Rabu, 18 Desember 2019

ANALISIS SALURAN PEMASARAN USAHA BUDIDAYA JAMUR


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Tuhan Pencipta Alam, salawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, seluruh keluarganya, sahabat-sahabatnya dan pengikutnya.
Dengan ini penyusun dapat menyelesaikan laporan praktik kerja lapangan yang berjudul “Analisis saluran pemasaran jamur tiram udayana kecematan selaparan kota mataram” tepat pada waktunya. Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa penulisan laporan ini dapat diselesaikan dengan baik karena bantuan, dukungan, bimbingan, dan arahan dari semua pihak maka penulisannya dapat diselesaikan dengan rencana yang telah di tentukan penyususn, untuk itu tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:
1.       Bapak Dr. Ir. Abdullah Usman, M.AGR.SC. selaku Ketua Program S1 Reguler Sore Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Mataram.
2.       Bapak Ir. Anwar, MP selaku Dosen Pembimbing PKL.
3.       Bapak Muhammad Ma’arifudin  sekaligus sebagai pembimbing lapangan, yang telah memberikan izin dan pengarahan kepada kami dalam pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan di lokasinya, dan ucapan terima kasih kepada bapak Muhammad Ma’arifudin yang telah membantu kelancaran Praktik Kerja Lapangan.
Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca, serta rekan-rekan mahasiswa program studi agribisnis yang akan mengambil program PKL kedepan.                                         

 



DAFTAR ISI







DAFTAR GAMBAR




DAFTAR GAMBAR


Gambar 1. Saluran Pemasaran Satu Jalur............................................................. 11

Gambar 2. Struktur Organisasi Usaha budidaya jamur tiram udayana................ 16

Gambar 2. Saluran Pemasaran Usaha budidaya jamur tiram udayana ................ 33

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kandungan Gizi Jamur Tiram.................................................................. 5

 

Table 2. Rencana Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) Usaha budidaya jamur tiram udayana             17

Table 3.Daftar Kegitan Pelaksanaan PKL di Usaha budidaya jamur tiram udayana             19






BAB I. PENDAHULUAN


Pengertian pertanian secara luas ialah pemanfaatan dari sumber daya hayati yang dilakukan oleh manusia dengan cara menanam tanaman yang produktif yang bisa menghasilkan serta dapat di pergunakan bagi kehidupan. Ataupun seluruh kegiatan yang mencakup kedalam pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan juga perikanan yang hasilnya bisa digunakan bagi kehidupan manusia. Tetapi arti pertanian secara sempit ialah proses dari budidaya tanaman pada suatu lahan yang hasilnya bisa mencukupi dari kebutuhan manusia. Ataupun proses dari bercocok tanam yang dilakukan di lahan yang sudah disiapkan sebelumnya dan kemudian dikelola menggunakan cara yang manual dan tidak terlalu banyak menggunakan manajemen. Pertanian awalnya dimulai dengan cara membuka suatu lahan dan menanami tanaman yang bisa dikonsumsi, kemudian setelah itu ditinggal dan masyarakat membuka lahan baru di tempat lain. Hal ini dikarenakan masyarakat kuno masih belum menetap dan masih berpindah-pindah tempat untuk mempertahankan hidupnya. Setelah itu masyarakat mulai menetap dan membuka lahan baru dan dibarengi dengan meningkatnya cara pengelolaan pertanian yang lebih baik. Juga mulai dibangunnya saluran irigasi yang baik bagi pertanian. Pada era globalisasi saat ini, akan sangat dibutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki gelar serjana tetapi juga ditunjang untuk memiliki keterampilan atau sebuah keahlian khusus oleh era saat ini. Karena keterampilan merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan dan mengembangkan pemikiran yang ada serta sebagai wadah dalam mempraktekan apa saja yang telah diperoleh dari bangku kuliah adalah dengan melakukan program kerja lapangan.
Seiring perkembangan zaman dan jumlah penduduk bumi yang semakin meningkat sehingga lahan yang dibutuhkan untuk tinggal semakin banyak, maka lama kelamaan lahan untuk bercocok tanam semakin sempit terutama di daerah perkotaan. Oleh karenanya banyak sekali muncul budidaya-budidaya yang dilakukan yaitu suatu budidaya jamur tiram. Budidaya jamur tiram dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan lahan pekarangan rumah.
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan sumber bahan pangan yang bernilai gizi tinggi, mengandung protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin. Oleh karena itu jamur tiram sebagai sayuran sangat aman dikonsumsi setiap hari, sumber yang baik untuk asam amino diperlukan dalam membentuk protein dalam tubuh, terutama vitamin B1, B2, dan sumber mineral terutama kalium dan fosfor. Jamur ini dibudidayakan dengan teknologi sederhan yaitu menggunakan media dari serbuk gergaji kayu ditambah dengan bahan sumplemen antara lain dedak, tepung jagung, kapur dan air.

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk :
1.      Mengetahui bagaimana saluran pemasaran jamur tiram.
2.      Mengetahui share petani jamur tiram.

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :
1.      Untuk mendapatkan pengetahuan dari lapangan langsung.
2.      Untuk mendapatkan pengetahuan tentang pembuatan jamur tiram.
3.      Sebagai bahan pertimbangan bagi petani jamur tiram untuk meningkatkan produksi dan memilih pola pemasaran yang tepat.
4.      Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang berminat pada masalah yang sama.






BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Gambaran Umum Jamur 

Jamur merupakan tumbuhan yang mudah dijumpai dan banyak terdapat di alam bebas, misalnyadi hutan atau di kebun, jamur dapat tumbuh sepanjang tahun, terutama pada musim hujan (Cahyana et al.,1997). Jamur sering juga disebut dengan nama supa (Sunda) atau mushroom (Inggris). Definisi lain menurut Cahyana (1997), jamur merupakan organisme yang tidak berklorofil sehingga jamur tidak dapat menyediakan makanan sendiri dengan cara fotosintesis seperti pada tanaman berklorofil. Jamur mengambil zat-zat makanan yang sudah jadi, yang dibuat atau dihasilkan oleh organisme lain untuk kebutuhan hidupnya. Karena ketergantungannya terhadap organisme lain, maka jamur digolongkan sebagai tanaman heterotrofik. Sementara bagi tanaman yang dapat menyediakan makanan sendiri, seperti karbohidrat (gula, pati, dan lain-lain), disebut autotrofik.
Menurut Redaksi Agromedia (2011) jamur selain memiliki banyak manfaat, ternyata ada jenis jamur tertentu yang mengandung racun. Racun jamur ini dapat merusak fungsi organ, bahkan memyebabkan kematian. Untuk mencegah terjadinya keracunan jamur, kita perlu mengetahui ciri-cirinya. Berikut kriteria fisik jamur beracun yang harus dihindari.
1.      Warna tubuh buah bervariasi, dari merah darah, kuning terang dan oranye, hingga putih atau pucat. 
2.      Biasanya memiliki cincin atau cawan pada pangkal batangnya.
3.      Mengeluarkan bau amoniak, seperti telor busuk.
4.      Jika dipotong dengan pisau stainless akan meninggalkan bekas hitam atau biru pada pisau.
5.      Jika dimasak, fisik jamur akan berubah menjadi gelap. 




Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan sebutan King Oyster Mushroom.(Pleurotus ostreatus) di sebut jamur tiram sebab mempunyai tubuh yang ada tangkainya dan biasanya tumbuh di samping atau tumbuh menyamping dan bentuknya mirip sekali dengan tiram. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering di kenal dengan sebuta King Oyster Mushrom (Cahyana, Y.A, muchroji dan M. Bakrun, 2001).
Jamur tiram putih (Pleurotus Sp.) merupakan jenis jamur kayu yang paling mudah dibudidayakan karena dapat tumbuh di berbagai macam jenis substrat dan mempunyai kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang tinggi. Kemampuan produksi jamur tiram pun relatif tinggi, dari 1.000 gram substrat kering, 50-70 persen jamur segar dapat dihasilkan, bahkan saat ini produktivitas panen sudah dapat ditingkatkan hingga 120-150 persen (Dirjen Hortikultura, 2011).
Budidaya jamur merupakan salah satu budidaya yang tidak mengenal musim dan tidak membutuhkan tempat yang luas. Jenis jamur tiram yang banyak dibudidayakan antara lain sebagai berikut:
a. Jamur tiram putih (Pleurotus Ostreatus)
b. Jamur tiram merah muda (Pleurotus Flatellatus)
c. Jamur tiram cokelat (Pleurotus Cycstidiosus)
d. Jamur tiram kuning terang (Pleurotus Citrinopelatus)
e. Jamur tiram abu-abu (Pleurotus sajor caju)
f. Jamur tiram hitam (Pleurotus Sapidus)  
Hasil panen jamur tersebut tak hanya untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri bahkan ada juga yang di ekspor seperti jamur kancing dan jamur payung. Media untuk pertumbuhan jamur dapat menggunakan limbah yaitu limbah pertanian (merang dan daun pisang) dan limbah industri (serbuk gergaji). Ramuan atau campuran yang digunakan sebagai media juga bermacam-macam, sedangkan metode yang digunakan untuk budidaya jamur ini juga bermacam-macam seperti cara ilmiah, konvensional,tradisional,dan semi modern (Agromedia pustaka,2002).
Ada beberapa syarat penting dalam budidaya jamur tiram. Adapun syarat-syarat tersebut menurut Dirjen Hortikultura (2011) sebagai berikut:
1)      Media Tumbuh 
Media untuk pertumbuhan jamur tiram dibuat menyerupai kondisi tempat tumbuh jamur tiram di alam. Bahan baku yang digunakan sebagai media dalam budidaya jamur tiram adalah serbuk gergaji. bekatul sebagai sumber karbohidrat, lemak dan protein, kapur (CaCO3) sebagai sumber mineral dan pengatur pH media serta gips sebagai bahan penambah mineral dan untuk mengokohkan media.
Ada beberapa komposisi campuran media antara serbuk gergaji dan penambahan nutrisi yang berbeda-beda. Salah satu komposisi campuran media tumbuh jamur tiram adalah serbuk gergaji (80 persen), bekatul (16 persen), kapur atau CaCO3 (2 persen) dan gips (2 persen).  
Kadar air media diatur antara 60-65 persen dengan cara menambahkan air bersih. Apabila air yang ditambahkan kurang maka penyerapan makanan oleh jamur menjadi kurang optimal sehingga jamur menjadi kurus. Apabila air yang ditambahkan terlalu banyak maka mengakibatkan busuk akar. Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Keasaman atau pH media perlu diatur antara pH enam sampai tujuh dengan penambahan kapur ke dalam media.
2)      Syarat Tumbuh 
Pertumbuhan jamur tiram putih yang baik yaitu saat suhu inkubasi atau saat jamur tiram putih membentuk miselium adalah berkisar antara 22-28°C dengan kelembaban udara antara 60-70 persen. Sedangkan suhu pada pembentukan tubuh buah berkisar antara 16-22°C dengan kelembaban udara antara 80-90 persen.
Pertumbuhan jamur tiram putih sangat peka terhadap cahaya secara langsung. Intensitas cahaya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur sekitar 200 lux (10 persen), sedangkan pada pertumbuhan miselium tidak diperlukan cahaya. Kandungan air dalam substrat berkisar antara 60-65 persen. Apabila kondisi kering maka pertumbuhan jamur akan terganggu atau terhenti, begitu pula sebaliknya apabila kadar air terlalu tinggi maka miselium akan membusuk dan mati. Penyemprotan air ke dalam ruangan dapat dilakukan untuk mengatur suhu dan kelembaban (Suriawira, 1986).
3)      Proses Budidaya 
Hal yang paling pertama dilakukan dalam budidaya jamur tiram putih yaitu pencampuran bahan baku. Menurut Suriawira (1986) serbuk kayu, dedak atau bekatul, jagung halus serta kapur yang telah ditimbang, kemudian dicampurkan. Pencampuran dapat dilakukan secara manual dengan tenaga manusia apabila kapasitas produksinya masih kecil. Kemudian, proses pengomposan dilakukan dengan cara membumbun campuran serbuk kayu atau gergaji, kemudian menutupnya secara rapat dengan menggunakan plastik selama satu sampai dua hari. Proses pengomposan yang baik ditandai dengan kenaikan suhu menjadi sekitar 50ºC, sedangkan kadar air campuran atau kompos harus diatur pada kondisi 50-60 persen dengan tingkat keasaman (pH) enam sampai tujuh (Cahyana et al., 1997) 
Tahapan selanjutnya yaitu pembungkusan dilakukan dengan menggunakan plastik poliprolene (PP). Pembungkusan dilakukan dengan cara memasukkan adonan ke dalam plastik kemudian ujung plastik disatukan dan dipasang cincin yang terbuat dari potongan pralon atau bambu kecil pada bagian leher plastik (Cahyana et al., 1997).  
Sterilisasi adalah suatu proses yang dilakukan untuk menginaktifkan mikrobe, baik bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 80 - 90ºC selama enam hingga delapan jam. Alat yang digunakan pada proses ini, dapat berbentuk drum minyak yang sedikit dimodifikasi dengan menambahkan sarangan sebagai pembatas antara air dengan tempat media (Suriawira, 1986). 
Setelah proses sterilisasi kemudian tahap selanjutnya adalah inokulasi. Inokulasi adalah proses pengisian bibit ke dalam media tanam pada tempat yang steril (Suriawira, 1986). Setelah di inokulasi kemudian dilakukan tahapan inkubasi dengan cara menyimpan media yang telah diisi dengan bibit pada kondisi tertentu agar miselia jamur tiram putih tumbuh. Suhu yang dibutuhkan untuk penumbuhan miselia antara 22 - 28ºC. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata. Biasanya media akan tampak putih secara merata antara 40 – 60 hari sejak dilakukan inokulasi. Keberhasilan pertumbuhan miselia jamur dapat diketahui sejak dua minggu setelah inkubasi (Suriawira, 1986). 
Media tumbuh jamur tiram putih yang sudah putih oleh miselia jamur tiram putih sudah siap untuk dilakukan penumbuhan. Penumbuhan dilakukan dengan cara membuka plastik atau media tumbuh yang sudah penuh oleh miselia. Pembukaan media dilakukan dengan tujuan memberikan oksigen yang cukup untuk pertumbuhan tubuh buah jamur. Tubuh buah tumbuh setelah satu sampai dua minggu dengan suhu 16 - 22ºC dan kelembapan 80 – 90 persen. Tubuh buah yang sudah tumbuh tersebut selanjutnya dibiarkan selama dua sampai tiga hari atau sampai mencapai pertumbuhan yang optimal (Cahyana et al., 1997) 
Panen dilakukan dengan cara mencabut seluruh rumpun jamur tiram putih yang ada. Pemanenan tidak dapat dilakukan dengan cara memotong cabang yang berukuran besar saja, sebab dalam satu rumpun jamur tiram putih mempunyai stadia pertumbuhan yang sama (Suriawira, 1986). Jamur tiram putih  yang sudah dipanen tidak perlu dipotong menjadi bagian per bagian tudung, tetapi hanya dibersihkan kotoran yang menempel pada bagian akarnya saja. Dengan cara tersebut, daya tahan simpan jamur tiram putih akan lebih lama. Jamur  tiram putih yang sudah dibersihkan dari kotoran yang menempel, dimasukkan ke dalam plastik dengan ukuran tertentu untuk dipasarkan dalam bentuk segar.   
Membudidaya Jamur Tiram memiliki berbagai keunggulan dibandingkan  dengan budidaya tanaman lainnya. Kelebihan Budidaya Jamur Tiram memiliki keunggulan antara lain:
1.      Jamur tiram sangat mudah di budidayakan , karena proses perlakuan dalam budidaya jamur tiram sangat berbeda dengan cara perlakuan pada budidaya tanaman lainya, dalam budidaya jamur tiram petani hanya perlu mengontrol kelembapan suhu tempat budidaya menjaga kebersihan lingkungan tempat budidaya dan menyiram setiap hari.
2.      Tidak memerlukan tempat atau lahan pertanian yang luas, jadi budidaya jamur bisa dilakukan di lahan yang sempit sekalipun, bahkan jika disiasati dalam lahan yang hanya beberapa meter saja kita bisa maksimal membudidayakan jamur tiram.
3.      Tidak memerlukan alat-alat bertani pada umumnya yaitu, cangkul,garfu tanah dan lainnya.
4.      Sangat toleran terhadap perubahan cuaca dan musim, jadi dalam musim dan cuaca apapun jamur tiram dapat tumbuh dengan baik dengan metode perlakuan yang berbeda disetiap perubahan kondisi lingkungannya
5.      Budidaya jamur lebih produktif dibanding tanaman pertanian lainnya, tidak mengenal waktu dan musim untuk dapat tumbuh dan dipanen
6.      Jamur tiram juga dapat hidup dan tumbuh di berbagai media tanam, jadi banyak alternatif bahan media yang dapat dipilih dan salahsatu andalan sebagai bahan baku media tanam jamur tiram adalah serbuk gergaji dan dedak yang sangat melimpah dinegara kita tercinta ini.
Dengan kelebihan-kelebihan budidaya jamur tiram diatas terutama dalam hal perlakuan budidaya, maka dapat disimpulkan bahwa budidaya jamur tiram sangat tidak menyita waktu sehingga budidaya jamur tiram dapat dijalankan sebagai usaha sampingan bagi mereka yang memiliki rutinitas kesibukan, dengan demikian maka usaha budidaya jamur dapat dijadikan salahsatu pilihan bagi mereka yang ingin menjalankan usaha sampingan (Dinas pertanian, 2007).
Pada umumnya jamur tiram, Pleurotus ostreatus, mengalami dua tipe perkembangbiakan dalam siklus hidupnya, yakni secara aseksual maupun seksual. Seperti halnya reproduksi aseksual jamur, reproduksi aseksual basidiomycota secara umum yang terjadi melalui jalur spora yang terbentuk secara endogen pada kantung spora atau sporangiumnya, spora aseksualnya yang disebut konidiospora terbentuk dalam konidium.
Sedangkan secara seksual, reproduksinya terjadi melalui penyatuan dua jenis hifa yang bertindak sebagai gamet jantan dan betina membentuk zigot yang kemudian tumbuh menjadi primodia dewasa. Spora seksual pada jamur tiram putih, disebut juga basidiospora yang terletak pada kantung basidium.
Mula-mula basidiospora bergerminasi membentuk suatu masa miselium monokaryotik, yaitu miselium dengan inti haploid. Miselium terus bertumbuh hingga hifa pada miselium tersebut berfusi dengan hifa lain yang kompatibel sehingga terjadi plasmogami membentuk hifa dikaryotik. Setelah itu apabila kondisi lingkungan memungkinkan (suhu antara 10-20 °C, kelembapan 85-90%, cahaya mencukupi, dan CO2 < 1000 ppm) maka tubuh buah akan terbentuk. Terbentuknya tubuh buah diiringi terjadinya kariogami dan meiosis pada basidium.
Nukleus haploid hasil meiosis kemudian bermigrasi menuju tetrad basidiospora pada basidium. Basidium ini terletak pada bilah atau sekat pada tudung jamur dewasa yang jumlahnya banyak (lamela). Dari spora yang terlepas ini akan berkembang menjadi hifa monokarion. Hifa ini akan memanjangkan filamennya dengan membentuk cabang hasil pembentukan dari dua nukleus yang dibatasi oleh septum (satu septum satu nukleus).
Kemudian hifa monokarion akan mengumpul membentuk jaringan sambung menyambung berwarna putih yang disebut miselium awal dan akhirnya tumbuh menjadi miselium dewasa (kumpulan hifa dikarion). Dalam tingkatan ini, hifa-hifa mengalami tahapan plasmogami, kariogami, dan meiosis hingga membentuk bakal jamur. Nantinya, jamur dewasa ini dapat langsung dipanen atau dipersiapkan kembali menjadi bibit induk (Dwidjoseputro. D, 1994).

2.6 Pemasaran

Pemasaran adalah suatu proses social yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain (Philip Kotler,2002). Sistem pemasaran yang dilakukan oleh petani jamur tiram yaitu menjual jamur tiram dalam bentuk eceran ataupu borongan kepada konsumen secara langsung. Semakin pendek saluran pemasaran maka saluran pemasaran semakin kecil, dan bagian yang diterima oleh petani semakin besar. Keadaan ini menunjukkan bahwa pemasaran suatu komoditi tersebut sudah efisien.
Secara umum jalur distribusi hanya menggunakan saluran satu jalur, seperti yang telihat pada gambar dibawa ini :
Gambar 3. Saluran Pemasaran Satu Jalur
1.        Produsen
Orang yang menghasilkan barang dan jasa untuk dijual atau dipasarkan. produsen dalam melakukan kegiatan ekonomi bertujuan untuk menghasilkan barang atau jasa yang akan dijual kepada konsumen.
2.        Pengecer
Merupakan lembaga pemasaran yang berhadapan langsung dengan konsumen. Pengecer merupakan ujung tombak dari suatu proses produksi yang bersifat komersil. Artinya kelanjutan proses produksi yang dilakukan oleh produsen dan lemabaga-lembaga pemasaran sangat tergantung dengan aktivitas pengecer dalam menjual produk ke konsumen. Oleh sebab itu tidak jarang suatu perusahaan menguasai proses produksi sampai ke pengecer.
3.        Konsumen
Setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

2.7 Saluran Pemasaran

Sistem saluran pemasaran (marketing channel system) adalah sekelompok saluran pemasaran tertentu yang digunakan oleh sebuah perusahaan dan keputusan tentang sisem ini merupakan salah satu keputusan terpenting yang dihadapi manjemen. peran utama saluran pemasaran adalah mengubah pembeli potensial menjadi pelanggan yang menguntungkan. saluran pemasaran tidak hanya melayani pasar, tetapi mereka juga harus membentuk pasar. Dalam mengelola pelantara perusahaan harus memutuskan berapa besar usaha yang dilakukan untuk melakukan strategi pemasaran dorong atau tarik yaitu :a Push Strategi (strategi dorong) menggunakankan energy tenaga penjual, uang promosi dagang, produsen untuk mendorong perantara membawa, mempromosikan, dan menjual produk ke pengguna akhir. b.Pull Strategy (strategi tarik), dimana produsen menggunakan Iklan, Promosi, Komunikasi, untuk meyakinkan konsumen agar meminta produk dari perantara sehingga mendorong perantara memesan produk tersebut (Kotler, Philip. 2000).

2.8 Harga

Agar dapat sukses dalam memasarkan suatu produk, setiap produsen harus menetapkan harga secara tepat. “Harga merupakan saru-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi produsen, sedangkan ketiga unsur lainnya (produk,tempat, dan promosi) menyebabkan timbulnya biaya atau pengeluaran.
Dalam prmbentukan harga suatu produk pertanian terdapat tiga subyek yang menentukan (Kotler, Philip. 2000) :
1.        Produsen dengan dasar biaya produksi yang dikeluarkan sehingga produk ini berwujud dan siap di pasarkan.
2.        Konsumen dengan daya beli dan dasar kebutuhan serta kesukaannya.
3.        Pemerintah dengan peraturan dan ketentuan harga sebagai pengendali harga pasar.

2.9  Margin Pemasaran

Margin pemasaran yaitu selisih harga jual dengan harga beli dan merupakan salah indicator yang digunakan untuk mengukur tinggat efisiensi suatu sistem pemasaran (Kotler, Philip. 2000).

2.10  Share Petani

Share petani yaitu persentase harga yang diterima petani dibandingkan dengan harja jual pada pedagang pengecer maupun konsumen akhir. Semakin tinggi tingkat persentase share petani yang diterima petani maka dikatakan semakin efisien kegiatan pemasaran yang dilakukan sebaiknya semakin rendah tingkat persentase share petani yang diterima petani, maka akan semakin rendah pula tingkat efisiensi dari suatu pemasaran.

 


BAB III. URAIAN SINGKAT INSTANSI PKL


3.1 Sejarah Singkat Berdirinya Usaha Budidaya jamur udayana
                 Usaha budidaya jamur udayana di bangun pada tanggal 15 maret 2016, dengan modal awal yaitu sebesar Rp.2.000.000,-, pemilik dari usaha budidaya jamur udayana adalah bapak Muhammad Ma’arifufin atau biasa disebut pak amat.
Sebelum memulai usaha tersebut pak amat melakukan sebuah perencanaan tentang jamur ini  dengan mengikuti acara acara yg di adakan dalam jamur tiram dalam sebuah seminar atau perkumpulan membahas budidaya jamur dan di ajarkan oleh guru yg sudah ahli dalam bidang budidaya jamur sehingga dapat di terapkan di kemudian hari. Dan melakukan survey pasar tentang permintaan produk jamur di sekitar kota Mataram, serta prospek pasarnya. Usaha budidaya jamur udayana memiliki rumah tempat membudidaya jamur tiram dengan ukuran 4x6 dan 5x10  dengan daya tampung 1000 buah baglog smpai 3000 buah baglog (media tanam jamur).

           Kegiatan budidaya tersebut berhasil berproduksi secara berkelanjutan dan hasil keuntungan tersebut sebagian digunakan untuk memperbesar modal kinerja usaha jamur tiramnya. Usaha budidaya jamur udayana semakin membaik sampai tahun 2019 dan terus berkembang sehingga memiliki 3 tiga tempat budidaya jamur , 1 ruang pencampuran, 1 ruang inokulasi( pembibitan) dan 1 ruang inkubasi(penyimpananbibit).

           Selain pada budidaya dan pengolahan hasil pemilik usaha jamur juga memproduksi bibit jamur tiram yang di budidaya sendiri, baik itu F0,F1,F2,dan F3. Dengan varietas jamur tiram floridan dan HU, coklat, aemtri. Pemilik usaha juga melakukan pendidikan dan pelatihan budidaya dan pengolahan jamur tiram untuk semua masyarakat baik itu secara individu maupun kelompok, di samping itu juga pemilik usaha jamur tiram melakukan pembinaan terhadap para mahasiswa/i yang PKL (Praktik kerja Lapangan) yang di tempatkan di Usaha Budidaya Jamur Udayana baik itu dari universitas negri maupun swasta.

    Demikian sejarah singkat Usaha budidaya jamur Udayana yang menjadi inspirasi bagi yang lain dan semoga bermanfaat.
         
     Ruang lingkup usahanya adalah usaha budidaya jamur tiram, pengolahan jamur tiram menjadi kripik jamur tiram, jamur tiram crispy dan sate jamur. Penjualan jamur tiram langsung dilakukan ke konsumen akhir, baik di warga masyarakat sekitar lokasi budidaya dan menjual langsung ke pasar. Salain itu pemilik usaha ini juga memiliki pelanggan tetap yaitu restoran di kawasan Gomong yang hampir memesan jamur tiram segar setiap harinya. Sedangkan untuk keripik jamur tiram dan jamur tiram crispy dibuat ketika stok jamur segar melimpah dan untuk sate jamur tiram dibuat ketiak ada pesana dari konsumen.
Adapun aset usaha yang dimiliki oleh Bapak Muhammad Ma’arifudin. diantaranya :
1.      Modal usaha
Sumber modal usaha yang digunakan merupakan modal sendiri dan tambahan dari bantun pemerintah atau pihak lainnya.

2.      Alat-alat yang dimilki
Oven, kompor, tabung gas, bak, panci, sekop, keranjang, selang air, cincin paralon, plastik, paralon pendek, karet, tali, koran, cangkul,kusri kayu pendek, alat pres.
3.      Area/Tempat Budidaya Jamur Tiram
Tempat yang digunakan dalam usaha ini adalah lahan milik sendiri dengan menggunakan alat dan bahan yang sederhan. Lokasi yang digunakan berada pada satu tempat dengan tiga pembagian yaitu tempat penyimpanan bag log berupa rak-rak dari bambu dan tempat penyimpanan berupa tali yang menggantung serta tempat penyampuran media tanam.


Pemilik/Manejer
Muhammad Ma’arifudin

Penanggung Jawab
                     Muhibah
Perlengkapan
Amar muis
Bidang Pemasaran dan olahan
Sahidi
 
 






Gambar 2. Struktur Organisasi budidayan Usaha jamur udayana



BAB IV. KEGITAN PRAKTIK LAPANGAN


4.1. Waktu Kegiatan

Kegiatan PKL dimulai dari tanggal 25 September 2019 s/d 14 november 2019. Dalam seminggu kami bekerja sebanyak 6 hari kerja, yaitu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’a,t dan Sabtu.

 

4.2. Rencana Kegiatan

Dalam mengembangkan suatu usaha dibutuhkan suatu perencanaan yang matang karena tanpa adanya perencanaan suatu usaha tidak akan berjalan lancer, begitu pula dengan kegiatan praktik lapangan (PKL). Tanpa adanya perencanaan maka apa yang menjadi tujuan dan sasaran PKL tidak akan tercapai. Oleh Karena itu untuk menunjang kesuksesan dari pelaksanaan PKL ini maka disusunlah rencana kegiatan.

Rencana kegiatan dapat dilihat sebagai pada table dibawah ini :
Table 3. Rencana Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) Usaha Budidaya Jamur Udayana
No
Jenis Kegiatan
Tanggal Pelaksanaan
Lokasi
Keterangan
1.
Survei lokasi PKL  
9 september 2019
Usaha budidaya Jamur udayana
Menentukan lokasi yang sesuai dengan keinginan
2.
Pelepasan mahasiswa PKL
Jumat 20 september /14 November  2019
Usaha budidaya jamur udayana
Pelepasan mahasiswa dilakukan sebagai bentuk formalitas dari fakultas
3.
Penarikan Mahasiswa  PKL
25 November 2019
Usahabudidaya jamur udayana
Penyeharan sertifikat Kepada Usaha budidaya jamur udayana


5.1 Waktu dan Lokasi PKL

     Pada awal kegiatan praktik kerja lapangan (PKL) ini, anggota PKL melakukan survey di beberapa tempat yang akan dijadikan tempat PKL nantinya. Ada beberapa tempat yang akan dijadikan lokasi PKL, dengan berbagai pertimbangan jarak tempuh dari kampus dan rumah anggota PKL. Setelah berdiskusi dengan anggota, maka disepati bahwa kegiatan PKL akan dilaksanakan di “Usaha Budidaya Jamur Udayana”.
                
    Kegiatan PKL (Praktik Kerja Lapangan) ini dilaksanakan dari tanggal 20 September 2019 Sampai 25 November 2019 dengan jadwal 6 hari kerja dalam seminggu, yaitu hari senin, selasa, rabu, kamis, jum’at, dan sabtu dimulai dari jam 07.30 WITA sampai dengan jam 12.00 WITA. Pada tanggal 20 Oktober 2019, anggota PKL melakukan perkenalan kepada pemilik tempat PKL dan mendengarkan cerita tentang sejarah awal mulanya didirikannya usaha budidaya jamur tiram berserta mendengarkan pemaparan pemilik tempat tentang apa saja yang akan dilakukan dan apa saja yang akan diajarkan kepada peserta PKL.

5.2 Kegiatan Pelaksanaan PKL

              Dalam pelaksanaan kegiatan PKL di  Usaha budidaya jamur Udayana kegiatan-kegiatan yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
Table 2  Daftar Kegitan Pelaksanaan PKL di Usaha budidaya Jamur udayana
No
Hari /Tgl
Jenis Kegiatan

Pelaksana

Tempat
1.
Jum’at, 20 September 2019
-         Pengenalan Lokasi
-         Pembekalan
-         Penyampuran

-                      Pembimbing    PKL
-                      Dosen Pembibing          PKL

Lokasi PKL
2.
Senin, 23 September 2019
-         Penyiraman jamur

-                      Pembimbing PKL
-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
3.
Selasa, 24 September 2019
-         Pengisian bibit kedalam  baglog  (inokulasi)

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
4.
Rabu, 25 September 2019
-         Melakukan pencampuran
-         Pembuatan baglog
-         Penyiraman jamur di kumbung


-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
5.
Kamis, 26 September 2019
- Pengisisan bibit kedalam baglog (inokulasi)

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
6.
Jum’at, 27 September 2019
- Pengisian bibit kedalam baglog (inokulasi)
-  Pembuatan produksi baglog
- Sterilisasi baglog
- Penyiraman jamur

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
7.
Sabtu, 28 September 2019
-         Pengisian bibit ke dalam baglog (inokulasi)
-         Pembuatan produksi baglog
-         Sterilisasi  

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
8.
Senin, 30 September 2019
-         Pembuatan produksi baglog
-         Streilisasi  

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
9.
Selasa, 1 Oktober 2019
-         Pengisian bibit jamur ke dalam baglog (inokulasi)
-         Pembuatan produksi baglog
-         Sterilisasi  

-                      Pembimbing PKL
-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
10.
Rabu, 2 Oktober 2019
-    Pembersihan botol bibit

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
11.
Kamis, 3 Oktober 2019
-         Pembersihan botol bibit

-                      Pembimbing PKL
-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
12.
Jumat, 4 Oktober 2019
-         Penyiraman jamur
-         Pembuatan kumbung jamur

-                      Pembimbing PKL
-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
13.
Sabtu, 5 Oktober 2019
-         Pembuatan produksi baglog
-         Strelisasi

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
14.
Senin, 7 Oktober 2019
-         Pemindahan baglog dari ruang inokulasi ke ruang inkubasi (tempat penyimpanan jamur)
-         Pembuatan kumbung jamur
-         Pembersihan & pembuatan bibit

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
15.
Selasa, 8 Oktober 2019
-         Pembuatan kumbung jamur
-          

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
16.
Rabu, 9 Oktober 2019
-         Pembersihan baglog jamur

-                      Pembimbing PKL
-                      Mahasiswa

Lokasi Udayana
17.
Kamis, 10 Oktober 2019
-         Pembersihan baglog jamur  

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
18.
Jum’at, 11 Oktober 2019
-         Pemindahan baglog dari ruang inkubasi ke ruang pembuahan

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
19.
Sabtu, 12 Oktober 2019
-         sPemeliharaan baglog

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
20.
Senin, 14 Oktober 2019
-         Pemelihraan baglog
-         Pencampuran media jamur

-                      Mahasiswa

-                      Lokasi PKL

21.
Selasa, 15 Oktober 2019
-         Pemeliharaan baglog

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
22.
Rabu, 16 Oktober 2019
-         Pencampuran media jamur
-         Pembuatan produksi jamur

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
23.
Kamis, 17 Oktober 2019
-         Pencampuran  media jamur
-         Pembuatan produksi jamur

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
24.
Jum’at, 18 Oktober 2019
-         Pembuatan produksi jamur
-         Streilisasi

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
25.
Sabtu, 19 Oktober 2019
-         Pemindahan baglog dari ruang inokulasi ke ruang inkubasi
-         Pemindahan baglog dari tempat streilisasi ke ruang inokulasi (pembibitan)

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
26.
Senin, 21 Oktober 2019
-         Pembuatan produksi baglog
-         Sterilisasi

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
27.
Selasa, 22 Oktober 2019
-         Pengisian bibit ke dalam baglog (inokulasi)
-         Pemindahan baglod dari ruang inkubasi ke ruang pembuahan

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
28.
Rabu, 23 Oktober 2019
-         Pemindahan baglog ke ruang inkubasi ke ruang pembuahan
-         Pemindahan baglog  dari ruang inokulasi ke ruang inkubasi

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
29.
Kamis, 24 Oktober 2019
-         Pemeliharaan jamur

-                      Pembimbing PKL
-                      Mahasiswa

Lokasi Udayana
30.
Jum’at, 25 Oktober 2019
-         Pembuatan produksi baglog

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
31.
Sabtu, 26 Oktober 2019
-         Pembuatan baglog
-         Sterilisasi

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
32.
Rabu, 30 Oktober 2019
-         Pengisian bibit ke dalam baglog (inokulasi)
-         Pembuatan produksi baglog

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
33.
Kamis, 31 Oktober 2019
-         Pemindahan baglog dari ruang inkubasi  ke ruang pembuahan

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
34.
Jum’at, 1 November 2019
-         Pembuangan baglog yang lama

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
35.
Selasa, 5 November 2019
-         Pembuatan produksi baglog
-         Sterilisasi

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
36.
Rabu, 6 November 2019
-         Pemindahan baglog dari tempat sterilisasi ke ruang inokulasi

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
37.
Kamis, 7 November 2019
-         Pengisian bibit ke dalam baglog
-         Pemindahan baglog dari ruang inokulasi ke ruang inkubasi

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
38.
Jum’at, 8

November 2019
-         Pembersihan dan perawatan baglog jamur
-         Pengisian bibit ke dalam baglog
-         Pemindahan baglod dari ruang inokulasi ke ruang inkubasi

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
39.
Rabu, 13 November 2019
-         Perwatan dan penyiraman baglog jamur

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL
40.
Kamis, 14 November 2019
-         Pembersihan kumbung
-         Penyiraman baglog
-         Pembuatan produk olahan (sate jamur)

-                      Mahasiswa

Lokasi PKL


                    




Mengetahui,
Pemilik USAHA BUDIDAYA JAMUR UDAYANA




(                                                      )       (                                                      )
Mahasiswa,






Dosen Pembimbing PKL,




NIP :19610408 198703 1 002



     

 




 


BAB VI.  HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN


6.1 Kegiatan Ditempat PKL

Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dilakukan Di bubudidaya usaha jamur udayana Dimana kegiatan yang dilakukan di tempat PKL antara lain : Pencampuran ( serbuk kayu, dedak, kapur dan air), pemasaran, pengolahan jamur, pembuatan bag log, sterilisasi, penyiraman, pembibitan, dan pembuatan F0.

6.2 Pemasaran

Rangkaian akhir \dari setiap aktivitas usahatani adalah menjual hasil yang diperoleh. Pemasaran jamur tiram dilakukan saat jamur sudah besar atau payug jamur mekar.

6.3 Saluran Pemasaran

Pemasaran hasil pertanian merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan kegiatan pemasaran suatu produk, kita harus mempertimbangkan saluran pemasaran yang dapat dipakai untuk menyalurkan produk dari produsen ke konsumen.
Saluran pemasaran yang digunakan ,yaitu :
 
 Gambar 4. Saluran Pemasaran Jamur tiram udayana
Petani memasarkan hasil produksi kepada pengempul kemudian pengempul memasarkannya kembali kepada konsumen.


 

 

6.4 Harga

Sebelum produk dipasarkan sebaiknya mengetahui informasi pasar terkait harga agar mampu memberikan keuntungan maksimum tentunya dengan menperhatikan mutu dan kualitas jamur tersebut.
            Harga yang diberikan petani ke pengempul dalam bentuk per kg, harga yang diberikan Usaha Budidaya jamur udayana ke penyalur sebesar Rp.20.000/kg. kemudian harga yang diberikan pengempul ke konsumen sebesar Rp.25.000/kg.

6.5 Margin Pemasaran

Margin pemasaran dapat menggunakan rumus:
Dimana :
            M    =  Margin pemasaran
            Pr    =  Harga jual produk di tingkat Konsumen
            Pf    =  Harga jual produk di tingkat Produsen


Dimana :
MP = persen marjin pemasaran
Pf = harga ditingkat produsen
Pr = harga ditingkat konsumen akhir

 




6.6 Share Petani

Bagian yang diterima produsen (share produsen)

                                            
Dimana :
SP = bagian yang diterima produsen
Pf = harga ditingkat produsen
Pr = harga ditingkat konsumen


Jadi kesimpulannya, produsen pada usahatani atau budidaya jamur tiram yang dilakukan di Usaha Budidaya Jamur Udayana  dapat menerima bagian sebesar 80% dan karena bagian yang diterima produsen>60%, maka dapat disimpulkan bahwa pemasaran yang terjadi tergolong efisien.



BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN


7.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa data yag diperoleh dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.        Saluran pemasaran jamur tiram Di udayana
Petani memasarkan hasil produksi kepada pengempul kemudian pengempul memasarkannya kembali kepada konsumen.
2.        Share Petani
Share petani atau bagian yang diterima produsen dalam hal ini di Usaha Budidaya Jamur Udayana adalah 80%, oleh karena share petani > 60% maka dapat dikatakan bahwa pemasaran yang terjadi tergolong efisien.

7.2. Saran

1.        Bagi mahasiswa yang melaksanakan PKL untuk periode yang akan datang, diharapka untuk lebih disiplin dan lebih aktif karena ilmu yang akan diperoleh sangatlah berharga agar mahasiswa memiliki kemampuan terutama dalam berwirausahaan.
2.        Perlunya dibuatkan peraturan yang ketat dan waktu yang lebih efesian dalam kegiatan agar dapat melakukan semua kegitan budidaya.
3.        Bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam usaha bidang budidaya, diharapkan dapat meningkatkan usaha di masa yang akan datang.



DAFTAR PUSTAKA


Amstrong, Gary, dan Philip, Kotler. 2002. Dasar-dasar Pemasaran. Jilid 1, Alih Bahasa.
Agromedia Pustaka, 2002. Budidaya Jamur Konsumsi: Shitake, Kuping, Tiram,  Ling Zhi, Merang. Jakarta. Hal 22, 40.
Cahyana, Y. A, Muchorz, dan M. Bakrun. 2001. Jamur Tiram. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal 1 ,8, 37 dan 38.
Cahyana, Y.A. 1997. Pembibitan, Pembudidayaan, Analisis Usaha Jamur Tiram. Jakarta: Penebar Swadaya.
Dinas Pertanian, 2006, Budidaya Jamur Tiram. http://www. Diperta, Jatim, go.id/ index. Php. 19 September 2007.
[Ditjen Hortikultura] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2011. Standar Operaional Prosedur (SOP) Penanganan Pascapanen Jamur Tiram. Jakarta : Ditjen Hortikultura
Dwidzo Seputro, D.1994. Pengantar Fungilog Tumbuhan. Gramedia Pustaka Utara, Jakarta. Hal 139.
Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran. Erlangga: Jakarta
Suriawiria, 1986. Pengantar untuk Mengenal dan Menanam Jamur. Bandung :  Angkasa Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

VARIASI BAHASA DALAM JUAL BELI ONLINE

VARIASI BAHASA DALAM JUAL BELI ONLINE