JERAT
DALAM SESAT
"Kafe
loise, jam 8 malam ya. Meja nomor 10, Aku tunggu"
"Oke,
see you "
Kubaca lagi pesan singkat itu.
Sekarang jam telah menunjukkan pukul setengah 8 malam. artinya setengah jam
lagi, aku akan bertemu dia. Zara , wanita yang kukenal lewat sosial media.
Awalnya Zara tak sengaja melihat postingan foto hasil gambaranku dalam akun media
sosialku. Katanya gambaranku keren dan banyak pujian lain yang ia lontarkan,
sejak itu kami berteman.
Setelah saling bertukar pesan selama
kurang lebih 3 bulan. Kami akhirnya memutuskan untuk bertemu. Zara tinggal di Jakarta
Selatan sementara aku tinggal di Semarang itu sebabnya kami tidak bisa bertemu
sebelumnya, dan kebetulan sekarang aku sedang mengikuti lomba yang berhubungan
dengan gambar di Jakarta.
Kuperhatikan lagi cermin di hadapanku, menampilkan dengan jelas siluet tubuhku. Kaos
hitam dengan celana jeans bertengger pas menutupi bagian tubuhku. Aku mengambil
arloji dan kupasang di tanganku. Terakhir, Kusisir rambutku menggunakan jari
tangan.
" Sep, aku memang ganteng " kataku
yang tanpa malu memuji diri sendiri. Tiba-tiba ponselku berdering menandakan
adanya panggilan masuk di sana. Setelah menjawab panggilan telefon yang
ternyata driver grab yang ku order sudah tiba, aku mengambil dompetku kemudian
turun ke lobi. Aku menginap di salah satu hotel di Jakarta. Bukan hotel mewah, tapi
cukup nyaman. Aku menghampiri driver grab
di depan lobi dengan motor scoopynya, aku sengaja memilih menaiki motor
mengingat jalanan Jakarta yang begitu
macet.
"
sesuai alamat di aplikasi ya mas ? " kata driver grab bertanya kepadaku.
"
iya pak " jawabku sambil menaiki motornya. Kemudian ia melajukan motornya
menuju tempat tujuanku untuk bertemu Zara.
Selama perjalanan, yang ada di
pikiranku hanyalah Zara. Aku begitu penasaran bagaimana wajah Zara, apakah sama
seperti postingan foto-foto di akun media sosialnya. Selama 3 bulan
berkomunikasi dengan Zara yang kutahu dia gadis yang terlihat cuek namun sebenarnya
ia begitu perhatian. Tak heran aku sedikit menaruh rasa selama dekat dengannya.
"
sudah sampai mas, kafe Loise kan? " tanya driver grab yang sudah menepikan
motornya. Aku tersadar dari lamunanku akibat pertanyaan driver grab itu.
"ah
iya pak " jawabku sambil turun dari motornya. Aku membuka dompetku dan
mencari uang sepuluh ribuan disana.
"Makasih
ya pak " aku memberikan uang itu
kepada driver grab sebagai ongkos karena telah mengantarku ke tempat ini.
"Sama-sama,
mari mas" kata driver grab setelah mengambil ongkosnya kemudian melajukan
motornya meninggalkanku di depan kafe loise itu.
Lama kupandangi kafe tipe outdoor
itu. Aku gugup, takut rupaku tak sesuai ekspetasi Zara. Kulangkahkan kaki memasuki
area kafe. Kuedarkan pandanganku mencari meja bernomor 10. Akhirnya kutemukan
meja itu di pojok ruangan kafe. Di tempat duduknya tampak seorang wanita membelakangiku
dengan rambut sebahu yang di warnai duduk sambil menghisap rokoknya. Aku
meneguk ludahku gugup, kemudian kuhampiri wanita itu.
"Zara?"
Tanyaku hati-hati takut aku salah orang. Wanita itu berbalik menampakkan
wajahnya. Matanya bulat indah dengan pipi yang sedikit tirus.
"Hai
, Ardi kan? " tanyanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Senyumnya sangat manis membuatku terpesona seketika.
"Ah
i-iya " jawabku gugup karena salah tingkah melihat senyumannya. Kemudian
aku membalas uluran tangannya.
"duduk
dulu " katanya sambil melirik bangku di hadapannya. Kemudian aku mengikuti
arahan Zara dan duduk tepat di hadapannya. Aku sedikit kaget mengetahui Zara
adalah seorang perokok. Tapi yang kutahu di Jakarta memang banyak wanita
perokok.
"Mau
rokok?" Tanyanya menawarkan kotak rokoknya padaku.
"Ah
aku gak ngerokok " jawabku dengan sopan menolak tawarannya. Dia kemudian
mengangguk mengerti.
"Akhirnya
kita bertemu ya. Bagaimana lomba kamu, sukses? " tanyanya yang mencoba
memulai obrolan.
"Aku
sudah menggambar sebisaku, semoga saja bisa juara " jawabku membalas
pertanyaannya. Terlihat raut wajahku yang kurang yakin dengan hasil gambaranku
dalam lomba tadi.
"Udah
pastilah juara, gambar kamu kan bagus banget
" jawabnya antusias memuji gambaranku. Entah iya tulus memuji atau sekedar
mencoba menghiburku.
"
berhenti memujiku kamu membuat aku malu " jawabku dengan muka memerah
karena malu dan senang dengan pujian Zara.
"Hahaha,
benaran kok gambar kamu bagus banget" Kata Zara dengan jujur sambil
tertawa melihat wajah memerahku.
Setelahnya banyak yang kami
bicarakan. Aku jadi semakin banyak mengetahui hal-hal tentang Zara. Ternyata Zara
seorang anak yatim, ayahnya meninggal saat ia masih kecil, kemudian ibunya
mengidap penyakit kejiwaan dan sekarang ada di salah satu rumah sakit jiwa di Jakarta
selatan. Ia yang merupakan anak tunggal memilih tinggal sendiri karena tak mau
merepotkan keluarga ibunya. Untuk menghidupi dirinya, dia bekerja sebagai
penyanyi di sebuah kafe. Ia tidak melanjutkan pendidikannya ke universitas
karena biaya. Kemandirian Zara membuatku menjadi kagum dengan wanita itu,
mungkin perasanku padanya semakin besar.
"
kamu kapan balik ke Semarang? " tanyanya padaku. Kami sudah berdiri di
depan hotel tempatku menginap. Dia mengantarku pulang.
“Lusa,
besok diberi waktu untuk jalan-jalan" aku menjawab pertanyaannya.
"Mau
temani aku ke tempat kerjaku tidak?" Kata Zara mengajakku ke tempat
kerjanya.
"Boleh
saja, kebetulan aku sedang tak ada janji " jawabku mengiyakan ajakannya.
"Oke,
besok malam aku jemput ke hotelmu ya" jawab Zara senang karena aku mau ikut dengannya.
"Okey"
jawabku sambil tersenyum.
Kemudian dia melajukan motornya
meninggalkanku pulang menuju rumahnya.
●●●
Keesokan harinya. jam sudah menunjukkan
pukul 9 malam. Namun, Zara belum juga datang. Aku menunggunya sedari tadi di lobi
hotel. Sambil menunggu aku memainkan
game yang ada di ponselku. Saat asyik bermain game, tiba-tiba ada telefon masuk
menampilkan nama Zara di layar ponselku. Setelah menjawab telefon itu aku
berjalan keluar hotel, untuk menemui Zara yg menunggu di depan.
"Maaf
banget ya ar, tadi ban motor aku bocor" kata Zara yang menyesal telah
terlambat menjemputku. Melihat wajah menyesalnya yang begitu imut aku jadi tak
tega.
"Gak
papa kok, santai aja ra" jawabku menenangkannya.
"Ya
sudah ayo berangkat" kata Zara sambil memberiku helm untuk melindungi
kepalaku.
Aku memilih untuk membawa motor Zara,
karena aku gengsi dibonceng wanita. Aku melajukan motorku ke arah yang di
tunjukan oleh Zara. Tak lama kami sampai di sebuah kafe yang lebih mirip dengan
klub malam. Setelah memarkirkan motor di tempat pegawai kami memasuki kafe itu.
Saat tiba di dalam kafe bau rokok dengan alkohol bercampur di dalamnya
membuatku risih. Namun, aku tak mau menampakkan wajah risihku di hadapan Zara
takut menyinggung perasaannya.
"Duduk
situ dulu ya, aku mau siapin alat musiknya dulu " kata Zara yang
menyuruhku untuk duduk di salah satu kursi.
"Oh,
oke" jawabku kemudian duduk di kursi tersebut. Zara pergi meninggalkanku
menyiapkan alat musik untuk dia bernyanyi nantinya.
"Mau
minum apa mas?" Tanya pelayan wanita dengan pakaian minim kepadaku.
Aku melihat-lihat daftar menu di buku
menu. tak ada yang kumengerti dengan nama-nama minuman di sana.
"Air
putih saja mbak" kataku yang akhirnya memilih memesan air putih karena
takut salah memesan minuman. Terlihat wanita itu tersenyum geli menahan tawa
mendengar perkataanku.
"Oke,
ditunggu ya mas" jawab wanita itu lalu pergi mengambil pesananku.
Tepuk tangan riuh terdengar di
sekelilingku. Terlihat Zara di atas panggung kecil dengan gitar di tangannya.
Lampu panggung menyoroti wajah cantiknya itu.
"Oke,
jadi lagu kali ini spesial saya persembahkan untuk pemuda tampan berkaus biru yang duduk di meja
nomor 10 di sana " kata Zara sambil menunjuk ke arahku. Serempak para
pengunjung di kafe itu menengok ke arahku. Membuatku tertunduk malu. Tak lama
setelah itu Zara mulai bernyanyi. Suaranya merdunya melantunkan nada-nada indah
ditambah dengan suara gitar yang dimainkannya. Lagu say you won't let me go
dari James Arthur dibawakan Zara begitu mendalam, membuatku tak bisa
berkata-kata selain memandang wajahnya. Apakah ini perasaan Zara padaku? Pertanyaan itu terus menerus muncul di
otakku.
Tepuk tangan riuh kembali terdengar
setelah Zara selesai bernyanyi, membuatku tersadar dari lamunanku. Kutatap
panggung tempat Zara bernyanyi tadi namun ia sudah tak ada di sana. Kuedarkan
pandanganku mencari keberadaannya.
"Mencariku?"
Tanya wanita berdiri di sampingku. Kutengokkan kepala ke arahnya dan ternyata
itu Zara dengan senyum manis di wajahnya. Aku berdiri kemudian menariknya ke dalam
pelukanku. Ia membalas memelukku.
"Aku
sangat mencintaimu ardi" kata Zara dalam pelukanku.
"Aku
juga mencintaimu Zara, sangat mencintaimu" kataku membalas perkataan Zara.
Aku tersenyum bahagia sambil mengeratkan pelukanku pada gadis yang sudah
menjadi milikku sekarang.
●●●
Aku baru sampai di Semarang. Aku
berangkat pagi-pagi sekali tadi. Zara pagi-pagi datang ke hotel tempatku
menginap untuk melihat kepergianku. Sekarang aku harus melanjutkan kuliahku dan
kehidupanku di Semarang. Namun, ada yang berbeda. Aku sekarang sudah memiliki
seorang kekasih. Hal itu membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Setelah kuliah dengan tugas yang
menumpuk dan ujian dengan soal yang begitu memusingkan. Akhirnya hari libur
semester tiba. Aku tak sabar bertemu dengan Zara. Aku sudah menabung untuk
berlibur ke Jakarta demi bertemu dengan Zara.
"Aku
berangkat dulu mah pah" kataku berpamitan kepada orang tuaku untuk
berlibur ke Jakarta.
"Kamu
berangkat sendiri? Nanti di sana kamu sama siapa?" Tanya mamaku khawatir
terhadapku.
"Sama
teman aku ma, mama gak usah khawatir oke" jawabku menenangkan mamaku agar
beliau tidak khawatir.
"Ya
sudah, hati-hati jangan berbuat yang macam-macam di sana, Jakarta pergaulannya
bebas" kata mamaku yang masih saja khawatir.
"Anak
laki gak usah dimanjakan mah nanti jadi banci dia" sahut papaku sambil
terkekeh.
"Hus
papa ini mama kan khawatir pah" kata mamaku kesal pada ayahku.
"Sudah
ah aku bukan anak kecil lagi, aku berangkat dulu ya" pamitku sekali lagi
kemudian menyalami kedua orang tuaku
"Hati-hati"
kata orang tuaku bersamaan. Aku hanya mengacungkan jempol mengiyakan. Aku
datang Zara kataku dalam hati.
●●●
"Ardiiiii"
terlihat Zara melambaikan tangannya kepadaku dan berlari menghampiriku. Aku
tersenyum melihatnya. Aku sudah sampai di bandara dan Zara datang untuk
menjemputku.
"Hai,
nunggunya lama gak?" Kataku saat Zara sudah berdiri di hadapanku.
"Enggak
kok, sekitar 15 menit" jawab Zara. Kemudian kita berjalan beriringan
menuju tempat Zara memarkirkan motornya.
"Kamu
jadi menginap dikontrakan aku?" Kata Zara kepadaku. Aku sebenarnya merasa
tak enak jika harus menginap dikontrakan Zara dikarenakan kita merupakan lawan
jenis. Aku takut di sekitar tempat tinggal Zara ada gosip yang tidak-tidak.
"Enggak
usah deh ra, aku menginap di hotel saja. Aku
tak ingin kamu jadi dipandang buruk dengan orang-orang di tempat
tinggalmu" jawabku menolak tawarannya.
"Oke,
aku sebenarnya gak masalah sih. Tapi terserah kamu saja. Sudah booking
hotelnya?" Zara terlihat santai membalas penolakanku, syukurlah.
"Sudah
kok, dekat sama kontrakan kamu" jawabku yang dibalas dengan anggukan
olehnya.
Sesampainya di hotel tempatku
menginap. Zara langsung pamit pulang. Ia menyuruhku untuk beristirahat saja
dulu. tingkah Zara tidak seperti biasanya. Aku jadi merasa tidak enak, berpikir
bahwa dia tersinggung atas ucapanku yang menolak ajakannya.
Setelah cek in aku memasuki kamar
hotel untuk beristirahat. Saat hendak beristirahat aku teringat Zara. Aku
mengambil ponselku di dalam tas. Kucari nama kontak Zara di sana.
"Halo
ar, kenapa?" Tanya Zara di seberang sana. Aku dengan sedikit ragu menjawab
pertanyaan Zara.
"Aku
minta maaf ra, kalau perkataanku tadi mungkin menyinggungmu, aku sama sekali
gak bermaksud" kataku. Tersirat rasa penyesalan di sana.
"Hehehe,
aku gak papa kok ar. Santai saja. Nanti malam aku ke sana ya, aku kangen banget
sama kamu" kata Zara dengan manja sambil terkekeh.
"Iya
datang saja kapan kamu mau. Aku juga kangen banget sama kamu sayang"
jawabku pada Zara. Terdengar Zara yang tersedak di seberang telefon. Aku
terkekeh pasti dia salah tingkah mendengar aku memanggilnya dengan sebutan
sayang untuk pertama kalinya.
Aku terbangun dari tidurku mendengar
bunyi dari ponselku. Kulihat nama yang tertera di sana Zara. Aku kemudian
menjawab panggilan itu.
"Halo"
jawabku dengan suara sedikit serak khas orang baru bangun tidur.
"Ar, aku sudah di lobi nih. Aku gak tahu
nomor kamar kamu berapa" kata Zara yang ternyata sudah tiba di lobi hotel.
Aku melihat jam di layar ponselku di sana tertera jam 10 malam. Aku tertidur
cukup lama ternyata.
"Iya,
tunggu sebentar aku ke sana" jawabku bangkit dari tempat tidurku. Aku
mengambil kausku disisi kasur. Kemudian turun menghampiri Zara di lobi.
Terlihat wajah masam Zara yang duduk di kursi tunggu.
"Dari
tadi ditelefon-telefon gak diangkat, kamu ke mana saja sih. Aku capek nunggu tahu"
kata Zara dengan kesal saat aku sudah berdiri di hadapannya.
"Maaf
sayang, aku ketiduran. Mungkin aku terlalu lelah karena perjalanan tadi"
jawabku dengan nada selembut mungkin berharap Zara berhenti kesal.
Mendengar dipanggil sayang pipi Zara
memerah. Rasa kesalnya hilang seketika berubah menjadi rasa senang.
"Ya
sudah gak papa. Ayo aku sudah bawakan camilan sama minuman nih" kata Zara
sambil menarikku.
Sampai dikamar hotel Zara membuka camilan
yang dibawanya. Terlihat gorengan dan satu lagi minuman di botol hijau yang kutahu
itu adalah alkohol. Aku tertegun melihat botol itu.
"Kamu
kenapa bawa alkohol ra?" Tanyaku pada Zara kebingungan.
"Aku
lagi ingin saja. Kalau kamu gak mau gak papa aku saja yang minum" jawab Zara
dengan santai.
"Kamu
minum alkohol juga?" Tanyaku kaget mengetahui Zara tak hanya perokok tapi
juga peminum.
"Ya
elah, di Jakarta wajar saja sih minum ginian." Jawabnya sangat santai
tanpa beban.
Kemudian dia mengambil gelas kecil
yang dibawanya dalam tas. Dituangkan minuman itu lalu di teguknya dalam sekali
teguk. Dituangkan lagi minuman itu ke gelas yang sama lalu ia menyodorkannya
padaku.
"Nih,
coba deh sekali saja. Biar setidaknya kamu tahu rasanya. Kamu penasaran kan bagaimana
rasanya" kata Zara meyakinkanku untuk meneguk minuman haram itu. Entah
bisikan setan dari mana kuambil gelas itu lalu kuteguk dengan sekali teguk.
Rasa panas menggerogoti kerongkonganku. Namun, seperti candu aku ingin
meneguknya lagi dan lagi hingga satu botol kuhabiskan sendirian. Zara tersenyum
melihatku yang sudah terkulai lemas. Kepalaku sangat pusing. Pikiranku melayang
entah ke mana. Sedikit kulihat siluet Zara menuntunku ke atas kasur. Kurebahkan
diriku di sana. Kutarik Zara ke kasur itu. Hingga akhirnya aku khilaf.
Aku mengerjapkan mataku. Kepalaku
sangat pusing. Sedikit demi sedikit akhirnya mataku bisa terbuka dengan
sempurna. Aku mendapati diriku di atas kasur dengan Zara di sebelahku. Aku
sangat kaget. Ku coba mengingat apa yang terjadi semalam. Seketika penyesalan
datang padaku. Diriku sudah dikuasai oleh rayuan setan yang membuatku melakukan
hal hina. Terlintas dikepalaku wajah ibu ,ayahku dan juga adik perempuanku. Apa
yang kulakukan. Aku begitu menjaga ibu dan adikku. Aku tak ingin ada yang
merusak adikku dengan tidak bertanggung jawab. Tapi aku malah merusak seorang
wanita saat ini. Terbayang wajah kecewa keluargaku di sana atas perbuatanku.
"Sayangggg"
kata Zara yang sudah terbangun dari tidurnya. Ia memelukku dari belakang. Aku
berusaha melepaskannya. Aku kecewa terhadapnya. ia menjeratku, namun itu tak
sepenuhnya kesalahannya. Ini salahku, aku telah berbuat salah. Rasa pening
kembali menghampiri kepalaku. Zara kembali memelukku kini dari depan.
"Aku
mencintaimu ardi. Kumohon, kumohon jangan tinggalkan aku. Aku tak punya siapa
pun selain kamu. Maafkan aku ardi aku sudah menjeratmu. Aku hanya tak ingin
kehilangan kamu. Aku tahu caraku salah, aku tak punya pilihan. Aku terlalu
takut kamu tinggalkan" kata Zara yang menangis sejadi-jadinya di dadaku. Aku
membalas pelukannya. Aku tahu kita berdua telah melakukan kesalahan. Aku harus
mempertanggung jawabkannya.
●●●
"A
a akuuu, ha ha mill" kata Zara yang gemetar ketakutan. Hatiku bagai
tertusuk ribuan jarum. Aku telah
memperkirakan akan begini jadinya. Tetapi, tetap saja rasanya sangat
menyakitkan. Namun, bagaimana pun aku harus mempertanggung jawabkannya. Aku
memeluk Zara yang masih gemetaran. Kueratkan pelukanku untuk menenangkannya.
Tangis yang ditahannya sedari tadi tumpah membasahi dadaku. Menyakitkan
melihatnya menangis seperti ini.
"Aku
akan bertanggung jawab. Aku mencintaimu Zara. Cinta kita sudah tertanam di rahimmu"
jawabku menenangkannya. Air mata yang kubendung sedari tadi meluruh saat itu
juga. Aku harus bertanggung jawab. Harus.
"Halo
kak ardii, bagaimana liburanmu? Seru sekali ya sampai lupa punya adik di sini
dasar" kata Nita adikku satu-satunya dengan kesal di seberang sana.
"Mama
sama papa mana?" Tanyaku pada Nita tanpa menjawab pertanyaannya.
"Ditanyai
malah tanya balik dasar ardi jelek. Ada nih lagi nonton tv. Mama ini kak ardi
mau ngomong" kata Nita memberikan ponselnya pada ibuku.
"Halo
di? Kenapa nak? Bagaimana liburan kamu, seru? Kamu baik-baik ajakan di sana?
Gak dicopet dibegal atau semacamnya kan?" Tanya ibuku panjang lebar.
"Gak
kok ma. Ardi mau ngomong. Ardi minta maaf sebelumnya. Ardi mohon mama dengerin
baik-baik" kataku dengan ragu takut ibuku kenapa-kenapa nantinya.
"Ada
apasih nak? Gak biasanya ngomong begini. Jangan buat mama khawatir deh"
kata ibuku di seberang sana dengan nada khawatir.
"Pacarku
hamil mah, aku khilaf" kataku dengan sangat hati-hati.
"Gak
usah bercanda deh di, gak lucu" kata ibuku tak percaya ucapanku.
"Aku
serius ma" meyakinkan ibuku bahwa aku berkata yang sesungguhnya.
"Brakkkk"
suara sesuatu terjatuh di seberang telefon.
"Apa
yang kamu katakan pada mamamu sampai dia pingsan begini ardi!" Bentakan
ayahku membuatku semakin takut terlebih hatiku mencelos mendengar ibuku pingsan
di sana.
"Aku
menghamili pacarku pah, maaf" kataku gemetaran ketakutan. Hening, tak ada
jawaban. Sampai ayahku berbicara dengan nada sangat dingin.
"Tanggung
jawab. Kamu laki-laki" kata ayahku kemudian mematikan panggilan secara
sepihak.
●●●
"Saya
nikahkan Zara Putri Atmaja dengan mas kawin seperangkat alat solat dibayar
tunai" kataku dengan sekali embusan nafas.
"Bagaimana?
Sah?" Kata penghulu yang duduk di hadapanku.
"Sah"
sahut ayah, ibuku, Nita dan tantenya Zara dengan nada dingin tanpa ada rasa
bahagia.
Aku melihat Zara yang tertunduk.
Kugenggam erat jemarinya meyakinkannya. Ia menatapku kemudian tersenyum setetes
air mata jatuh di pipinya.
●●●
Sejak aku menikahi Zara, keluargaku
membuangku. Ayahku tak menganggapku sebagai anaknya lagi dan ibuku beserta
adikku hanya bisa mengikuti perintah ayahku. Aku dan Zara tinggal di kontrakan
kecil Zara. Kontrakan itu hanya terdiri dari satu kamar tidur, ruang tamu,
dapur dan kamar mandi. Di sanalah aku dan Zara menghidupi keluarga kecil kami.
Setelah 9 bulan mengandung, akhirnya Zara
melahirkan seorang bayi laki-laki yang kuberi nama Teguh berharap ia tetap teguh
menghadapi pedihnya kehidupan yang kami berikan padanya. Untuk menghidupi
keluarga kecil kami, aku bekerja sebagai pelukis. Aku menjual hasil lukisanku
dipasar dekat rumah kami. Sementara Zara tetap menyanyi di kafe itu.
Setelah 2 tahun menikah Zara sakit-sakitan.
Tubuhnya makin kurus, pipinya makin tirus. Tak tega melihatnya kesakitan
akhirnya aku membawanya ke rumah sakit.
"Istri
bapak terkena AIDS" kata dokter itu kepadaku. Seperti tersambar petir. Aku
hanya terdiam mencerna perkataan dokter itu kepadaku. Apalagi rahasia yang kamu
sembunyikan dariku Zara.
"Dari
kapan dok? Setahu saya istri saya tidak mengonsumsi narkotika" tanyaku
pada dokter itu.
"Menurut
Diagnosis saya, sekitar 3 tahun yang lalu. Mungkin, mohon maaf akibat hubungan
seks bebas pak" dadaku mencelos
mendengar perkataan dokter tersebut.
Keluar dari ruangan dokter , aku tak langsung
menemui Zara. Aku pergi ke tempat kerjanya ada hal yang harus kutanyakan di
sana.
"Zara
memang wanita bayaran kami. Menjadi penyanyi di kafe hanyalah triknya untuk
mendapatkan pelanggan. Mungkin dia tertular virus HIV dari salah satu
pelanggan" kata pemilik kafe tempat Zara bekerja. Hatiku seperti
tersayat-sayat tanpa darah. Tak bisa kutahan lagi rasa kecewa yang Zara berikan
padaku.
Aku pergi menuju rumah sakit menemui Zara.
Aku sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan aku hampir menabrak orang di
jalan menuju rumah sakit. Kubuka pintu kamar inap Zara. Kuhamipiri dia yang tengah
menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf,
maafkan aku ardi" katanya dengan lirih tangisnya pecah memenuhi ruangan
kamar itu.
"Lagi,
lagi-lagi kamu menjeratku Zara. Bahkan kamu menjerat seorang anak tak berdosa.
Kamu lahirkan dia ke dunia dengan maut di tenggorokannya. Kamu iring kami ke
tepi jurang. kamu berniat mengajak kami menemanimu untuk meloncat ke bawah sana
hah!" Aku membentaknya dengan amarah di ubun-ubunku. Ia hanya bisa
menangis sejadi-jadinya.
"Inikah
cinta yang kamu maksud Zara? Cinta apa ini? Cinta kotor? Cinta maut? Cinta
sesat? Aku tak mengerti arti cinta dalam dirimu Zara. Apakah mengajakku ke
dalam kehancuran adalah arti cinta bagimu. Bahkan kamu ikut menarik Teguh, hal
berharga yang kuanggap bukti cinta kita. Kenapa Zara? Kenapa kamu menjerat
kami? Kenapa?" Aku sudah tak kuasa menahan rasa sakit di hatiku. Rasa
kecewa begitu besar telah Zara berikan padaku. Tetesan demi tetesan terjatuh
dari mataku. Kulihat Teguh1 berlari menghampiriku . Tubuhnya kurus seperti anak
yang tak pernah terurus. Ia memeluk dan ikut menangis melihat aku menangis.
Hatiku semakin sakit. Maafkan aku nak, kamu harus menganggung dosa kami.
●●●
Kuletakkan mawar merah kesukaan zarah
di depan batu nisan bertuliskan Zara Putri Atmaja. Air mata tak henti-hentinya
mengalir. Kuikhlaskan kepergiannya. Kumaafkan kesalahannya. Aku kecewa padanya,
tapi hal itu tak sedikit pun melunturkan cintaku untuknya.
2 tahun sudah setelah kepergian Zara
meninggalkan kami. Tubuhku semakin kurus tak bertenaga. Aku bahkan sudah
berhenti bekerja. Yang kugunakan untuk menghidupi aku dan Teguh hanyalah uang
tabungan Zara. Aku tahu itu uang haram. Tapi aku sudah tak ada tenaga untuk bekerja
lagi.
3 hari sepulang dari makam, aku
membaringkan tubuhku di kasur lusuh. Rumah kontrakan yang sudah kubeli dulu
saat setahun menikah ini sudah seperti gudang. Kotor tak terurus. Aku tak bisa
menggerakkan tubuhku. Rasa pening menjalar di kepalaku. Kulihat Teguh duduk di
sebelahku ia menangis kelaparan. Tak heran hanya ada roti tawar di rumah. Tak
ada makanan. Aku pun tak bisa pergi membelinya. Uang tabungan Zara yang tak
seberapa hanya mampu membantu kami bertahan hidup selama setahun. Teguh dengan
kulit dekilnya terus menangis meminta makanan. Sudah 3 hari ia tak mandi. Aku
tak kuasa untuk bangun memasak air
sekedar membersihkan badannya. Ku berikan roti itu padanya namun ia
menggeleng menandakan ia tak mau makan roti itu lagi. Aku ingin menangis
melihatnya. kondisinya tak jauh berbeda denganku pipinya tirus tubuhnya ringkih
, sangat kurus. Air mataku terjatuh melihat keadaannya. Kuambil ponsel di sebelahku
kucari kontak dengan nama mama di sana. Lalu Kutekan tanda telefon.
"Halo?"
Terdengar suara tua ibuku di seberang sana.
"Mama"
kataku dengan rintih. Tak kuasa bahkan untuk sekedar membuka mulut.
"Ardi? Kamu apa kabar nak?" Tanya mama yang
mulai terisak di sana.
"Aku
minta maaf. Aku sakit ma, tolong jenguk aku" kataku memohon ibuku
memaafkan aku dan datang kemari. Aku hanya ingin memohon untuk ia membawa pergi
Teguh dari sini. Aku sudah tak bisa merawatnya lagi. Aku bahkan tak tega
melihat wajah pucatnya saat ajalku datang nantinya.
"Ibumu
tak akan datang! Urus dirimu sendiri. Tanggung jawab atas perbuatanmu"
sahut ayahku merebut ponsel ibuku. Ibuku memang sudah memaafkanku tapi tidak
dengan ayah hatinya masih beku karena rasa kecewanya padaku.
Aku sudah tak sanggup lagi. 4 jam aku
bertahan dikamar sempit dan kotor ini. Kepalaku semakin pening. Nafasku sesak. Inikah akhirnya? Aku mengambil
kertas dan pulpen di sebelah kasurku. Kutuliskan surat untuk keluargaku dengan
sekuat tenaga yang kupunya.
*untuk
ayah :
"
entah berapa banyak kata maaf yang harus kulontarkan agar kau memaafkanku. Rasa
kecewamu terhadapku sudah teramat dalam. Bahkan di penghujung hidupku hanya
kata maaf yang dapat kuucapkan sekali lagi. Tolong, kumohon maafkan aku ayah.
Aku menitipkan buah cintaku Teguh padamu. Didiklah dia sebagaimana kamu
mendidikku. Dia tak akan menjadi seorang laki-laki gagal sepertiku. Terima
kasih ayah. Aku menyayangimu"
*untuk
mama : " kamu adalah sebenar-benarnya malaikat. Hati sucimu dengan
mudahnya memaafkan kesalahanku. Aku bersyukur memiliki ibu sepertimu. Maaf atas
ribuan tetesan air mata yang kuciptakan dimatamu. Aku menitipkan buah cintaku Teguh
padamu mama. Rawatlah ia dengan kasih
sayang lembutmu sebagai mana kamu merawatku dulu. Maaf sampai akhir pun aku masih
saja merepotkanmu mama. Aku menyayangimu."
*untuk
Nita: "maafkan kakakmu ini. Aku gagal menjadi seorang kakak yang baik
buatmu. Aku tak bisa ada di sebelahmu untuk menjagamu. Aku bahkan tak bisa
melihat dengan siapa kamu menikah nantinya. Maaf atas segala dosaku padamu.
Jaga dirimu. Temukan laki-laki yang mencintaimu di dunia dan akhirat. Aku menyayangimu
adikku.”
*untuk
Teguh: " jika kamu sudah bisa membaca nantinya atau kamu sudah dapat
mengerti tulisan ini. Pesanku padamu. Bertahanlah nak. Maafkan dosa orang
tuamu. Maafkan ibumu. Maafkan ayahmu.
Bahkan kami tak bisa menemani hari-harimu lebih lama. Teguhlah nak seperti nama yang telah kuberikan padamu.
Jangan ikut jatuh ke jurang yang kami buat. Maaf telah menjeratmu dalam
kehancuran. Hanya kata maaf yang bisa ayah ucapkan padamu nak. Kami
menyayangimu di dunia maupun akhirat "
Setelah menulis surat itu. Aku
melihat Teguh yang tertidur. Aku mengecup keningnya. Kutatap langi-langit kamar
sempit itu. Lalu aku mengambil obat-obatan di nakas sebelah tempat tidurku.
Entah obat apa saja itu. Aku meneguknya. Puluhan obat-obatan itu masuk ke kerongkonganku.
Kularutkan dia dengan air yang ada di atas nakas. Tak lama setelahnya pening di
kepalaku semakin menjadi-jadi. Semua seperti berputar. Buih-buih putih keluar
dari mulutku. Maafkan aku tuhan. Aku si makhluk pendosa. Aku terjerat jeratan
setan. Aku menyerah. Ampuni aku tuhan aku memohon.
"Braakkkk"
suara pintu kamarku di banting. Kulihat siluet 3 orang di sana. Aku tersenyum.
Aku tahu itu ayah, ibu, dan juga adikku.
"Ardiiiiiiiii"
teriakan ibuku terdengar kemudian diiringi isakan tangisnya. Setelahnya gelap. Beginilah
akhir hidupku. Bersama jeratan dan kesesatan cinta yang Zara berikan padaku.
Amanat
:
·
Hindarilah pergaulan bebas karena akan
menimbulkan penyesalan nantinya.
·
Patuhilah nasihat orang tua.
·
Pernikahan dini tidak menjamin
kebahagiaanmu.
·
Bertanggung jawablah atas kesalahan yang
telah kau perbuat.
Terima kasih telah membaca cerita
pendek saya. Saya harap cerita ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua
nantinya. Saya mengetahui masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam tulisan
saya. Oleh karena itu, saya meminta kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca agar saya dapat lebih baik dalam menulis nantinya.
Kritik
dan saran :
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
Thank
you!
Salam,
Herlina.A.
KATA PENGANTAR :
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmatnya sehingga saya
dapat menyelesaikan penulisan cerita pendek ini. Tidak lupa saya mengucapkan
terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan
sumbangan baik pikiran maupun materinya. Saya berharap semoga cerita pendek ini
dapat memberikan kesan yang baik kepada para pembaca. Saya juga berharap cerita
pendek ini dapat diambil hikmahnya. Saya yakin masih banyak kekurangan dalam
penulisan cerita pendek ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya
dalam menulis. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca
demi kesempurnaan cerita pendek ini.
Mataram,
12 Desember 2019.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar