Kamis, 12 Desember 2019

Jerat Dalam Sesat


JERAT DALAM SESAT


"Kafe loise, jam 8 malam ya. Meja nomor 10, Aku tunggu"

"Oke, see you "

          Kubaca lagi pesan singkat itu. Sekarang jam telah menunjukkan pukul setengah 8 malam. artinya setengah jam lagi, aku akan bertemu dia. Zara , wanita yang kukenal lewat sosial media. Awalnya Zara tak sengaja melihat postingan foto hasil gambaranku dalam akun media sosialku. Katanya gambaranku keren dan banyak pujian lain yang ia lontarkan, sejak itu kami berteman.

          Setelah saling bertukar pesan selama kurang lebih 3 bulan. Kami akhirnya memutuskan untuk bertemu. Zara tinggal di Jakarta Selatan sementara aku tinggal di Semarang itu sebabnya kami tidak bisa bertemu sebelumnya, dan kebetulan sekarang aku sedang mengikuti lomba yang berhubungan dengan gambar di Jakarta.

          Kuperhatikan lagi cermin di hadapanku,  menampilkan dengan jelas siluet tubuhku. Kaos hitam dengan celana jeans bertengger pas menutupi bagian tubuhku. Aku mengambil arloji dan kupasang di tanganku. Terakhir, Kusisir rambutku menggunakan jari tangan.

 " Sep, aku memang ganteng " kataku yang tanpa malu memuji diri sendiri. Tiba-tiba ponselku berdering menandakan adanya panggilan masuk di sana. Setelah menjawab panggilan telefon yang ternyata driver grab yang ku order sudah tiba, aku mengambil dompetku kemudian turun ke lobi. Aku menginap di salah satu hotel di Jakarta. Bukan hotel mewah, tapi cukup nyaman. Aku menghampiri driver grab  di depan lobi dengan motor scoopynya, aku sengaja memilih menaiki motor mengingat jalanan Jakarta  yang begitu macet.

" sesuai alamat di aplikasi ya mas ? " kata driver grab bertanya kepadaku.
" iya pak " jawabku sambil menaiki motornya. Kemudian ia melajukan motornya menuju tempat tujuanku untuk bertemu Zara.

          Selama perjalanan, yang ada di pikiranku hanyalah Zara. Aku begitu penasaran bagaimana wajah Zara, apakah sama seperti postingan foto-foto di akun media sosialnya. Selama 3 bulan berkomunikasi dengan Zara yang kutahu dia gadis yang terlihat cuek namun sebenarnya ia begitu perhatian. Tak heran aku sedikit menaruh rasa selama dekat dengannya.

" sudah sampai mas, kafe Loise kan? " tanya driver grab yang sudah menepikan motornya. Aku tersadar dari lamunanku akibat pertanyaan driver  grab itu.

"ah iya pak " jawabku sambil turun dari motornya. Aku membuka dompetku dan mencari uang sepuluh ribuan disana.

"Makasih ya pak "  aku memberikan uang itu kepada driver grab sebagai ongkos karena telah mengantarku ke tempat ini.

"Sama-sama, mari mas" kata driver grab setelah mengambil ongkosnya kemudian melajukan motornya meninggalkanku di depan kafe loise itu.

          Lama kupandangi kafe tipe outdoor itu. Aku gugup, takut rupaku tak sesuai ekspetasi Zara. Kulangkahkan kaki memasuki area kafe. Kuedarkan pandanganku mencari meja bernomor 10. Akhirnya kutemukan meja itu di pojok ruangan kafe. Di tempat duduknya tampak seorang wanita membelakangiku dengan rambut sebahu yang di warnai duduk sambil menghisap rokoknya. Aku meneguk ludahku gugup, kemudian kuhampiri wanita itu.

"Zara?" Tanyaku hati-hati takut aku salah orang. Wanita itu berbalik menampakkan wajahnya. Matanya bulat indah dengan pipi yang sedikit tirus.

"Hai , Ardi kan? " tanyanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya. Senyumnya sangat manis membuatku terpesona seketika.

"Ah i-iya " jawabku gugup karena salah tingkah melihat senyumannya. Kemudian aku membalas uluran tangannya.

"duduk dulu " katanya sambil melirik bangku di hadapannya. Kemudian aku mengikuti arahan Zara dan duduk tepat di hadapannya. Aku sedikit kaget mengetahui Zara adalah seorang perokok. Tapi yang kutahu di Jakarta memang banyak wanita perokok.

"Mau rokok?" Tanyanya menawarkan kotak rokoknya padaku.

"Ah aku gak ngerokok " jawabku dengan sopan menolak tawarannya. Dia kemudian mengangguk mengerti.

"Akhirnya kita bertemu ya. Bagaimana lomba kamu, sukses? " tanyanya yang mencoba memulai obrolan.

"Aku sudah menggambar sebisaku, semoga saja bisa juara " jawabku membalas pertanyaannya. Terlihat raut wajahku yang kurang yakin dengan hasil gambaranku dalam lomba tadi.

"Udah pastilah juara, gambar kamu kan  bagus banget " jawabnya antusias memuji gambaranku. Entah iya tulus memuji atau sekedar mencoba menghiburku.

" berhenti memujiku kamu membuat aku malu " jawabku dengan muka memerah karena malu dan senang dengan pujian Zara.

"Hahaha, benaran kok gambar kamu bagus banget" Kata Zara dengan jujur sambil tertawa melihat wajah memerahku.

          Setelahnya banyak yang kami bicarakan. Aku jadi semakin banyak mengetahui hal-hal tentang Zara. Ternyata Zara seorang anak yatim, ayahnya meninggal saat ia masih kecil, kemudian ibunya mengidap penyakit kejiwaan dan sekarang ada di salah satu rumah sakit jiwa di Jakarta selatan. Ia yang merupakan anak tunggal memilih tinggal sendiri karena tak mau merepotkan keluarga ibunya. Untuk menghidupi dirinya, dia bekerja sebagai penyanyi di sebuah kafe. Ia tidak melanjutkan pendidikannya ke universitas karena biaya. Kemandirian Zara membuatku menjadi kagum dengan wanita itu, mungkin perasanku padanya semakin besar.

" kamu kapan balik ke Semarang? " tanyanya padaku. Kami sudah berdiri di depan hotel tempatku menginap. Dia mengantarku pulang.

“Lusa, besok diberi waktu untuk jalan-jalan" aku menjawab pertanyaannya.

"Mau temani aku ke tempat kerjaku tidak?" Kata Zara mengajakku ke tempat kerjanya.

"Boleh saja, kebetulan aku sedang tak ada janji " jawabku mengiyakan ajakannya.

"Oke, besok malam aku jemput ke hotelmu ya" jawab  Zara senang karena aku mau ikut dengannya.

"Okey" jawabku sambil tersenyum.

          Kemudian dia melajukan motornya meninggalkanku pulang menuju rumahnya.

●●●

          Keesokan harinya. jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Namun, Zara belum juga datang. Aku menunggunya sedari tadi di lobi hotel. Sambil menunggu aku  memainkan game yang ada di ponselku. Saat asyik bermain game, tiba-tiba ada telefon masuk menampilkan nama Zara di layar ponselku. Setelah menjawab telefon itu aku berjalan keluar hotel, untuk menemui Zara yg menunggu di depan.

"Maaf banget ya ar, tadi ban motor aku bocor" kata Zara yang menyesal telah terlambat menjemputku. Melihat wajah menyesalnya yang begitu imut aku jadi tak tega.

"Gak papa kok, santai aja ra" jawabku menenangkannya.

"Ya sudah ayo berangkat" kata Zara sambil memberiku helm untuk melindungi kepalaku.

          Aku memilih untuk membawa motor Zara, karena aku gengsi dibonceng wanita. Aku melajukan motorku ke arah yang di tunjukan oleh Zara. Tak lama kami sampai di sebuah kafe yang lebih mirip dengan klub malam. Setelah memarkirkan motor di tempat pegawai kami memasuki kafe itu. Saat tiba di dalam kafe bau rokok dengan alkohol bercampur di dalamnya membuatku risih. Namun, aku tak mau menampakkan wajah risihku di hadapan Zara takut menyinggung perasaannya.

"Duduk situ dulu ya, aku mau siapin alat musiknya dulu " kata Zara yang menyuruhku untuk duduk di salah satu kursi.

"Oh, oke" jawabku kemudian duduk di kursi tersebut. Zara pergi meninggalkanku menyiapkan alat musik untuk dia bernyanyi nantinya.

"Mau minum apa mas?" Tanya pelayan wanita dengan pakaian minim kepadaku.

          Aku melihat-lihat daftar menu di buku menu. tak ada yang kumengerti dengan nama-nama minuman di sana.

"Air putih saja mbak" kataku yang akhirnya memilih memesan air putih karena takut salah memesan minuman. Terlihat wanita itu tersenyum geli menahan tawa mendengar perkataanku.

"Oke, ditunggu ya mas" jawab wanita itu lalu pergi mengambil pesananku.

          Tepuk tangan riuh terdengar di sekelilingku. Terlihat Zara di atas panggung kecil dengan gitar di tangannya. Lampu panggung menyoroti wajah cantiknya itu.

"Oke, jadi lagu kali ini spesial saya persembahkan untuk  pemuda tampan berkaus biru yang duduk di meja nomor 10 di sana " kata Zara sambil menunjuk ke arahku. Serempak para pengunjung di kafe itu menengok ke arahku. Membuatku tertunduk malu. Tak lama setelah itu Zara mulai bernyanyi. Suaranya merdunya melantunkan nada-nada indah ditambah dengan suara gitar yang dimainkannya. Lagu say you won't let me go dari James Arthur dibawakan Zara begitu mendalam, membuatku tak bisa berkata-kata selain memandang wajahnya. Apakah ini perasaan Zara padaku?  Pertanyaan itu terus menerus muncul di otakku.

          Tepuk tangan riuh kembali terdengar setelah Zara selesai bernyanyi, membuatku tersadar dari lamunanku. Kutatap panggung tempat Zara bernyanyi tadi namun ia sudah tak ada di sana. Kuedarkan pandanganku mencari keberadaannya.

"Mencariku?" Tanya wanita berdiri di sampingku. Kutengokkan kepala ke arahnya dan ternyata itu Zara dengan senyum manis di wajahnya. Aku berdiri kemudian menariknya ke dalam pelukanku. Ia membalas memelukku.

"Aku sangat mencintaimu ardi" kata Zara dalam pelukanku.

"Aku juga mencintaimu Zara, sangat mencintaimu" kataku membalas perkataan Zara. Aku tersenyum bahagia sambil mengeratkan pelukanku pada gadis yang sudah menjadi milikku sekarang.

●●●

          Aku baru sampai di Semarang. Aku berangkat pagi-pagi sekali tadi. Zara pagi-pagi datang ke hotel tempatku menginap untuk melihat kepergianku. Sekarang aku harus melanjutkan kuliahku dan kehidupanku di Semarang. Namun, ada yang berbeda. Aku sekarang sudah memiliki seorang kekasih. Hal itu membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila.

          Setelah kuliah dengan tugas yang menumpuk dan ujian dengan soal yang begitu memusingkan. Akhirnya hari libur semester tiba. Aku tak sabar bertemu dengan Zara. Aku sudah menabung untuk berlibur ke Jakarta demi bertemu dengan Zara.

"Aku berangkat dulu mah pah" kataku berpamitan kepada orang tuaku untuk berlibur ke Jakarta.

"Kamu berangkat sendiri? Nanti di sana kamu sama siapa?" Tanya mamaku khawatir terhadapku.

"Sama teman aku ma, mama gak usah khawatir oke" jawabku menenangkan mamaku agar beliau tidak khawatir.

"Ya sudah, hati-hati jangan berbuat yang macam-macam di sana, Jakarta pergaulannya bebas" kata mamaku yang masih saja khawatir.

"Anak laki gak usah dimanjakan mah nanti jadi banci dia" sahut papaku sambil terkekeh.

"Hus papa ini mama kan khawatir pah" kata mamaku kesal pada ayahku.

"Sudah ah aku bukan anak kecil lagi, aku berangkat dulu ya" pamitku sekali lagi kemudian menyalami kedua orang tuaku

"Hati-hati" kata orang tuaku bersamaan. Aku hanya mengacungkan jempol mengiyakan. Aku datang Zara kataku dalam hati.

●●●

"Ardiiiii" terlihat Zara melambaikan tangannya kepadaku dan berlari menghampiriku. Aku tersenyum melihatnya. Aku sudah sampai di bandara dan Zara datang untuk menjemputku.

"Hai, nunggunya lama gak?" Kataku saat Zara sudah berdiri di hadapanku.

"Enggak kok, sekitar 15 menit" jawab Zara. Kemudian kita berjalan beriringan menuju tempat Zara memarkirkan motornya.

"Kamu jadi menginap dikontrakan aku?" Kata Zara kepadaku. Aku sebenarnya merasa tak enak jika harus menginap dikontrakan Zara dikarenakan kita merupakan lawan jenis. Aku takut di sekitar tempat tinggal Zara ada gosip yang tidak-tidak.

"Enggak
 usah deh ra, aku menginap di hotel saja. Aku tak ingin kamu jadi dipandang buruk dengan orang-orang di tempat tinggalmu" jawabku menolak tawarannya.

"Oke, aku sebenarnya gak masalah sih. Tapi terserah kamu saja. Sudah booking hotelnya?" Zara terlihat santai membalas penolakanku, syukurlah.

"Sudah kok, dekat sama kontrakan kamu" jawabku yang dibalas dengan anggukan olehnya.

         Sesampainya di hotel tempatku menginap. Zara langsung pamit pulang. Ia menyuruhku untuk beristirahat saja dulu. tingkah Zara tidak seperti biasanya. Aku jadi merasa tidak enak, berpikir bahwa dia tersinggung atas ucapanku yang menolak ajakannya.

         Setelah cek in aku memasuki kamar hotel untuk beristirahat. Saat hendak beristirahat aku teringat Zara. Aku mengambil ponselku di dalam tas. Kucari nama kontak Zara di sana.

"Halo ar, kenapa?" Tanya Zara di seberang sana. Aku dengan sedikit ragu menjawab pertanyaan Zara.

"Aku minta maaf ra, kalau perkataanku tadi mungkin menyinggungmu, aku sama sekali gak bermaksud" kataku. Tersirat rasa penyesalan di sana.

"Hehehe, aku gak papa kok ar. Santai saja. Nanti malam aku ke sana ya, aku kangen banget sama kamu" kata Zara dengan manja sambil terkekeh.

"Iya datang saja kapan kamu mau. Aku juga kangen banget sama kamu sayang" jawabku pada Zara. Terdengar Zara yang tersedak di seberang telefon. Aku terkekeh pasti dia salah tingkah mendengar aku memanggilnya dengan sebutan sayang untuk pertama kalinya.

          Aku terbangun dari tidurku mendengar bunyi dari ponselku. Kulihat nama yang tertera di sana Zara. Aku kemudian menjawab panggilan itu.

"Halo" jawabku dengan suara sedikit serak khas orang baru bangun tidur.

 "Ar, aku sudah di lobi nih. Aku gak tahu nomor kamar kamu berapa" kata Zara yang ternyata sudah tiba di lobi hotel. Aku melihat jam di layar ponselku di sana tertera jam 10 malam. Aku tertidur cukup lama ternyata.

"Iya, tunggu sebentar aku ke sana" jawabku bangkit dari tempat tidurku. Aku mengambil kausku disisi kasur. Kemudian turun menghampiri Zara di lobi. Terlihat wajah masam Zara yang duduk di kursi tunggu.

"Dari tadi ditelefon-telefon gak diangkat, kamu ke mana saja sih. Aku capek nunggu tahu" kata Zara dengan kesal saat aku sudah berdiri di hadapannya.

"Maaf sayang, aku ketiduran. Mungkin aku terlalu lelah karena perjalanan tadi" jawabku dengan nada selembut mungkin berharap Zara berhenti kesal.

          Mendengar dipanggil sayang pipi Zara memerah. Rasa kesalnya hilang seketika berubah menjadi rasa senang.

"Ya sudah gak papa. Ayo aku sudah bawakan camilan sama minuman nih" kata Zara sambil menarikku.

          Sampai dikamar hotel Zara membuka camilan yang dibawanya. Terlihat gorengan dan satu lagi minuman di botol hijau yang kutahu itu adalah alkohol. Aku tertegun melihat botol itu.

"Kamu kenapa bawa alkohol ra?" Tanyaku pada Zara kebingungan.

"Aku lagi ingin saja. Kalau kamu gak mau gak papa aku saja yang minum" jawab Zara dengan santai.

"Kamu minum alkohol juga?" Tanyaku kaget mengetahui Zara tak hanya perokok tapi juga peminum.

"Ya elah, di Jakarta wajar saja sih minum ginian." Jawabnya sangat santai tanpa beban.

          Kemudian dia mengambil gelas kecil yang dibawanya dalam tas. Dituangkan minuman itu lalu di teguknya dalam sekali teguk. Dituangkan lagi minuman itu ke gelas yang sama lalu ia menyodorkannya padaku.

"Nih, coba deh sekali saja. Biar setidaknya kamu tahu rasanya. Kamu penasaran kan bagaimana rasanya" kata Zara meyakinkanku untuk meneguk minuman haram itu. Entah bisikan setan dari mana kuambil gelas itu lalu kuteguk dengan sekali teguk. Rasa panas menggerogoti kerongkonganku. Namun, seperti candu aku ingin meneguknya lagi dan lagi hingga satu botol kuhabiskan sendirian. Zara tersenyum melihatku yang sudah terkulai lemas. Kepalaku sangat pusing. Pikiranku melayang entah ke mana. Sedikit kulihat siluet Zara menuntunku ke atas kasur. Kurebahkan diriku di sana. Kutarik Zara ke kasur itu. Hingga akhirnya aku khilaf.

          Aku mengerjapkan mataku. Kepalaku sangat pusing. Sedikit demi sedikit akhirnya mataku bisa terbuka dengan sempurna. Aku mendapati diriku di atas kasur dengan Zara di sebelahku. Aku sangat kaget. Ku coba mengingat apa yang terjadi semalam. Seketika penyesalan datang padaku. Diriku sudah dikuasai oleh rayuan setan yang membuatku melakukan hal hina. Terlintas dikepalaku wajah ibu ,ayahku dan juga adik perempuanku. Apa yang kulakukan. Aku begitu menjaga ibu dan adikku. Aku tak ingin ada yang merusak adikku dengan tidak bertanggung jawab. Tapi aku malah merusak seorang wanita saat ini. Terbayang wajah kecewa keluargaku di sana atas perbuatanku.

"Sayangggg" kata Zara yang sudah terbangun dari tidurnya. Ia memelukku dari belakang. Aku berusaha melepaskannya. Aku kecewa terhadapnya. ia menjeratku, namun itu tak sepenuhnya kesalahannya. Ini salahku, aku telah berbuat salah. Rasa pening kembali menghampiri kepalaku. Zara kembali memelukku kini dari depan.

"Aku mencintaimu ardi. Kumohon, kumohon jangan tinggalkan aku. Aku tak punya siapa pun selain kamu. Maafkan aku ardi aku sudah menjeratmu. Aku hanya tak ingin kehilangan kamu. Aku tahu caraku salah, aku tak punya pilihan. Aku terlalu takut kamu tinggalkan" kata Zara yang menangis sejadi-jadinya di dadaku. Aku membalas pelukannya. Aku tahu kita berdua telah melakukan kesalahan. Aku harus mempertanggung jawabkannya.

●●●

"A a akuuu, ha ha mill" kata Zara yang gemetar ketakutan. Hatiku bagai tertusuk ribuan jarum. Aku telah  memperkirakan akan begini jadinya. Tetapi, tetap saja rasanya sangat menyakitkan. Namun, bagaimana pun aku harus mempertanggung jawabkannya. Aku memeluk Zara yang masih gemetaran. Kueratkan pelukanku untuk menenangkannya. Tangis yang ditahannya sedari tadi tumpah membasahi dadaku. Menyakitkan melihatnya menangis seperti ini.

"Aku akan bertanggung jawab. Aku mencintaimu Zara. Cinta kita sudah tertanam di rahimmu" jawabku menenangkannya. Air mata yang kubendung sedari tadi meluruh saat itu juga. Aku harus bertanggung jawab. Harus.


"Halo kak ardii, bagaimana liburanmu? Seru sekali ya sampai lupa punya adik di sini dasar" kata Nita adikku satu-satunya dengan kesal di seberang sana.

"Mama sama papa mana?" Tanyaku pada Nita tanpa menjawab pertanyaannya.

"Ditanyai malah tanya balik dasar ardi jelek. Ada nih lagi nonton tv. Mama ini kak ardi mau ngomong" kata Nita memberikan ponselnya pada ibuku.

"Halo di? Kenapa nak? Bagaimana liburan kamu, seru? Kamu baik-baik ajakan di sana? Gak dicopet dibegal atau semacamnya kan?" Tanya ibuku panjang lebar.

"Gak kok ma. Ardi mau ngomong. Ardi minta maaf sebelumnya. Ardi mohon mama dengerin baik-baik" kataku dengan ragu takut ibuku kenapa-kenapa nantinya.

"Ada apasih nak? Gak biasanya ngomong begini. Jangan buat mama khawatir deh" kata ibuku di seberang sana dengan nada khawatir.

"Pacarku hamil mah, aku khilaf" kataku dengan sangat hati-hati.

"Gak usah bercanda deh di, gak lucu" kata ibuku tak percaya ucapanku.

"Aku serius ma" meyakinkan ibuku bahwa aku berkata yang sesungguhnya.

"Brakkkk" suara sesuatu terjatuh di seberang telefon.

"Apa yang kamu katakan pada mamamu sampai dia pingsan begini ardi!" Bentakan ayahku membuatku semakin takut terlebih hatiku mencelos mendengar ibuku pingsan di sana.

"Aku menghamili pacarku pah, maaf" kataku gemetaran ketakutan. Hening, tak ada jawaban. Sampai ayahku berbicara dengan nada sangat dingin.

"Tanggung jawab. Kamu laki-laki" kata ayahku kemudian mematikan panggilan secara sepihak.

●●●

"Saya nikahkan Zara Putri Atmaja dengan mas kawin seperangkat alat solat dibayar tunai" kataku dengan sekali embusan nafas.

"Bagaimana? Sah?" Kata penghulu yang duduk di hadapanku.

"Sah" sahut ayah, ibuku, Nita dan tantenya Zara dengan nada dingin tanpa ada rasa bahagia.

          Aku melihat Zara yang tertunduk. Kugenggam erat jemarinya meyakinkannya. Ia menatapku kemudian tersenyum setetes air mata jatuh di pipinya.

●●●

          Sejak aku menikahi Zara, keluargaku membuangku. Ayahku tak menganggapku sebagai anaknya lagi dan ibuku beserta adikku hanya bisa mengikuti perintah ayahku. Aku dan Zara tinggal di kontrakan kecil Zara. Kontrakan itu hanya terdiri dari satu kamar tidur, ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Di sanalah aku dan Zara menghidupi keluarga kecil kami.

          Setelah 9 bulan mengandung, akhirnya Zara melahirkan seorang bayi laki-laki yang kuberi nama Teguh berharap ia tetap teguh menghadapi pedihnya kehidupan yang kami berikan padanya. Untuk menghidupi keluarga kecil kami, aku bekerja sebagai pelukis. Aku menjual hasil lukisanku dipasar dekat rumah kami. Sementara Zara tetap menyanyi di kafe itu.

          Setelah 2 tahun menikah Zara sakit-sakitan. Tubuhnya makin kurus, pipinya makin tirus. Tak tega melihatnya kesakitan akhirnya aku membawanya ke rumah sakit.

"Istri bapak terkena AIDS" kata dokter itu kepadaku. Seperti tersambar petir. Aku hanya terdiam mencerna perkataan dokter itu kepadaku. Apalagi rahasia yang kamu sembunyikan dariku Zara.

"Dari kapan dok? Setahu saya istri saya tidak mengonsumsi narkotika" tanyaku pada dokter itu.

"Menurut Diagnosis saya, sekitar 3 tahun yang lalu. Mungkin, mohon maaf akibat hubungan seks bebas pak"  dadaku mencelos mendengar perkataan dokter tersebut.

          Keluar dari ruangan dokter , aku tak langsung menemui Zara. Aku pergi ke tempat kerjanya ada hal yang harus kutanyakan di sana.

"Zara memang wanita bayaran kami. Menjadi penyanyi di kafe hanyalah triknya untuk mendapatkan pelanggan. Mungkin dia tertular virus HIV dari salah satu pelanggan" kata pemilik kafe tempat Zara bekerja. Hatiku seperti tersayat-sayat tanpa darah. Tak bisa kutahan lagi rasa kecewa yang Zara berikan padaku.

          Aku pergi menuju rumah sakit menemui Zara. Aku sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan aku hampir menabrak orang di jalan menuju rumah sakit. Kubuka pintu kamar inap Zara. Kuhamipiri dia yang tengah menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, maafkan aku ardi" katanya dengan lirih tangisnya pecah memenuhi ruangan kamar itu.

"Lagi, lagi-lagi kamu menjeratku Zara. Bahkan kamu menjerat seorang anak tak berdosa. Kamu lahirkan dia ke dunia dengan maut di tenggorokannya. Kamu iring kami ke tepi jurang. kamu berniat mengajak kami menemanimu untuk meloncat ke bawah sana hah!" Aku membentaknya dengan amarah di ubun-ubunku. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya.

"Inikah cinta yang kamu maksud Zara? Cinta apa ini? Cinta kotor? Cinta maut? Cinta sesat? Aku tak mengerti arti cinta dalam dirimu Zara. Apakah mengajakku ke dalam kehancuran adalah arti cinta bagimu. Bahkan kamu ikut menarik Teguh, hal berharga yang kuanggap bukti cinta kita. Kenapa Zara? Kenapa kamu menjerat kami? Kenapa?" Aku sudah tak kuasa menahan rasa sakit di hatiku. Rasa kecewa begitu besar telah Zara berikan padaku. Tetesan demi tetesan terjatuh dari mataku. Kulihat Teguh1 berlari menghampiriku . Tubuhnya kurus seperti anak yang tak pernah terurus. Ia memeluk dan ikut menangis melihat aku menangis. Hatiku semakin sakit. Maafkan aku nak, kamu harus menganggung dosa kami.

●●●

          Kuletakkan mawar merah kesukaan zarah di depan batu nisan bertuliskan Zara Putri Atmaja. Air mata tak henti-hentinya mengalir. Kuikhlaskan kepergiannya. Kumaafkan kesalahannya. Aku kecewa padanya, tapi hal itu tak sedikit pun melunturkan cintaku untuknya.

          2 tahun sudah setelah kepergian Zara meninggalkan kami. Tubuhku semakin kurus tak bertenaga. Aku bahkan sudah berhenti bekerja. Yang kugunakan untuk menghidupi aku dan Teguh hanyalah uang tabungan Zara. Aku tahu itu uang haram. Tapi aku sudah tak ada tenaga untuk bekerja lagi.

          3 hari sepulang dari makam, aku membaringkan tubuhku di kasur lusuh. Rumah kontrakan yang sudah kubeli dulu saat setahun menikah ini sudah seperti gudang. Kotor tak terurus. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku. Rasa pening menjalar di kepalaku. Kulihat Teguh duduk di sebelahku ia menangis kelaparan. Tak heran hanya ada roti tawar di rumah. Tak ada makanan. Aku pun tak bisa pergi membelinya. Uang tabungan Zara yang tak seberapa hanya mampu membantu kami bertahan hidup selama setahun. Teguh dengan kulit dekilnya terus menangis meminta makanan. Sudah 3 hari ia tak mandi. Aku tak kuasa untuk bangun memasak air  sekedar membersihkan badannya. Ku berikan roti itu padanya namun ia menggeleng menandakan ia tak mau makan roti itu lagi. Aku ingin menangis melihatnya. kondisinya tak jauh berbeda denganku pipinya tirus tubuhnya ringkih , sangat kurus. Air mataku terjatuh melihat keadaannya. Kuambil ponsel di sebelahku kucari kontak dengan nama mama di sana. Lalu Kutekan tanda telefon.

"Halo?" Terdengar suara tua ibuku di seberang sana.

"Mama" kataku dengan rintih. Tak kuasa bahkan untuk sekedar membuka mulut.

"Ardi?  Kamu apa kabar nak?" Tanya mama yang mulai terisak di sana.

"Aku minta maaf. Aku sakit ma, tolong jenguk aku" kataku memohon ibuku memaafkan aku dan datang kemari. Aku hanya ingin memohon untuk ia membawa pergi Teguh dari sini. Aku sudah tak bisa merawatnya lagi. Aku bahkan tak tega melihat wajah pucatnya saat ajalku datang nantinya.

"Ibumu tak akan datang! Urus dirimu sendiri. Tanggung jawab atas perbuatanmu" sahut ayahku merebut ponsel ibuku. Ibuku memang sudah memaafkanku tapi tidak dengan ayah hatinya masih beku karena rasa kecewanya padaku.

          Aku sudah tak sanggup lagi. 4 jam aku bertahan dikamar sempit dan kotor ini. Kepalaku semakin pening.  Nafasku sesak. Inikah akhirnya? Aku mengambil kertas dan pulpen di sebelah kasurku. Kutuliskan surat untuk keluargaku dengan sekuat tenaga yang kupunya.


*untuk ayah :
" entah berapa banyak kata maaf yang harus kulontarkan agar kau memaafkanku. Rasa kecewamu terhadapku sudah teramat dalam. Bahkan di penghujung hidupku hanya kata maaf yang dapat kuucapkan sekali lagi. Tolong, kumohon maafkan aku ayah. Aku menitipkan buah cintaku Teguh padamu. Didiklah dia sebagaimana kamu mendidikku. Dia tak akan menjadi seorang laki-laki gagal sepertiku. Terima kasih ayah. Aku menyayangimu"
*untuk mama : " kamu adalah sebenar-benarnya malaikat. Hati sucimu dengan mudahnya memaafkan kesalahanku. Aku bersyukur memiliki ibu sepertimu. Maaf atas ribuan tetesan air mata yang kuciptakan dimatamu. Aku menitipkan buah cintaku Teguh  padamu mama. Rawatlah ia dengan kasih sayang lembutmu sebagai mana kamu merawatku dulu. Maaf sampai akhir pun aku masih saja merepotkanmu mama. Aku menyayangimu."

*untuk Nita: "maafkan kakakmu ini. Aku gagal menjadi seorang kakak yang baik buatmu. Aku tak bisa ada di sebelahmu untuk menjagamu. Aku bahkan tak bisa melihat dengan siapa kamu menikah nantinya. Maaf atas segala dosaku padamu. Jaga dirimu. Temukan laki-laki yang mencintaimu di dunia dan akhirat. Aku menyayangimu adikku.”

*untuk Teguh: " jika kamu sudah bisa membaca nantinya atau kamu sudah dapat mengerti tulisan ini. Pesanku padamu. Bertahanlah nak. Maafkan dosa orang tuamu.  Maafkan ibumu. Maafkan ayahmu. Bahkan kami tak bisa menemani hari-harimu lebih lama. Teguhlah  nak seperti nama yang telah kuberikan padamu. Jangan ikut jatuh ke jurang yang kami buat. Maaf telah menjeratmu dalam kehancuran. Hanya kata maaf yang bisa ayah ucapkan padamu nak. Kami menyayangimu di dunia maupun akhirat "

          Setelah menulis surat itu. Aku melihat Teguh yang tertidur. Aku mengecup keningnya. Kutatap langi-langit kamar sempit itu. Lalu aku mengambil obat-obatan di nakas sebelah tempat tidurku. Entah obat apa saja itu. Aku meneguknya. Puluhan obat-obatan itu masuk ke kerongkonganku. Kularutkan dia dengan air yang ada di atas nakas. Tak lama setelahnya pening di kepalaku semakin menjadi-jadi. Semua seperti berputar. Buih-buih putih keluar dari mulutku. Maafkan aku tuhan. Aku si makhluk pendosa. Aku terjerat jeratan setan. Aku menyerah. Ampuni aku tuhan aku memohon.

"Braakkkk" suara pintu kamarku di banting. Kulihat siluet 3 orang di sana. Aku tersenyum. Aku tahu itu ayah, ibu, dan juga adikku.

"Ardiiiiiiiii" teriakan ibuku terdengar kemudian diiringi isakan tangisnya. Setelahnya gelap. Beginilah akhir hidupku. Bersama jeratan dan kesesatan cinta yang Zara berikan padaku.




Amanat :
·         Hindarilah pergaulan bebas karena akan menimbulkan penyesalan nantinya.
·         Patuhilah nasihat orang tua.
·         Pernikahan dini tidak menjamin kebahagiaanmu.
·         Bertanggung jawablah atas kesalahan yang telah kau perbuat.

          Terima kasih telah membaca cerita pendek saya. Saya harap cerita ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua nantinya. Saya mengetahui masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam tulisan saya. Oleh karena itu, saya meminta kritik dan saran yang membangun dari para pembaca agar saya dapat lebih baik dalam menulis nantinya.

Kritik dan saran :
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................

Thank you!
Salam,
Herlina.A.

KATA PENGANTAR :
          Puji syukur  kehadirat  Allah SWT atas segala rahmatnya sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan cerita pendek ini. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya. Saya berharap semoga cerita pendek ini dapat memberikan kesan yang baik kepada para pembaca. Saya juga berharap cerita pendek ini dapat diambil hikmahnya. Saya yakin masih banyak kekurangan dalam penulisan cerita pendek ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya dalam menulis. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kesempurnaan cerita pendek ini.





Mataram, 12 Desember 2019.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

VARIASI BAHASA DALAM JUAL BELI ONLINE

VARIASI BAHASA DALAM JUAL BELI ONLINE