyiraman baglog
-
Pembuatan produk olahan (sate jamur)
|
|
-
Mahasiswa
|
|
Lokasi PKL
|
Mengetahui,
|
Pemilik USAHA BUDIDAYA JAMUR UDAYANA
( )
|
Mahasiswa,
| |
|
Dosen Pembimbing PKL,
NIP :19610408 198703 1 002
|
BAB VI. HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN
6.1 Kegiatan Ditempat PKL
Kegiatan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dilakukan Di
bubudidaya usaha jamur udayana Dimana kegiatan yang
dilakukan di tempat PKL antara lain : Pencampuran
( serbuk kayu, dedak, kapur dan air), pemasaran, pengolahan jamur, pembuatan
bag log, sterilisasi, penyiraman, pembibitan, dan pembuatan F0.
6.2 Pemasaran
Rangkaian akhir \dari setiap aktivitas
usahatani adalah menjual hasil yang diperoleh. Pemasaran jamur tiram dilakukan saat jamur sudah besar atau payug jamur mekar.
6.3 Saluran Pemasaran
Pemasaran hasil
pertanian merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan dan
mengembangkan kegiatan pemasaran suatu produk, kita harus mempertimbangkan
saluran pemasaran yang dapat dipakai untuk menyalurkan produk dari produsen ke
konsumen.
Saluran
pemasaran yang digunakan ,yaitu :
Petani memasarkan hasil produksi
kepada pengempul kemudian pengempul memasarkannya kembali kepada konsumen.
6.4 Harga
Sebelum produk
dipasarkan sebaiknya mengetahui informasi pasar terkait harga agar mampu
memberikan keuntungan maksimum tentunya dengan menperhatikan mutu dan kualitas
jamur tersebut.
Harga
yang diberikan petani ke pengempul dalam bentuk per kg, harga yang diberikan Usaha Budidaya
jamur udayana ke penyalur sebesar Rp.20.000/kg.
kemudian harga yang diberikan pengempul ke konsumen sebesar Rp.25.000/kg.
6.5 Margin Pemasaran
Margin pemasaran dapat menggunakan rumus:
Dimana
:
M
= Margin pemasaran
Pr
= Harga jual produk di tingkat
Konsumen
Pf
= Harga jual produk di tingkat
Produsen
Dimana :
MP
= persen marjin pemasaran
Pf
= harga ditingkat produsen
Pr
= harga ditingkat konsumen akhir
6.6 Share Petani
Bagian yang diterima produsen
(share produsen)
Dimana :
SP = bagian yang diterima produsen
Pf = harga ditingkat produsen
Pr = harga ditingkat konsumen
Jadi
kesimpulannya, produsen pada usahatani atau budidaya jamur tiram yang dilakukan
di Usaha Budidaya Jamur Udayana dapat menerima bagian
sebesar 80% dan karena bagian yang diterima produsen>60%, maka dapat
disimpulkan bahwa pemasaran yang terjadi tergolong efisien.
BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa data yag
diperoleh dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.
Saluran pemasaran jamur tiram Di udayana
Petani memasarkan hasil
produksi kepada pengempul kemudian pengempul memasarkannya kembali kepada
konsumen.
2.
Share Petani
Share petani atau
bagian yang diterima produsen dalam hal ini di Usaha Budidaya Jamur Udayana adalah 80%, oleh karena
share petani > 60% maka dapat dikatakan bahwa pemasaran yang terjadi
tergolong efisien.
7.2. Saran
1.
Bagi mahasiswa yang
melaksanakan PKL untuk periode yang akan datang, diharapka untuk lebih disiplin
dan lebih aktif karena ilmu yang akan diperoleh sangatlah berharga agar
mahasiswa memiliki kemampuan terutama dalam berwirausahaan.
2.
Perlunya dibuatkan
peraturan yang ketat dan waktu yang lebih
efesian dalam kegiatan agar dapat melakukan semua kegitan budidaya.
3.
Bagi pihak-pihak yang
berkepentingan dalam usaha bidang budidaya, diharapkan dapat meningkatkan usaha
di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Amstrong, Gary,
dan Philip, Kotler. 2002. Dasar-dasar
Pemasaran. Jilid 1, Alih Bahasa.
Agromedia Pustaka, 2002. Budidaya Jamur Konsumsi: Shitake, Kuping,
Tiram, Ling Zhi, Merang. Jakarta.
Hal 22, 40.
Cahyana, Y. A, Muchorz, dan M.
Bakrun. 2001. Jamur Tiram. Penebar
Swadaya. Jakarta. Hal 1 ,8, 37 dan 38.
Cahyana, Y.A. 1997. Pembibitan, Pembudidayaan, Analisis Usaha
Jamur Tiram. Jakarta: Penebar Swadaya.
Dinas Pertanian, 2006, Budidaya Jamur Tiram. http://www.
Diperta, Jatim, go.id/ index. Php. 19 September 2007.
[Ditjen Hortikultura] Direktorat
Jenderal Hortikultura. 2011. Standar
Operaional Prosedur (SOP) Penanganan Pascapanen Jamur Tiram. Jakarta : Ditjen
Hortikultura
Dwidzo Seputro, D.1994. Pengantar Fungilog Tumbuhan. Gramedia
Pustaka Utara, Jakarta. Hal 139.
Kotler,
Philip. 2000. Manajemen Pemasaran.
Erlangga: Jakarta
Suriawiria, 1986. Pengantar untuk Mengenal dan Menanam Jamur.
Bandung : Angkasa Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar