Kamis, 12 Desember 2019

PENGARUH PERSEPSI GREEN PRODUCT, BRAND PERSONALITY DAN PERCEIVED QUALITY TERHADAP MINAT BELI PRODUK NAAVAGREEN


BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Fenomena globalisasi yang ada saat ini menyebabkan banyak permasalahan tidak hanya dalam hal lingkungan tetapi juga berdampak secara tidak langsung terhadap perekonomian. Globalisasi yang identik dengan permasalahan lingkungan telah direspon oleh masyarakat sebagai suatu masalah serius yang perlu mendapat perhatian khusus. Salah satu perwujudan respon tersebut adalah dengan mulai beralihnya gaya hidup masyarakat menuju gaya hidup lebih ramah lingkungan atau biasa disebut dengan green consumers (http://nielsen.com).
Menurut survei global Nielsen pada tahun 2014 menemukan kecenderungan bahwa lebih dari setengah (55%) dari responden global dalam survei ini mengatakan responden bersedia membayar ekstra untuk produk ramah lingkungan. Nielsen mengecek data di atas dengan kinerja penjualan produk-produk perusahaan global yang disebutkan oleh para responden, yaitu produk berkategori konsumsi dan non-konsumsi di sembilan negara. Analisis menunjukkan peningkatan rata-rata tahunan penjualan sebesar dua persen untuk produk yang menempelkan label “produk ramah lingkungan” di kemasannya. Naik lima persen untuk produk yang juga melakukan komunikasi pemasaran produk ramah lingkungan. Sedangkan produk yang tidak melakukan apa-apa, hanya menikmati peningkatan penjualan sebesar satu persen. Hal tersebut mengindikasikan semakin meningkatnya produk ramah lingkungan (green product) dan tingginya angka permintaan terhadap produk tersebut.
Pola hidup ramah lingkungan tersebut tidak hanya berlaku untuk produk kebutuhan sehari-hari tetapi juga pada produk kecantikan atau kosmetik. Kosmetik menjadi salah satu bagian dunia usaha. Tidak dapat disangkal lagi bahwa produk kosmetik sangat diperlukan oleh manusia, baik laki-laki maupun perempuan, sejak lahir hingga saat meninggalkan dunia ini (Iswari & Latifah, 2007). Dalam Tranggono (2007), menurut Wall dan Jellinek, (1970) perkembangan ilmu kosmetik serta industrinya baru dimulai secara besar-besaran pada abad ke-20. Produk kosmetik ini biasanya diperuntukkan mulai usia remaja. Remaja merupakan salah satu contoh pasar bagi produsen kosmetik.
Dengan semakin meningkatnya permintaan produk kosmetik dan diiringi dengan kesadaran konsumen akan produk ramah lingkungan maka semakin marak pula klinik dan produk kecantikan yang menggunakan konsep produk hijau (green product). Green product menurut Kasali (2005) diartikan sebagai produk yang tidak berbahaya bagi manusia dan lingkungannya, tidak boros sumber daya, tidak menghasilkan sampah berlebihan, dan tidak melibatkan kekejaman pada binatang.
Salah satu produsen produk kecantikan atau kosmetik yang juga merespon fenomena diatas adalah klinik kecantikan Naavagreen. Konsep kecantikan yang ditawarkan oleh Naavagreen adalah perawatan dan produk kecantikan dengan menggunakan bahan-bahan botanical alami. Kantor pusat Naavagreen terletak di Yogyakarta tepatnya di Jl. Cendrawasih Komplek. Colombo No 5 Yogyakarta. Sejak didirikan 6 tahun yang lalu, Naavagreen  mengalami perkembangan yang pesat dengan dibukanya cabang Naavagreen di berbagai kota di Indonesia. Saat ini Naavagreen sudah mempunyai 17 kantor cabang dan akan membuka beberapa cabang baru di berbagai kota di Indonesia. Naavagreen memperoleh penghargaan dari Mark Plus Inc sebagai SEA (Service Excelent Award) 2013 Kategori Beauty Clinic.
Untuk bisa mengatasi persaingan, pihak manajemen Naavagreen sepenuhnya sadar untuk memperhatikan hal-hal yang bisa mempengaruhi minat beli konsumen. Minat beli dapat mengukur kemungkinan konsumen untuk membeli produk, dan semakin tinggi minat beli, semakin tinggi keinginan konsumen untuk membeli produk (Dodds, et al., 1991). Pihak manajemen Naavagreen berusaha meningkatkan minat beli konsumen dengan memproduksi produk yang sesuai dengan keinginan konsumen dan tren saat ini yaitu produk kecantikan dengan konsep green product. Wawancara terhadap beberapa responden menunjukkan bahwa mereka cenderung memlih satu skin care tertentu dan ada juga tidak memilih satu produk skin care tertentu, mereka suka berganti-ganti produk dan sering mengkombinasikan pemakaian produk, sehingga minat beli terhadap produk Naavagreen tergolong sulit diukur. Hal tersebut menunjukkan bahwa minat preferensial pada responden kurang. Minat preferensial merupakan indikator minat beli yang menunjukkan kecenderungan seseorang memiliki preferensi utama pada produk tertentu. Dalam hal ini, responden kurang menunjukkan minat beli terhadap produk Naavagreen, sehingga minat beli terhadap produk Naavagreen sulit diukur. Sulitnya mengukur minat beli karena kurangnya informasi ini bisa berdampak pada keputusan manajemen yang kurang tepat.
Klinik kecantikan Naavagreen adalah salah satu klinik kecantikan cabang yang berada di Mataram yang berlokasi di Jl. Pejanggik, Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat 83239 (Mataram Mall 2 Lt.3, Blok 3-6 Mataram). Klinik kecantikan Naavagreen menyediakan produk dan perawatan kecantikan kulit, produk yang ditawarkan terdiri dari anti jerawat (anti acne) dan anti panuan dan menyediakan perawatan kulit yaitu menghilangkan flek, memutihkan kulit, mengobati jerawat, mengecilkan pori-pori, memudarkan bekas luka, menghilangkan lingkar hitam mata, meremajakan kulit, facial (Pencerahan Wajah), peeling (Pengelupasan Wajah), laser jerawat yang berfungsi dapat menghilangkan flek-flek hitam di wajah yang dapat mengakibatkan penuaan.
Klinik kecantikan Naavagreen cabang Mataram berdiri tahun 2016. Klinik Kecantikan Naavagreen berada di bawah naungan PT. Pesona Bintang Utama, hadir dengan merek dagang Klinik Kecantikan Naavagreen yang berkonsentrasi pada kesehatan wajah.
Klinik Kecantikan Naavagreen dalam pelayanannya memberikan jasa tindakan dan penjualan krim kecantikan kulit wajah, baik secara medik atau non medik dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan kecantikan kulit wajah yang optimal. Tabel berikut ini adalah data jumlah pelanggan Klinik Kecantikan Naavagreen di Mataram.
Tabel 1.1
Jumlah Data Pelanggan Naavagreen Cabang Mataram
Tahun 2016-2018

Bulan Tahun
2016 2017 2018
Januari - 997 582
Februari 390 787 518
Maret 645 852 535
April 616 942 633
Mei 669 1065 584
Juni 702 1074 -
Juli 805 1082 -
Agustus 747 893 -
September 764 773 -
Oktober 954 810 -
November 916 614 -
Desember 1002 721 -
Total 8210 10610 2852
Sumber : NaavaGreen Cabang Mataram
Berdasarkan Tabel 1.1 mengenai jumlah pelanggan naavagreen diatas menunjukkan bahwa jumlah pelanggan Navaagreen cabang Mataram mengalami fluktuasi yaitu ada yang mengalami peningkatan dan ada yang mengalami penurunan. Penurunan yang paling banyak terjadi pada bulan Februari 2017. Namun 5 bulan setelah itu mengalami peningkatan yang signifikan. Jumlah pelanggan yang terbanyak terjadi di bulan Juli 2017 dibandingan bulan-bulan yang lainnya. Data diatas juga menunjukkan bahwa jumlah pelanggan Naavagreen terbanyak pada tahun 2017 lebih tinggi dari tahun 2016 dan 2018.
Fluktuasi jumlah pelanggan yang terjadi sesuai dengan data pada table 1.1 diatas, mengindikasikan tidak menetapnya konsumen dalam melakukan pembelian produk atau jasa di Naavagreen.
Penelitian ini bermula dari adanya kontroversi hasil penelitian terdahulu yang menyatakan adanya pengaruh green product terhadap minat beli, namun sebagian peneliti lainnya menyatakan tidak berpengaruh. Penelitian mengenai pengaruh persepsi green product terhadap minat beli konsumen dilakukan oleh Kong et al., (2014) terhadap konsumen di Sabah, Malaysia dalam jurnalnya yang berjudul “The Influence of Consumers Perceived of Green Product on Green Purchasing Intention” menunjukkan bahwa green product memiliki pengaruh positif signifikan terhadap minat beli, penelitian dilakukan pada konsumen di Sabah. Penelitian lain tentang pengaruh green product dilakukan oleh Rehman dan Khyzer (2013) terhadap minat beli pada mahasiswa di Pakistan menunjukkan bahwa environmental concern atau perhatian terhadap lingkungan tidak mempengaruhi minat beli. Adanya perbedaan hasil riset ini perlu diteliti lebih lanjut sehingga bisa dijadikan dasar manajemen untuk pengambilan keputusan lebih lanjut.
Selain green product, faktor lain yang bisa mempengaruhi minat beli konsumen adalah kepribadian merek (brand personality). Kepribadian merek didefinisikan sebagai seperangkat karakteristik manusia yang berhubungan dengan merek (Aaker, 1997). Kepribadian merek merupakan sesuatu yang mewakili kepribadian konsumen digambarkan dengan sebuah merek yang melekat pada dirinya. Dimensi dalam kepribadian merek salah satunya adalah sincerity, yaitu kemampuan suatu merek untuk menunjukan konsistensi dalam memenuhi kebutuhan, keinginan dan ekspektasi konsumen. Kepribadian merek yang paling menonjol dari produk Naavagreen adalah produk kosmetik berbahan alami yang aman digunakan. Konsumen yang merasa memiliki kesamaan kepribadian, keinginan dan ekspektasinya terpenuhi oleh merek Naavagreen diyakini akan meningkatkan minat belinya. Dimensi lainnya yaitu Competence, yang menunjukkan kemampuan suatu merek dalam pasar. Responden dalam wawancara sepakat bahwa Naavagreen merupakan produk yang cukup terkenal, selain itu berbagai penghargaan yang diterima Naavagreen mengindikasikan kemampuan produk ini dalam pasar. Prasurvey yang dilakukan peneliti terkait kepribadian merek dengan melakukan wawancara menunjukkan tidak semua responden yang merasa mempunyai kepribadian sesuai dengan Naavagreen dan sepakat bahwa produk tersebut memiliki dimensi competence menunjukkan minat beli terhadap produk Naavagreen.
Penelitian tentang brand personality sebelumnya pernah dilakukan oleh Almanda (2015).Penelitian tersebut menemukan bahwa brand personality berpengaruh secara signifikan terhadap minat beli sepatu Nike. Namun hal tersebut bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pradana (2013) menemukan hasil yang berbeda. Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa brand personality tidak berpengaruh secara positif signifikan terhadap minat beli sepeda motor Vario.
Selain kedua faktor diatas, minat beli konsumen juga diindikasikan dipengaruhi oleh perceived quality atau persepsi kualitas. Perceived quality atau persepsi kualitas menurut Aaker (1997) dapat didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan. Perceived quality akan membentuk persepsi kualitas dari suatu produk dimata pelanggan. Perceived quality dari produk hijau sendiri dianggap aman oleh konsumen karena dengan label tersebut produsen seharusnya menyediakan produk yang berbahan aman, sehingga hal ini diyakini akan mempengaruhi minat beli terhadap produk Naavagreen.
Penelitian yang dilakukan oleh Pusipitasari (2006) menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan antara perceived quality dengan minat beli pada maskapai penerbangan Garuda. Besterfield et al., (1999) dalam Simamora (2002) melihat kualitas diperbandingkan antara performa dan harapan. Namun, berdasarkan penelitian oleh Winda Amalia, Retno Budi Lestari, dan Kardinal (2012) yang  menyatakan bahwa brand awareness, brand association dan perceived quality berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap minat beli.
Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian lebih lanjut mengenai green product, brand personality, perceived quality dan minat beli dengan judul “Pengaruh Persepsi Green Product, Brand Personality dan Perceived Quality terhadap Minat Beli produk NaavaGreen”.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat diidentifikasikan permasalahan yang ada sebagai berikut:
Nilai dalam konsep green product belum menjadi ukuran konsumen untuk membeli produk Naavagreen. 
Prasurvey yang dilakukan peneliti terkait kepribadian merek dengan melakukan wawancara menunjukkan tidak semua responden yang memiliki kepribadian sesuai dengan Naavagreen memiliki minat beli terhadap produk Naavagreen. 
Terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai pengaruh green product terhadap minat beli. 
Terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai pengaruh brand personality terhadap minat beli. 
Terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai pengaruh perceived quality terhadap minat beli.
Perumusan Masalah
Bagaimana pengaruh persepsi green product terhadap minat beli produk kecantikan Naavagreen?
Bagaimana pengaruh brand personality terhadap minat beli produk kecantikan Naavagreen?
Bagaimana pengaruh perceived quality terhadap minat beli produk kecantikan Naavagreen?
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh persepsi green product terhadap minat beli produk kecantikan Naavagreen.
Untuk mengetahui pengaruh brand personality terhadap minat beli produk kecantikan Naavagreen.
Untuk mengetahui pengaruh perceived quality terhadap minat beli produk kecantikan Naavagreen.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini nantinya diharapkan bisa memberikan manfaat bagi berbagai pihak diantaranya:
Untuk Akademisi
Hasil penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan bidang pemasaran, terutama sebagai acuan bagi studi ilmiah tentang bagaimana pengaruh persepsi green product, brand personality dan perceived quality terhadap minat untuk membeli produk kecantikan Naavagreen, juga untuk memberikan informasi yang dapat menambah pengetahuan dan membuka cakrawala berpikir bagi pembacanya.
Untuk Praktisi
Hasil penelitian ini diharapkan bisa membantu manajemen Naavagreen, agar dapat membuat program pemasaran yang lebih baik, efektif dan efisien sehingga bisa menimbulkan kesan baik yang mendalam di benak konsumennya, sehingga pada akhirnya dapat menjaga citra positif perusahaan dimata masyarakat.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Landasan Teori
Green Marketing
American Marketing Association (AMA) dalam Hawkins and Mothershaugh (2010) mendefinisikan green marketing adalah suatu proses pemasaran produk-produk yang diasumsikan aman terhadap lingkungan. Green marketing  dapat dikatakan tidak sekedar menawarkan produk yang hanya ramah lingkungan, tetapi juga mencakup proses produksi, pergantian packaging, serta aktivitas modifikasi produk. Grewal dan Levy (2010) dalam Septifani et al. (2014) mendefinisikan green marketing sebagai upaya-upaya stratejik yang dilakukan oleh perusahaan untuk menyediakan barang-barang dan jasa-jasa yang ramah lingkungan kepada konsumen. Sementara Polonsky (1994) menyatakan bahwa green marketing merupakan seluruh aktivitas yang didesain untuk menghasilkan dan memfasilitasi semua perubahan yang diharapkan dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia, dengan dampak minimal pada perusakan lingkungan alam. Hal ini terjadi akibat pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia memiliki potensi untuk menimbulkan dampak negative pada lingkungan alam.
Oyewole (2001) menjelaskan bahwa green marketing atau pemasaran hijau dalam prakteknya mencakup aktivitas sebagai berikut:
Menggunakan kemasan dan bahan yang dapat didaur ulang, digunakan kembali, dan mudah diuraikan oleh cahaya.
Proses produksi yang bebas polusi. 
Bahan baku yang bebas erosol. 
Pertanian yang bebas pestisida.
Pengawetan makanan tanpa bahan kimia.
Kemasan yang tipis sehingga menggunakan bahan baku yang sedikit.
Alami, tanpa pupuk sitentis yang banyak.
Persepsi Green Product (Produk Ramah Lingkungan)
Pengertian Persepsi Green Product
Persepsi adalah suatu proses memilih, mengatur dan menginterpretasikan informasi mengenai suatu produk barang atau jasa oleh  konsumen. Persepsi tidak hanya terjadi dalam bentuk rangsangan fisik tapi juga dipengaruhi oleh kondisi pemasaran yang ada. Hal ini selaras dengan yang disampaikan beberapa ahli. Menurut Pride & Ferrel dalam Fadila (2013:45), Persepsi adalah proses pemilihan, pengorganisasian dan penginterprestasian masukan informasi, sensasi yang diterima melalui penglihatan, perasaa, pendengaran, penciuman dan sentuhan, untuk menghasilkan makna.
Menurut Kotler dan Keller (2016:228), persepsi tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik tapi juga rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu yang bersangkutan. Menurut Rakhmat Jalaludin dalam Natalia (2012:3), persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.  Proses persepsi bukan hanya proses psikologi semata, tetapi diawali dengan proses fisiologis yang dikenal sebagai sensasi. 
Persepsi dapat bernilai negatif dan positif. Jika konsumen memiliki kesan positif terhadap produk yang ditawarkan perusahaan maka hal tersebut akan menghasilkan persepsi positif, begitu juga sebaliknya. Persepsi dalam diri seseorang sangat dipengaruhi oleh pikiran dan lingkungan sekitarnya. Selain itu, persepsi secara subtansial dapat sangat berbeda dengan kenyataan atau realitas sebenarnya.
Green Produk atau produk ramah lingkungan menurut Handayani (2012), merupakan suatu produk yang dirancang dan diproses dengan suatu cara untuk mengurangi efek-efek yang dapat mencemari lingkungan, baik dalam produksi, pendistribusian, dan pengonsumsinya. Menurut Kasali (2005) diartikan sebagai produk yang tidak berbahaya bagi manusia dan lingkungannya, tidak boros sumber daya, tidak menghasilkan sampah berlebihan, dan tidak melibatkan kekejaman pada binatang. D’Souza et al., (2006) menjelaskan bahwa green product adalah produk yang memiliki manfaat bagi konsumen dan juga memiliki manfaat sosial yang dirasakan oleh konsumen, seperti ramah terhadap lingkungan. Pengertian green product lainnya dikemukakan oleh Nugrahadi (2002) bahwa green product adalah produk yang berwawasan lingkungan.  Dari berbagai pengertian diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa green product adalah suatu produk yang dirancang dan diproses dengan suatu cara untuk mengurangi efek-efek yang dapat mencemari lingkungan, baik dalam produksi, pendistribusian dan pengkonsumsiannya.
Karakteristik Green Product
Shaputra (2013) dalam situsnya mengemukakan beberapa karakteristik green product sebagai berikut :
Produk tidak mengandung toxic.
Produk lebih tahan lama.
Produk menggunakan bahan baku yang dapat didaur ulang.
Produk menggunakan bahan baku dari bahan daur ulang.
Produk tidak menggunakan bahan baku yang dapat merusak lingkungan.
Tidak melibatkan uji produk yang melibatkan binatang apabila tidak betul-betul diperlukan.
Selama penggunaan tidak merusak lingkungan.
Menggunakan kemasan sederhana dan menyediakan produk isi ulang.
Tidak membahayakan bagi kesehatan manusia dan hewan.
Tidak menghabiskan banyak energi dan sumber daya lainnya selama pemrosesan, penggunaan, dan penjualan.
Tidak menghasilkan sampah yang tidak berguna akibat kemasan dalam jangka waktu yang singkat.


Indikator Green Product
D’Souza et al., (2006) dalam penelitiannya menjelaskan aspek aspek didalam green product atau produk ramah lingkungan sebagai berikut:
Persepsi produk
Konsumen melihat green product atau produk ramah lingkungan sebagai produk yang tidak berbahaya terhadap hewan dan lingkungan.
Kemasan
Kemasan produk menyajikan elemen tertentu dan terlihat terkait kepedulian lingkungan oleh pelanggan.
Komposisi isi
Bahan daur ulang dapat membenarkan pemakaian pada batas tertentu dan klaim pemakaian secara keseluruhan pada tingkat yang lebih rendah, serta kerusakan minimum terhadap lingkungan.
Brand Personality
Pengertian Brand Personality
Brand  atau merek didefinisikan ke dalam banyak pengertian sesuai dengan sudut pandang penerjemahnya. Menurut The American Marketing Association dalam Kotler & Keller (2009) mendefinisikan brand sebagai “a name, term, sign, symbol, or design or combination of them, intended to identify the goods or service of one seller or group of seller and to differentiate them from those of competitor” yang berarti bahwa merek merupakan sebuah nama, istilah, tanda, symbol atau desain atau kombinasi keseluruhannya, yang bertujuan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari kompetitor mereka. Kepribadian merek didefinisikan sebagai seperangkat karakteristik manusia yang berhubungan dengan merek (Aaker,1997). Dengan demikian, brand personality bisa diartikan sebagai sesuatu yang menggambarkan dan mewakili kepribadian konsumen yang terwujud dalam sebuah merek produk tertentu.
Dimensi Brand Personality
Menurut Jennifer Aaker dalam Azoulay (2003) “The brand personality dimention” adalah suatu kerangkn untuk menggambarkan dan mengukur “personality/kepribadian” brand dalam lima dimensi inti. Model ini mendasarkan lima dimensi inti analogi manusia, yaitu :
Sincerity (Down-to-earth, family-oriented, small town, honest, sincere, realistic, wholesome, original, cheerful, sentimental and friendly). Dimensi ini menunjukkan sifat manusia yang tulus. Jika diaplikasikan pada brand, dimensi sincerity atau kesungguhan hati ini mencerminkan bagaimana brand benar-benar menunjukkan konsistensinya dalam memenuhi need (kebutuhan), want (keinginan), danexpectation (harapan) dari konsumen.
Excitement (Contemporary, independent, up-to-date, unique, imaginative, young, cool, spirited, exciting, trendy and daring). Excitement artinya kegembiraan, bagaimana sebuah brand mampu memberikan kesenangan pada pemakainya.
Competence (Reliable, hardworking, sincare, intelligent, technical, corporate, successful, leade and confident). Dimensi competence ini menunjukkan bahwa suatu brand punya kemamampuan untuk menunjukkan keberadaannya di pasar.
Sophisticating (Upper class, glamor, good-looking, charming, feminine and smooth). Dimensi ini lebih mengacu pada bagaimana suatu brand memberikan nilai bagi konsumennya. Ada dua elemen yaitu upper class dan charming.
Rugedness (Outdoorsy, masculine, western, tough and rugged). Dimensi ini menunjukkan bagaimana sebuah brand mampu bertahan di tengah persaingan brand-brand lain. Elemen outdoorsy mengacu pada sifat kokoh dan maskulin, sedangkan tough menunjukkan elemen yang kuat.
Perceived Quality
Pengertian Perceived Quality
Persepsi kualitas (perceived quality) menurut Aaker (1997) dapat didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan. Aaker (1997) menegaskan satu hal yang harus selalu diingat, yaitu bahwa persepsi kualitas merupakan persepsi para pelanggan, oleh sebab itu persepsi kualitas tidak dapat ditetapkan secara obyektif. Pengertian lain dikemukakan oleh Durianto (2001) yang menyatakan bahwa perceived quality adalah persepsi pelanggan terhadap suatu produk. Dari kedua pengertian diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa perceived quality adalah persepsi atau tanggapan konsumen terhadap kualitas suatu produk secara keseluruhan.
Persepsi pelanggan akan melibatkan apa yang penting bagi pelanggan karena setiap pelanggan memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap suatu produk atau jasa (Aaker, 1997; Durianto et al., 2001).
Dimensi Perceived Quality
Menurut David A. Garfin (1994) dimensi perceived quality dibagi menjadi tujuh yaitu :
Kinerja, melibatkan berbgai karakteristik operasional utama, misalnya karakteristik operasional mobil adalah kecepatan, akselerasi, sistem kemudi serta kenyamanan. Karena faktor kepentingan pelanggan berbeda satu sama lain, seringkali pelanggan mempunyai sikap yang berbeda dalam menilai atribut-atribut kinerja ini. Kecepatan akan diberikan nilai tinggi oleh sebagian pelanggan, namun dianggap tidak relevan atau bernilai rendah oleh sebagian pelanggan yang lebih mementingkan atribut kenyamanan.
Pelayanan, mencerminkan kemampuan memberikan pelayanan kepada produk tersebut. Misalnya mobil merek tertentu menyediakan pelayanan kerusakan atau servis mobil 24 jam di seluruh dunia.
Ketahanan, mencerminkan umur ekonomis dari produk tersebut. Misal mobil merek tertentu memposisikan dirinya sebagai mobil tahan lama walau telah berumur 12 tahun tetapi masih berfungsi dengan baik.
Keandalan, konsisteni dari kinerja yang dihasilkan suatu produk dari suatu pembelian ke pembelian berikutnya.
Karakteristik produk, bagian-bagian tambahan dari produk, seperti remote control, tape deck, fasilitas WAP untuk telepon genggam. Penambahan ini biasanya digunakan sebagai pembeda yang penting ketika dua merek produk terlihat hampir sama. Bagian-bagian tambahan ini memberi penekanan bahwa perusahaan memahami kebutuhan pelanggannya yang dinamis sesuai perkembangan.
Kesesuaian dengan spesifikasi, merupakan pandangan mengenai kualitas proses manuaktur (tidak cacat produk) sesuai dengn spesifikasi yang telah teruji. Misalnya pada sebuah mobil kelas tertentu dengan spesifikasi yang telah ditentukan jenis dan kekuatan mesin, pintu, material untuk pintu mobil, ban, sistem pengapian dan lainnya.
Hasil, mengarah pada kualitas yang dirasakan melibatkan enam dimensi sebelumnya. Jika perusahaan tidak mendapatkan “hasil akhir” produk yang baik, maka kemungkinan produk tersebut tidak akan mempunyai atribut kualitas lain yang penting.
Minat beli
Pengertian Minat Beli
Minat merupakan salah satu aspek psikologis yang mempunyai pengaruh cukup besar terhadap perilaku dan merupakan sumber motivasi yang akan mengarahkan pada apa yang akan mereka lakukan (Pramanda, 2010). Schiffman dan Kanuk (2007) mengartikan minat beli sebagai suatu model sikap seseorang terhadap objek barang yang sangat cocok dalam mengukur sikap dalam golongan produk, jasa, atau merek tertentu.Sedangkan pengertian minat beli oleh Kotler & Keller (2012) bahwa minat beli adalah sebuah perilaku konsumen dimana konsumen mempunyai keinginan dalam membeli atau memilih suatu produk, berdasarkan pengalaman dalam memilih, menggunakan dan mengkonsumsi atau bahkandalam menginginkan suatu produk. Dengan demikian, minat beli bisa diartikan sebagai dorongan konsumen untuk melakukan pembelian terhadap suatu produk.
Karakteristik Minat Beli
Menurut Husein (2005) Minat memiliki sifat dan karakter khusus sebagai berikut:
Minat bersifat pribadi (individual), ada perbedaan antara minat seseorang dan orang lain. 
Minat menimbulkan efek diskriminatif. 
Erat hubungannya dengan motivasi, mempengaruhi dan dipengaruhi motivasi. 
Minat merupakan sesuatu yang dipelajari, bukan bawaan lahir dan dapat berubah tergantung pada kebutuhan, pengalaman, dan mode.
Indikator Minat Beli
Menurut Ferdinand (2002), minat beli dapat diidentifikasi melalui indikator-indikator sebagai berikut:
Minat transaksional, yaitu kecendrungan seseorang untuk membeli produk.
Minat refrensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk kepada orang lain.
Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki prefrensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk prefrensinya. 
Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorangyang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.
Hubungan Persepsi Green Product terhadap Minat Beli
Dalam berbagai literatur dikemukakan bahwa seiring terjadinya globalisasi yang berdampak buruk pada lingkungan, masyarakat mengalami pergeseran pola pikir menuju pola hidup yang ramah lingkungan atau biasa disebut green consummer. Perusahaan menangkap hal tersebut sebagai sebuah peluang baru dengan menyedikan produk yang ramah lingkungan atau green product. Dengan adanya fenomena green consumer disertai dengan tersedianya green product diyakini akan meningkatkan minat beli masyarakat sebagai konsumen untuk membeli atau green product.  
Beberapa studi yang dilakukan oleh Ling-Yee (1997), Chan (1999), and Ottman (1995) menemukan bahwa pada konsumen yang berwawasan lingkungan cenderung melakukan kepedulian lingkungan yang kuat, dan konsumen lebih memilih produk-produk yang ramah lingkungan dibandingkan produk yang lain. Menurut Chan (2001) bahwa orientasi seseorang terhadap alam, kolektivitas, pengaruh ekologi, dan pengetahuan tentang ekologi lingkungan berpengaruh terhadap sikap untuk melakukan minat pembelian produk ramah lingkungan. Begitu pula pada Naavagreen, dengan adanya green product yang disediakan diyakini akan meningkatkan minat beli konsumen pada produk Naavagreen.
Penelitian yang berhasil membuktikan mengenai pengaruh persepsi green product terhadap minat beli konsumen dilakukan oleh Roby dan Andjarwati (2014) dalam jurnalnya yang berjudul “Pengaruh Green Product Pada Minyak Goreng Ecoplanet Terhadap Minat Beli Konsumen” menemukan hasil bahwa green product memiliki pengaruh positif signifikan terhadap minat beli konsumen, penelitian dilakukan pada konsumen Carrefour Kalimas Surabaya. Puspito (2016) dalam jurnalnya yang berjudul “Pengaruh Green product Pertamax Terhadap Minat Beli Konsumen (Studi PT. Pertamina Bandung 2016)” penelitian ini juga ditemukan bahwa green product berpengaruh positif signifikan terhadap minat beli. Peneliti selanjutnya yang berhasil membuktikan penelitian mengenai pengaruh persepsi green product terhadap minat beli konsumen dilakukan oleh Kong et al., (2014) terhadap konsumen di Sabah, Malaysia dalam jurnalnya yang berjudul “The Influence of Consumers Perceived of Green Product on Green Purchasing Intention” menunjukkan bahwa green product memiliki pengaruh positif signifikan terhadap minat beli, penelitian dilakukan pada konsumen di Sabah. Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut :
H1 : terdapat pengaruh persepsi green product terhadap minat beli


Hubungan Brand Personality terhadap Minat Beli
Brand personality merupakan sesuatu yang menggambarkan dan mewakili kepribadian konsumen yang terwujud dalam sebuah merek produk tertentu. Brand personality merupakan cerminan dari kepribadian konsumen. Merek dapat dikaitkan dengan ciri-ciri kepribadian yang memberikan manfaat ekspresif atau simbolis diri bagi konsumen. Ekspresi diri dapat menjadi pendorong (driver) yang berpengaruh pada preferensi dan pilihan konsumen (Aaker, 1999). Naavagreen memiliki konsep yang mampu mencerminkan pribadi yang cantik alami. Dengan semakin diminatinya produk hijau atau green product, adanya brand personality yang mencerminkan cantik alami dengan produk yang ramah ligkungan diyakini akan meningkatkan minat beli konsumen. Oleh karenanya, brand personality berpengaruh positif terhadap minat beli.
Penelitian yang dilakukan oleh Rachmatianti (2014) dalam jurnalnya yang berjudul “ Pengaruh Brand Personality Terhadap Minat Beli (studi pada merek kosmetik Maybelline New York)” menujukkan bahwa brand personality memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli pada Maybelline New York. Penelitian lain yang dilakukan oleh Naibaho dan Yuliati (2017) yang berjudul “Pengaruh Brand Personality Terhadap Minat Beli Produk Body Mist (studi pada the body shop di trans studio mall Bandung)” menunjukkan hasil bahwa brand personality berpengaruh signifikan terhadap minat beli produk body mist. Almanda (2015) dalam penelitiannya yang bejudul “Pengaruh brand personality sepatu Nike terhadap minat beli (Studi kasus pada mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom)” menunjukkan bahwa brand personality berpengaruh secara signifikan terhadap minat beli sebesar 34,5%. Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut :
H2 : terdapat pengaruh brand personality terhadap minat beli
Hubungan Perceived Quality terhadap Minat Beli
Perceived quality diartikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan (Aaker, 1997). Dalam melakukan pembelian, konsumen akan terlebih dahulu menganalisis kualitas suatu produk dari berbagai aspek. Persepsi kualitas merupakan faktor penting yang mempengaruhi minat beli. Konsumen tentunya akan berminat melakukan pembelian terhadap produk yang memiliki kualitas yang sebanding dengan harga yang dibayarkan. Oleh karenanya, kualitas yang baik diyakini mampu menjadi daya tarik pada konsumen. Begitu pula pada Naavagreen, produk-produk berkualitas yang disediakan, pelayanan dan kenyamanan yang diberikan diyakini mampu meningkatkan minat beli konsumen.Oleh karena itu, perceived quality berpengaruh positif terhadap minat beli.
Penelitian yang dilakukan oleh Yanthi dan Jatra (2015) yang berjudul “Pengaruh Country Of Origin, Brand Image, dan Perceived Quality Terhadap Minat Beli Sepeda Motor Honda Beat Di Kota Denpasar” menunjukkan hasil bahwa perceived quality  berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli sepeda motor  Honda Beat di Kota Denpasar. Penelitian lain yang dilakukan oleh Kurniawan (2015) yang berjudul “Analisis Pengaruh Brand Loyalty,  Brand Image, Iklan Dan Perceived Quality Terhadap Minat Beli Konsumen Xl Prabayar Di Kota Surabaya” menunjukkan hasil bahwa perceived quality berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen XL prabayar di Surabaya. Selanjutnya Penelitian lain  yang dilakukan oleh Pusipitasari (2006) menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan antara perceived quality dengan minat beli pada maskapai penerbangan Garuda. Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut :
H3 : terdapat pengaruh perceived quality terhadap minat beli
Kerangka Konseptual
Gambar 2.1 kerangka konseptual











BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Jenis Penelitain
Jenis penelitian yang digunakan untuk penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausal dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian asosiatif kausal adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya dan bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya (Umar,2003:30).
Penentuan Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan mengambil lokasi di Mataram Mall, Jl. Pejanggik, Cilinaya, Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. 83239.
Dengan subyek penelitan adalah wanita yang menggunakan kosmetik. Pemilihan lokasi dilakukan dengan sengaja (purposive) karena menurut peneliti cabang Naavagreen berada di Mataram Mall.
Metode Pengumpulan Data
Populasi dalam penelitian ini adalah wanita yang menggunakan kosmetik. Mengingat jumlahnya yang tidak diketahui, maka metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sample survei. Metode sampel survei adalah suatu metode dimana hanya sebagian dari populasi saja yang diambil dan dipergunakan untuk menentukan sifat serta ciri yang dikehendaki dari populasi.

Penentuan Responden
Populasi
Menurut Uma Sekaran (2006; 121) populasi mengacu pada keseluruhan kelompok orang, kejadian, atau hal minat yang ingin peneliti investigasi. Populasi yaitu sekelompok orang, kejadian tau segala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu (Indriantoro dan Supomo; 2009). Populasi dalam penelitian ini adalah wanita yang menggunakan kosmetik.
Sampel
Sampel adalah subkelompok atau sebagian dari populasi. Dengan mempelajari sampel, peneliti akan mampu menarik kesimpulan yang dapat digeneralisasikan terhadap populasi penelitian (Sekaran, 2006). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah non-probability sampling. Teknik ini untuk mempermudah pengambilan sampel yang memiliki jumlah populasi tidak diketahui. Jenis non-probability sampling yang digunakan adalah judgement atau purposive sampling di mana peneliti melakukan penilaian untuk memilih anggota populasi yang dinilai paling tepat sebagai sumber informasi yang akurat (Simamora, 2002).
Sementara itu jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 50 sampel. Hal ini sesuai dengan acuan umum untuk menentukan ukuran sampel menurut Roscoe (1975) yang dikutip Uma Sekaran (2006) yang  mengemukakan bahwa ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan peneliti. Sampel tersebut akan diambil dengan accidental sampling, artinya mengambil responden yang sempat ditemui pada saat penelitian secara kebetulan memenuhi kriteria pada saat itu juga.
Deskripsi dan Karakter Responden (sampel)
Subjek dalam penelitian ini adalah wanita yang penggunakan kosmetik yang mengetahui tentang naavagreen. Objek yang diteliti adalah minat beli produk naavagreen, adapun karakteristik responden dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Karakteristik Responden Menurut Usia
Karakteristik responden menurut umur dibedakan menjadi limakategori. Adapun jumlah responden dalam masing-masing kategori disajikan sebagai berikut :
Tabel 3.1
Karakteristik Responden Menurut Usia

Sumber : Data Primer yang Diolah 2019 (lampiran 3)
Berdasarkan Tabel 3.1 diatas dapat diketahui bahwa usia 21-30 tahun mendominasi jumlah responden yaitu sebanyak 33 orang atau 66% dari total keseluruhan responden, hal ini dikarenakan teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah purposive sampeling dimana peneliti memilih anggota populasi yang dinilai paling tepat sebagai sumber informasi, kemudian ketika penyebaran kuisioner dilakukan lebih banyak responden usia 21-30 tahun yang mengetahui tentang naavagreen.
Karakteristik Responden Menurut Pekerjaan
Karakteristik responden menurut pekerjaan dibedakan menjadi limakategori. Adapun jumlah responden dalam masing-masing kategori disajikan sebagai berikut :
Tabel 3.2
Karakteristik Responden Menurut Pekerjaan

Sumber : Data Primer yang Diolah 2019 (lampiran 3)
Berdasarkan Tabel 3.2 diatas dapat diketahui bahwa pelajar/mahasiswa mendominasi jumlah responden yaitu sebanyak 27 orang atau 54% dari total keseluruhan responden. Hal ini dikarenakan pada saat penelitian banyak ditemui responden yang sedang hangout dan juga pada akhir pekan banyak pelajar/mahasiswa yang memanfaatkan waktu libur mereka untuk mengunjungi Mataram Mall.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah angket dengan kuisioner sebagai alat pengumpulan data. Kuisioner (questionnaires) adalah daftar pertanyaan tertulis yang telah dirumuskan sebelumnya yang akan responden jawab, biasanya dalam alternatif  yang didefinisikan dengan jelas (Sekaran, 2006:82)
Daftar pertanyaan atau pernyataan yang ada dalam kuisioner ini harus sesuai degan permasalahan yang diteliti dan memperoleh data yang berkaitan dengan green product, brand personality, perceived quality dan minat beliproduk naavagreen. Pengukuran pada alternatif jawaban menggunakan skala likert. Skala likert adalah skala yang digunakan secara luas yang meminta responden menandai drajat persetujuan atau ketidak setujuan terhadap masing-masing dari serangkaian pernyataan mengenai objek stimulus (Malhotra, 2009).
Menurut Uma Sekaran (2006:31) skala likert didesain untuk menelaah seberapa  kuat subjek setuju atau tidak setuju dengan pernyataan pada skala 5 titik susunan sebagai berikur :
Sangat Tidak Setuju Tidak setuju Tidak Berpendapat Setuju Sangat Setuju
1 2 3 4 5

Nilai rata-rata dari masing-masing responden baik untuk instrumen green product, brand personality, perceived quality dan minat beli produk naavagreen dapat di kelompokkan dalam kelas interval dengan jumlah kelas  = 5 interval kelas dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Interval Kelas=(skorter tinggi-skor terendah )/(jumlah Kelas)
=(5-1)/5=0,8
Dari interval tersebut, akan diperoleh nilai batasan untuk masing-masig variabel dimasukkan kedalam kelas-kelas hasil penelitain. Berikut merupakan nilai interval masing-masing kelas :
Tabel 3.3
Keterangan Kriteria Interpretasi Skor

Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang  digunakan adalah data kuantitatif, dimana data kuantitatif ini merupakan data yang dapat di input ke dalam skala pengukuran statistik. Fakta dan fenomena dalam data ini tidak dinyatakan dalam bahasa alami, melainkan dalam numerik. Adapun sumber data yang dalam penelitian ini adalah:
Data primer, yaitu data yang langsung diperoleh peneliti dari pengisian kuesioner berdasarkan daftar pertanyaan yang dilakukan responden.
Data sekunder, yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung oleh peneliti, melainkan diperoleh melalui data yang diterbitkan oleh perusahaan, literature, maupun bahan bacaan yang berkaitan dengan penelitian ini.

Identifikasi Variabel
Berdasarkan perumusan masalah dan hipotesis, maka varibel-veriabel yang akan diteliti dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
Persepsi Green Product
Brand Personality
Perceived Quality
Minat Beli
Klasifikasi Variabel
Dari identifikasi variabel yang dilakukan sebelumnya, maka variabel tersebut dapat di klasifikasikan menjadi:
Variabel independen (bebas) adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat (dependen), secara positif atau negative (Sekaran,2009). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah persepsi green product, brand personality, dan perceived quality.
Variabel dependen (terikat) yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Malhotra,2014). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah minat beli.
Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional diperlukan untuk menyamakan asumsi-asumsi terhadap permasalahan yang akan dibahas. Definisi operasional variabel dalam penelitian ini, yaitu:



Tabel 3.4
Definisi Operasional Variabel
Variabel Definisi Indikator

Persepsi Green Product (D’Souza et al.,2006) suatu produk yang dirancang dan diproses dengan suatu cara untuk mengurangi efek-efek yang dapat mencemari lingkungan, baik dalam produksi, pendistribusian, dan pengonsumsinya. Persepsi : produk yang tidak berbahaya terhadap hewan dan lingkungan.
Kemasan: menyajikan elemen tertentu dan terkait kepedulian lingkungan.
Komposisi isi: bahan daur ulang, kerusakan minimum terhadap lingkungan.
Brand Personality (Aaker, 1997) Seperangkat karakteristik manusia yang berhubungan dengan merek Sincerity/kesungguhan : memenuhi kebutuhan, keinginan,harapan.
Excitement/kegembiraan : mampu memberikan  kesenangan pada pemakainnya.
Competence: kemampuan untuk menunjukkan keberadaannya dipasar.
Sophisticating: memberikan nilai bagi konsumennya.
Rugedness: mampu bertahan ditengah persaingan brand lain.
Perceived Quality (David A. Garfin, 1994)
Persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan. Kinerja: berbagai karakteristik operasional utama.
Pelayanan: kemampuan memberikan pelayanan.
Ketahanan: umur ekonomis dari produk.
Keandalan: konsistensi dari kinerja yang dihasilkan suatu produk.
Karakteristik Produk: bagian tambahan produk.
Kesesuaian dengan spesifikasi: kualitas proses manufaktur(tidak cacat produk).
Hasil: kualitas yang dirasakan.
Minat Beli 
(Ferdinand,2002:129) sebuah perilaku konsumen dimana konsumen mempunyai keinginan dalam membeli atau memilih suatu produk, berdasarkan pengalaman dalam memilih, menggunakan dan mengkonsumsi atau bahkan dalam menginginkan suatu produk. Minat transaksional: kecendrungan seseorang untuk membeli produk
Minat refrensial: kecendrungan seseorang untuk merefrensikan produk kepada orang lain.
Minat preferensial: menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki prefrensi utama pada produk.
Minat eksploratif: selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya.

Prosedur Analisis Data
Dalam menganalisis data penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis sebagai berikut:
Uji Instrumen
Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk menguji valid atau tidaknya suatu kuisioner. Kuisioner dikatakan valid apabila pernyataan dalam kuisioner mampu mengukur variabel yang ingin diukur. Validitas penelitian ini diuji dengan menggunakan teknik korelasi product moment/corrected item total corelation dengan menggunakan program SPSS statistic 24.0, yaitu dengan mengkorelasikan antara skor total dengan skor yang diperoleh pada masing-masing butir pernyataan dalam kuesioner (Arikunto, 2012).
Untuk mengetahui tingkat validitas item, maka nilai thitung dibandingkan dengan angka tkritis pada tabel korelasi r. Bila nilai thitung ¬lebih besar dari tkritis maka pernyataan yang telah disusun untuk megumpulkan data dianggap mempunyai validitas konstruk atau valid.
Dengan jumlah responden n=50 (signifikansi 5%), maka pernyataan kuisioner dikatakan valid jika korelasi r adalah df = jumlah responden – 2 atau 50-2= 48, sehingga diperoleh rtabel = 0,279 (Sugiyono, 2008). Adapun hasil uji validitas dideskripsikan sebagai berikut:



Tabel 3.5
Hasil Uji Validitas
 Sumber : Data Primer yang Diolah 2019 (lampiran 4)
Tabel 3.5 menunjukkan bahwa uji validitas yang dilakukan terhadap pernyataan green product, brand personality, perceived quality dan minat beli dinyatakan valid. Hal ini dapat disimpulkan dengan melihat nilai rhitung (rh) masing-masing pernyataan green product, brand personality, perceived quality dan minat beli lebih besar dari pada rtabel (R), sehigga seluruh pernyataan dalam variabel green product, brand personality, perceived quality dan minat beli adalah valid atau dapat dikatakan sah.
Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas menunjukan sejauh mana pengukuran kuisioner tersebut bebas dari kesalahan dan nenjamin konsisten atau stabil dalam penggunaan yang berulang. Pengukuran dalam penelitian ini dilakukan sekali saja kemudian hasilnya dibandingkan dengan pernyataan lainnya (Sekaran, 2006). Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan Crobach Alpha dengan kriteria pengambilan keputusan sebagaiman yang dinyatakan oleh Ghozali (2016), yaitu jika koefisien Cronbach Alpha > 0.70 maka pernyataan dikatakan andal. Sebaliknya jika koefisien Cronbach Alpha ≤ 0.70 maka pernyataan dikatakan tidak andal. Berikut adalah hasil uji reabilitas :
Table 3.6
Hasil Uji Reabilitas

Sumber : Data Primer yang Diolah 2019 (lampiran 5)
Hasil dari uji reabilitas dalam Tabel 3.6 menyatakan jika pernyataan yang terdapat dalam kuisionerlayak digunakan, hal ini dikarenakan nilai Alpha Cronbach dari masing-masing variable lebih besar dari 0,70 sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan
Uji Asumsi Klasik (Uji Normalitas)
Menurut Ghozali (2006) uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas diperlukan karena untuk melakukan pengujian-pengujian variabel lainnya dengan mengasumsikan bahwa nilai residual mengikiti distribusi  normal. Jika asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid dan statistik parametrik tidak bisa digunakan.
Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan ujinormalitas Kolmogrov dengan SPSS statistic 24.0 menguji. Dasar pengambilan keputusan dalam uji normalitas yakni :
Jika nilai signfikan lebih besar dari 0,05 maka data tersebut berdistribui normal.
Jika nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 maka data tersebut tidak berdistribusi normal.
Regresi Linier Berganda
Analisis regresi pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variablel dependen (terikat) dengan satu atau lebih variabel independen (variabel penjelas/bebas), dengan tujuan untuk mengestimasi dan atau memprediksi rata-rata populasi atau nilai rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang diketahui (Gujarati, 2003).
Hasil analisis regresi adalah berupa koefisien untuk masing-masing variabel independen. Persamaan regresi dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Y=α+β_(1 ) X_(1 )+β_2 X_2+β_3 X_3+e
Keterangan :
α : Konstanta
β_1 β_2 β_3 :Koefisien regresi dari masing-masing variabel  indevenden
e : Error Estimate
Y : Minat Beli
X1 : Green Product
X2 : Brand Personality
X3 : Perceived Quality
Besarnya konstantan tercermin dalam “α” dan besarnya koefisien regresi dari masing-masing variabel independen ditunjukan dengan β1 β2β3.
Pengujian Hipotesis
Uji t-statistik
Uji t-statistik digunakan untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel independennya. Uji hipotesis dirumuskan sebagai berikut :
Pengaruh green product terhadap minat beli.
H01 : β1 ≤ 0, artinya tidak terdapat pengaruh positif green productterdap minat beli.
Ha1 : β1 > 0, artinya terdapat pengaruh positif green productterhadap minat beli.
Pengaruh brand personality terhadap minat beli.
H02 : β2 ≤0, artinya tidak terdapat pengaruh positif brand personality terhadap minat beli.
Ha2 : β2 >0, artinya terdapat pengaruh positif brand personality terhadap minat beli.
H03 : β3 ≤0, artinya tidak terdapat pengaruh positif perceived quality terhadap minat beli.
Ha3 : β3 >0, artinya terdapat pengaruh positif perceived quality terhadap minat beli.
Signifikansi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen di bawah 0,05.
Uji F (Goodness of Fit)
Menururt Ferdinand (2014), Uji F atau uji kelayakan model dilakukan untuk melihat apakah model yang dianalisis memiliki tingkat kelayakan model yang tinggi yaitu variabel-varibel yang digunakan model mampu untuk menjelaskan fenomena yang dianalisis.
Koefisien Korelasi (R), Koefisien Determinasi (R2) dan Adjusted R2
Koefisien Korelasi (R)
Sarwono (2007), Koefisien korelasi ialah pengukuran statistik kovarian atau asosiasi antara dua variabel. Besarnya koefisien korelasi berkeisar antara +1 sampai dengan -1. Koefisien korelasi menjukkan kekuatan hubungan linier dan arah hubungan dua variabel acak. Artinya jika nilai variabel X tinggi, maka nilai variabel Y akan tinggi pula. Sebaliknya, jika koefisien korelasi negatif, maka kedua variabel mempunyai hubungan terbalik. Artinya jika nilai variabel X tinggi, maka nilai varibel Y akan menjadi rendah dan berlaku sebaliknya.
Tabel 3.7
Interpretasi dari nilai r menurut Husaini Usman dan R. Purnomo Setiady Akbar

Koefisien Determinasi (R2)
Menurut Ferdinand (2014) Koefisien determinasi digunakan untuk menggambarkan kemampuan model menjelaskan variasi yang terjadi dalam variabel dependen.Koefisien determinasi ditunjukkan oleh angka R-square dalam model summary yang dihasilkan oleh program. Nilai R¬¬2 adalah antara nol dan satu. Model yang baik menginginkan angka R¬¬2 yang tinggi. Berikut adalah dasar pengambilan keputusan dalam koefisien determinasi :





Tabel 3.8
Pengambilan keputusan koefisien determinasi

Sumber : Supranto (2001)
Adjusted R2
Adjusted R2 memiliki kegunaan yang sama dengan koefisien determinasi (R2), perbedaannya adalah nilai Adjusted R2 dapat naik atau turun apabila sebuah variabel independen ditambahkan dalam model (Ferdinand, 2014). Apabila tambahan variabel independen merupakan prediktor yang baik, maka akan menyebabkan nilai varians naik dan pada gilirinnya Adjusted R2 akan meningkat. Sebaliknya bila tambahan variabel baru tidak meningkatkan varians, maka Adjusted R2 akan menurun yang artinya tambahan variabel baru tersebut bukan merupakan prediktor yang baik bagi variabel dependen. Adjusted R2 dapat bernilai negatif kendati R2 selalu positif. Bila Adjusted R2 bernilai negatif, maka nilainya dianggap nol (Gujarati, 1995; Kuncoro, 2003).
Sementara itu dalam R2,setiap tambahan satu variabel independen, membuat nilai R2 pasti akan meningkat tanpa melihat apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Hal tersebut membuat penggunaan koefisien determinasi bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Oleh karean itu dianjurkan untuk menggunakan Adjusted R2.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Objek Penelitian
Dalam memanfaatkan kekayaan lama dan cara-cara tradisi perawatan 
kesehatan dan kulit para leluhur, maka di Mataram  telah berdiri cabang perawatan kecantikan kulit yang bernama Naavagreen Natural Skin Care. Semua proses perawatan dan produknya menggunakan bahan-bahan alami/natural. Keuntungan lain yang dapat diperoleh di naavagreen adalah, selain tentunya dengan biaya yang lebih murah, juga kualitas produk yang prima, dan pelayanan yang ramah serta pelayanan dokter yang profesional. Visi dari Naavagreen adalah menjadi Pusat Pelayanan Perawatan Kecantikan Kulit dan Wajah secara alami/natural, berkualitas dan murah, yang Prima dan terpercaya bagi semua.Misi dari Naavagreen adalah mengembangkan keterampilan dan profesionalisme Karyawan serta memberikan pelayanan perawatan yang alami / natural, berkualitas, murah dan terpercaya bagi semua pelanggan.
Deskipsi Variabel Penelitian
Berdasarkan judul dan perumusan masalah penelitian dimana penelitian ini terdiri dari tiga variabel bebas (dependen) dan satu variabel terikat (independen), yakni meliputi data mengenai persepsi green product (X1), brandpersonality (X2), perceived quality (X3) dan minat beli (Y). Sampel yang diambil untuk penilitian ini sebanyak 50 orang responden yang merupakan wanita yang menggunakan kosmetik yang mengetahui tentang naavagreen.
Persepsi Green Product (X1)
Pernyataan yang diajukan untuk variabel ini sebanyak 5 pernyataan. Adapun tanggapan responden terhadap masing-masing pernyataan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1
Tanggapan Konsumen Terhadap Green Product (X1)

Sumber : Data Primer yang Diolah 2019 (lampiran 2)
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa pernyataan dari masing-masing indikator green product yaitu persepsi, kemasan dan komposisi isi memiliki rata-rata total sebesar 4,12 dengan kriteria tinggi yang didominasi oleh indikator persepsi dengan total rata-rata indikator sebesar 4,29 artinya adalah responden memiliki persepsi yang sangat baik terhadapgreen product untuk memilih produk kecantikan Naavagreen.


Brand Personality (X2)
Pernyataan yang diajukan untuk variabel ini sebanyak 15 pernyataan. Adapun tanggapan responden terhadap masing-masing pernyataan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.2
Tanggapan Konsumen Terhadap Brand Personality (X2)

Sumber : Data Primer yang Diolah (lampiran 2)
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa pernyataan dari masing-masing indikator brand personality yaitu sincerity, excitement, competence, sophisticating dan rugedness memiliki rata-rata total sebesar 3,97 dengan kriteria tinggi yang didominasi oleh indikator sincerity dengan total rata-rata indikator sebesar 4,09 artinya adalah respondenmemiliki sincerity yang tinggi terhadap brand personality untuk memilih produk kecantikan NaavaGreen.
Perceived Quality (X3)
Pernyataan yang diajukan untuk variabel ini sebanyak 7 pernyataan. Adapun tanggapan responden terhadap masing-masing pernyataan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.3
Tanggapan Konsumen Terhadap Perceived Quality (X3)

Sumber: Data Primer yang Diolah (lampiran 2)
Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa pernyataan dari masing-masing indicator perceived quality yaitu kinerja, pelayanan, ketahanan, keandalan, karakteristik produk, kesesuaian dengan spesifikasi dan hasil memiliki rata-rata total sebesar 4,02 dengan kriteria tinggi yang didominasi oleh indikator kinerjadengan total rata-rata indikator sebesar 4,24 artinya adalah responden mempertimbangkan perceived quality untuk memilih produk kecantikan NaavaGreen.
Minat Beli (Y)
Pernyataan yang diajukan untuk variabel ini sebanyak 4pernyataan. Adapun tanggapan responden terhadap masing-masing pernyataan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.4
Tanggapan Konsumen Terhadap Minat Beli (Y)

Sumber : Data Primer yang Diolah 2019 (lampiran 2)
Tabel 4.4 menunjukan jika pernyataan variabel minat beli yang terdiri dari indikator minat beli transaksional, minat beli refrensial, minat beli prefrensial dan minat beli eksploatif menunjukkan rata-rata total sebesar 4,04 dengan semua pernyataan berkriteria tinggi yang didominasi oleh indikator minat preferensi sebesar 4,18 artinya adalah responden memiliki keinginan yang tinggi untuk minat beli pada produk naavagreen.
Uji Asumsi Klasik (Uji Normalitas)
Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan Uji Normalitas Kolmofrov-Sminove dengan SPSS statistic 24.0.  Kriterianya dapat dinyatakan “normal” adalah jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka data tersebut berdistribusi normal, namun jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka data tersebut tidak berdistribusi normal. Hasil uji normalitas disajikan berikut ini:
Tabel 4.5
Hasil Pengujian Normalitas Data
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 50
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation .49454672
Most Extreme Differences Absolute .095
Positive .071
Negative -.095
Test Statistic .095
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Sumber : Data Primer yang Diolah 2019 (lampiran 6)
Berdasarkan output data pada Tabel 4.5, diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,200 lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang diuji dalam penelitian ini berdistribusi normal. Hal ini sesuai dengan dasar pengambilan keputusan uji normalitas yang menyatakan jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka data tersebut berdistribusi normal.
Analisis dan Hasil Penelitian
Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini berkaitan dengan pengaruh green product, brand personality dan perceived quality, terhadap minat beli. Analisis regresi linier berganda dipilih untuk menganalisis dalam penelitian ini. Berikut ini hasil analisis regresi linier berganda yang dilakukan dengan menggunakan SPSS statistic 24.0.
Tabel 4.6
Hasil Uji Analisis Linier Berganda

Sumber : Data Primer yang Diolah 2019 (lampiran 7)
Besarnya koefisien regresi menggunakan standardize coefficiencts yaitu koefisien regresi yang dihitung dari data variabel dependen (Y) dan independen (X) yang sudah diubah kedalam distribusi normal. Regresi ini merupakan regresi yang melalui titik origin nol sehingga tidak memiliki konstanta (Widarjono, 2010). Berdasarkan penjelasan tersebut dan data pada Tabel 4.6 diatas, dapat disusun persamaan sebagai berikut :
Y= 0,240X1+0,358X2+0,358X3+e
Keterangan :
Y : Prediksi minat beli (Y)
0,240X1    : Koefisien pridiktor green product (X1) sebesar 0,240 meunjukkan green product (X1) dapat memprediksi minat beli (Y) secara positif. Apabila X1 naik satu satuan dengan asumsi variabel lain tetap, maka nilai akan naik 0,240 satuan.
0,358X2 :Koefisien predictor brand personality (X2) sebesar 0,358 menunjukkan brand personality (X2) dapat memprediksi minat beli (Y) secara positif. Apabila X2 naik satuan dengan asumsi variable lain tetap, maka nilai akan naik 0,358 satuan.
0,358X3 :Koefisien predictor perceived quality (X3) sebesar 0,358 menunjukkan perceived quality (X3) dapat memprediksi minat beli (Y) secara positif. Apabila X3 naik satuan dengan asumsi variable lain tetap, maka nilai akan naik 0,358 satuan.
Penjelasan mengenai langkah-langkah dalam pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Uji t-statistik
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Apabila nilai thitung lebih besar dari ttabel dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p<0,05), maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Penjelasan hasil uji t untuk masing-masing variabel bebas adalah sebagai berikut. :
Green Product
Green product memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,035. Dari hasil uji t pada variable green product menyatakan bahwa signifikansi uji t lebih kecil dari 0,05 dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,240. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis yang menyatakan “terdapat pengaruh positif dan signifikan persepsi green product terhadap minat beli” dinyatakan diterima.
Brand Pesonality
Brand personality memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,003. Dari hasil uji t pada variable brand personality menyatakan bahwa signifikansi uji t lebih kecil dari 0,05 dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,358. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis yang menyatakan “terdapat pengaruh positif dan signifikan brand personality terhadap minat beli” dinyatakan diterima.
Perceived Quality
Perceived Quality memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,003. Dari hasil uji t pada variable perceived quality menyatakan bahwa signifikansi uji t lebih kecil dari 0,05 dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,358. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis yang menyatakan “terdapat pengaruh positif dan signifikan perceived quality terhadap minat beli” dinyatakan diterima.
Uji F (Goodnes of Fit)
Menururt Ferdinand (2014), Uji F atau uji kelayakan model dilakukan untuk melihat apakah model yang dianalisis memiliki tingkat kelayakan model yang tinggi yaitu variabel-varibel yang digunakan model mampu untuk menjelaskan fenomena yang dianalisis.
Tabel 4.7
Hasil Uji F
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 13.296 3 4.432 17.011 .000b
Residual 11.984 46 .261
Total 25.280 49
a. Dependent Variable: Minat Beli
b. Predictors: (Constant), Perceived Quality, Green Product, Brand Personality
Sumber : Data yang Diolah 2019 (lampiran 8)
Berdasarkan Tabel 4.7 terlihat nilai Fhitung sebesar 17,011 dengan probabilitas signifikan yang menunjukkan nilai sebesar 0,000 itu berarti nilai probabilitas signifikan < 0,05. Sedangkan hasil yang diperoleh dari Ftabel dengan df1=3 dan df2=46 pada a=0,05 adalah sebesar 2,806 yang berarti Fhitung lebih besar dari Ftabel (17,011 >2,806) maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen (persepsi green product, brand personality dan perceived quality) layak untuk menjelaskan variabel dependen yang dianalisis. Variabel yang paling dominnan yaitu brand personality dan perceived quality. Adapun hasil uji hipotesis diringkas sebagai berikut :
Tabel 4.8
Ringkasan Hasil Uji Hipotesis

Sumber : Data Primer yang Diolah 2019
Koefisien Korelasi (R), Koefisien Determinasi (R2) dan Adjusted R2
Koefisien korelasi merupakan pengukuran asosiasi antara dua variabel. Koefisien determinasi digunakan untuk menggambarkan kemampuan  model menjelaskan variasi yang terjadi dalam variabel dependen. Sedangkan, Adjusted R2 dapat naik atau turun apabila sebuah variabel independen ditambahkan dalam model. Berikut Tabel yang menjelaskan tentang hasil koefisien Korelasi (R), Koefisien Determinasi (R2) dan Adjusted R2.
Tabel 4.9
Hasil Koefisien Determinasi (R2)
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .725a .526 .495 .51042
a. Predictors: (Constant), Perceived Quality, Green Product, Brand Personality
b. Dependent Variable: Minat Beli
Sumber : Data Primer yang Diolah 2019 (lampiran 10)

Berdasarkan Tabel 4.9 diperoleh angka R = 0,725. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang cukup antara variabel green product (X1), brand personality (X2), perceived quality (X3) terhadap minat beli produk naavagreen.
Berdasarkan table 4.9 menunjukan nilai R sebesar 0,725, maka koefisien determinasi (R Square) adalah sebesar 0,725 x 0,725 = 0,526 artinya kemampuan variabel bebas yaitu green product (X1), brand personality (X2) dan perceived quality (X3) dalam menjelaskan varians dari variabel terikat yaitu minat beli adalah sebesar 52,6 persen, berarti terdapat 47,4 persen (100%-52,6%) varians variabel terikat yang dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitan ini.
Nilai Adjusted R Square dalam Tabel 4.9 sebesar 0,495 menunjukan bahwa kemampuan variabel bebas yaitu green product (X1), brend personality (X2), perceived quality (X3) dalam menjelaskan varians dari variabel terikat yaitu minat beli adalah sebesar 49,5 persen, berarti terdapat 50,5 persen (100%-49,5%) varians variabel terikat yang dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.
Pembahasan
Pengaruh persepsi green product terhadap minat beli
Dari hasil pengujian hipotesis menujukkan nilai thitung dari variabel green product sebesar 2,176 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,035 lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Hal ini sesuai dengan kriteria dimana apabila nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p<0,05) maka variabel bebas (X) dinyatakan berpengaruh terhadap variabel terikat (Y). Hal ini berarti bahwa persepsi konsumen terhadap green product memiliki peranan penting terhadap minat beli produk naavagreen. Koefisien regresi green product adalah sebesar 0,240 lebih besar dari pada 0, maka H01 ditolak dan Ha¬1 ¬diterima yang artinya terdapat pengaruh positif persepsi geen product terhadap minat produk naavagreen. Pengaruh tersebut dikarenakan konsumen telah menganggap naavagreen sebagai produk dengan merek ramah lingkungan atau green product. Hal tersebut juga menunjukan bahwa masing-masing indikator green product yaitu persepsi produk, kemasan dan komposisi isi berpengaruh terhadap minat beli konsumen. Minat beli dipengaruhi oleh persepsi konsumen terhadap green product. Mulai sadarnya konsumen akan pentingnya produk yang aman dan ramah lingkungan menjadi stimulus timbulnya minat beli terhadap green product. Hal ini juga sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Suzanna (2013)  dan  Robi & anjarwati (2014) tentang pengaruh green product terhadap minat beli, kedua penelitian tersebut membuktikan bahwa green product berpengaruh secara signifikan terhadap minat beli.
Pengaruh brand personality terhadap minat beli
Dari haasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai thitung dari variabel brand personality sebesar 3,170 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,003 lebih kecil dari 0,05 (p<0,05), sehingga ini berarti jika variabel brand personality berpengaruh positif terhadap minat beli produk naavagreen sesuai dengan kriteria yang menyatakan bahwa apabila nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p<0,05) maka variabel bebas (X) dinyatakan berpengaruh terhadap variabel terikat (Y). Koefisien regresi brand personality adalah 0,358 lebih besar dari pada 0, hal ini menunjukkan bahwa H02 ditolak dan Ha2 diterima yang artinya terdapat pengaruh positif brand personality terhadap minat beli produk naavagreen. Artinya semakin tinggi kepribadian merek maka akan semakin meningkatkan minat beli konsumen terhadap produk Naavagreen.
Minat beli dipengaruhi oleh brand personality atau kepribadian merek. Kepribadian merek adalah seperangkat karakteristik manusia yang berhubungan dengan merek. Brand personality yang diusung oleh produk Naavagreen ini merupakan produk yang aman, sehat, dan terbuat dari bahan alami. Hal ini menjadi daya tarik yang memicu timbulnya minat beli dikalangan konsumen, terutama konsumen yang mulai menyadari pentingnya green product. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Almanda (2014) dan  Priyanda (2014) mengenai pengaruh brand personality terhadap minat beli, hasil menyatakan bahwa variabel brand personality berpengaruh secara positif signifikan terhadap minat beli.
Pengaruh perceived quality terhadap minat beli
Dari haasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai thitung dari variabel perceived quality sebesar 3,170 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,003 lebih kecil dari 0,05 (p<0,05), sehingga ini berarti jika variabel perceived quality berpengaruh positif terhadap minat beli produk naavagreen sesuai dengan kriteria yang menyatakan bahwa apabila nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p<0,05) maka variabel bebas (X) dinyatakan berpengaruh terhadap variabel terikat (Y). Koefisien regresi brand personality adalah 0,358 lebih besar dari pada 0, hal ini menunjukkan bahwa H02 ditolak dan Ha2 diterima yang artinya terdapat pengaruh positif perceived quality terhadap minat beli produk naavagreen. Artinya semakin tinggi persepsi konsumen terhadap kualitas produk Naavagreen maka akan semakin meningkatkan minat beli.
Minat beli dipengaruhi oleh perceived quality. Persepsi kualitas merupakan persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan. Persepsi terhadap kualitas sangat penting bagi konsumen. Produk yang dianggap memiliki kualitas yang baik akan lebih diminati konsumen. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari (2006) dalam penelitiannya mengenai pengaruh persepsi kualitas terhadap minat beli, hasil temuan membuktikan bahwa persepsi kualitas berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap minat beli.











BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Tujuan dilakukankannya penelitian ini dalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh yang ditimbulkan dengan penggunaan green product, brand personality dan perceived quality terhadap minat beli produk naavagreen . Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesi yang telah dijelaskan pada bab empat, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Variabel green product memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli produk naavagreen. Hasil ini menunjukan bahwa semakin tinggi green product maka semakin tinggi pula minat beli konsumen, sebaliknya semakin rendah green product maka semakin rendah pula minat beli konsumen terhadap naavagreen. Dengan demikian H1 diterima. 
Variabel brand personality memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beliproduk naavagreen. Hasil ini menunjukan bahwa semakin tinggi brand personality maka semakin tinggi pula minat beli konsumen, sebaliknya semakin rendah brand personality maka semakin rendah pula minat beli konsumen terhadap naavagreen. Dengan demikian H2 diterima. 
Variabel perceived quality memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beliproduk naavagreen. Hasil ini menunjukan bahwa semakin tinggi perceived quality maka semakin tinggi pula minat beli konsumen, sebaliknya semakin rendah perceived quality maka semakin rendah pula minat beli konsumen terhadap naavagreen. Dengan demikian H3 diterima. 
Berdasarkan nilai Adjusted R2 pengaruh variabel green product, brand personality dan perceived quality berpengaruh cukup berarti terhadap variabel minat beli. Hal ini menunjukan bahwa green product, brand personality dan perceived quality hanya sebagian faktor yang mempengaruhi minat beli dan masih ada faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini sudah diupayakan semaksimal mungkin, namun masih terdapat keterbatasan, antara lain :
Penelitian ini masih belum bisa mengungkapkan secara keseluruhan faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen terhadap produk naavagreen secara keseluruhan. Hal ini ditunjukan oleh nilai Adjusted R2 yang menyatakan bahwa green product, brand persoanality dan perceived quality berpengaruh cukup berarti terhadap minat beli sehingga masih ada faktor lain yang mempegaruhi minat beli yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Sampel dari penelitian ini masih terbatas karena hanya dilakukan pada wanita yang menggunakan kosmetik dan mengetahui dan tentang naavagreen.
Saran
Pihak manajemen naavagreen hendaknya memperhatikan kemasan dimana persepsi dan komposisi isi sebagai green product memiliki pengaruh yang lebih besar, sehingga naavagreen dapat lebih fokus pada perbaikan kemasan dengan menggunakan kemasan minimalis untuk mengurangi penggunaan plastik dan menggunakan bahan yang aman bagi konsumen.
Pihak manajemen naavagreen hendaknya memperhatikan rugedness dimana sincerity, excitement, competence, dan sophisticating sebagai brand personality memiliki pengaruh yang lebih besar. Salah satunya adalah dengan memperkuat media periklanan untuk menunjukkan keberadaanya dalam pasar.
Pihak manajemen naavagreen hendaknya memperhatikan karakteristik produk dimana kinerja, pelayanan, ketahanan, keandalan, kesesuaian dengan spesifikasi dan hasil sebagai perceived quality memiliki pengaruh yang lebih besar. Salah satunya adalah dengan memperhatikan keluhan-keluhan konsumen terhadap produk tersebut.
Penelitian selanjutnya diharapkan mampu memberikan lebih banyak variabel yang tidak diteliti dalam penelitian ini, variabel yang disarankan peneliti untuk pengembangan penelitian adalah pengaruh green product terhadap brand personality, variabel green brand personality, pengaruh brand personality terhadap perceived quality, peneliti menyarankan variabel ini dikarenakan variabel tersebut terdapat dalam objek penelitian yaitu naavagreen kemudian hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Aaker, David A. (1997). Should You Take Your Brand to Where the action is?.Harvard Business Review, Vol. 75, Sept/Oct, p.135-143.
Aaker, Jennifer (1997), “Dimensions of Brand Personality,” Journal of Marketing Research, 34 (3), 347-356.
Almanda, Ikbal Mochammad. 2014. Pengaruh Brand Personality Sepatu Nike terhadap Minat Beli (Studi Kasus pada Mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom).Skripsi Universitas Telkom Bandung.
Chan, Ricky Y.K. 1999. Environmental Attitudes and Behaviour of Consumer in China. Journal of International Consumer Marketing, 11:4, p. 25-52.
D'Souza, C., Taghian, M., Lamb, P., and Peretiatkos, R. (2006). "Green Products and Corporate Strategy: An Empirical Investigation". Society and Business Review. Vol. 1 Iss: 2
Darmadi, Durianto. (2001). Strategi Menaklukkan Pasar Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek.Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Dodds, W.B., Monroe, K.B, & Grewal, D. (1991). “Effect of Price, Brand and Store Information On Buyers’ Product Evaluation”. Journal of Marketing Research, 28. P307-319.
Ghozali.(2011). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gujarati, Damodar N. (2003). Ekonometrika Dasar. Jakarta : Erlangga.
Ha, Thu., Nguyen., & Ghizaw. (2014). Factors influence consumer purchase decisions of Private Label Food Products. Bachelor thesis in in Business Administration FOA214 School of Business, Society and Engineering.
Handayani, Novita Tri. (2012). “Pengaruh Atribut Produk terhadap Loyalitas Pelanggan Green Product Sepeda Motor Honda Injection”.Management Analysis Journal (Volume 1 Nomor 2). Hlm. 1-2.
Husein, Umar. 2005. Manajemen Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT. Gramedia Pusaka.
Iswari, Retno dan Latifah, Fatma. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik, Jakarta: GramediaPustaka Utama.
Kasali, R. 2005. Sembilan Fenomena Bisnis. Jakarta: Manajemen Student Society MSS FEUI. Jakarta
Kong, wildon., Harun, Amran., Sulong, Rini Suryati., & Lily, Jaratin. 2014. The Influence of Consumers Perceived of Green Product on Green Purchasing Intention. International Journal of Asian Social Science Vol 4(8) 924-939
Kotler, Philip dan Keller, Kevin Lane.(2009). Manajemen Pemasaran, Edisi 12.Jilid 1. PT.Indeks Jakarta.
Kotler, Philip dan Kevin Lene Keller.(2012). Principle of Marketing, Global Edition, 14th Edition. USA: Pearson Education Limited.
Ling-yee, Li,. 1997. Effect of collectivist orientation and ecological attitude on actual environmental commitment: The moderating role of consumer demographics and product involvement. Journal of International Consumer Marketing, Vol. 9 No. 4, pp. 31-53.
Malhotra, Naresh. 2014. Basic Marketing Research. Pearson Education. England.
Naibaho, Agnes., Yuliati, A Lili. 2017. Pengaruh Brand Personality Terhadap Minat Beli Produk Body Mist (studi pada the body shop di trans studio mall Bandung). Jurnal Universitas Telkom.
Ottman, Jacquelyn,. 1995. Today’s consumers turning lean and green. Marketing News, Vol. 29, Iss. 23, pp. 12 – 14.
Oyewole, Philemon. (2001). “Social Costsof Environmental Justice Associated with The Practice of Green Marketing”. Journal of Business Ethics (Volume 29, No 3).
Polonsky, Michael Jay. (1994).  An Introduction To Green Marketing. Electronic Green Journal .Vol 1 issue 2.
Pramanda, Novan. 2010. Pengaruh Brand Perceived Quality terhadap Minat Beli Konsumen Pada SPBU Petronas Dago Bandung. Skripsi Jurusan Manajemen Universitas Widyatama.
Puspitasari, Diana. 2006. Analisis Pengaruh Persepsi Kualitas dan Kepuasan Pelanggan Terhadap Minat Beli Ulang (Studi Kasus Pada Maskapai Penerbangan Garuda Keberangkatan Semarang).Tesis Universitas Diponegoro.
Puspito, M Tunjung. 2016. Pengaruh Green product Pertamax Terhadap Minat Beli Konsumen (Studi PT. Pertamina Bandung 2016).Jurnal Ilmiah Universitas Telkom Bandung.
Putra, Gretna T.K, & Harjianto, Richard. 2015. the impact of cunsumer value propotition towards purchasing intention of chesa cup. ibus management vol 3 (2) 241-251.
Rachmatianti, D Niken. 2014. Pengaruh Brand Personality Terhadap Minat Beli (studi pada merek kosmetik Maybelline New York). Skripsi Universitas Telkom.
Rehman, Zia Ur., Khyzer, Muhammad. 2013. Conceptualizing Green Purchasing Intention in Emerging Market: An Empirical Analysis on Pakistan. The 2013 WEI International Academic Conference Proceeding. Istanbul, Turkey.
Roby, M Alfa., Andjarwati, L Anik. 2014. Pengaruh green product pada Minyak Goreng Ecoplanet Terhadap Minat Beli Konsumen.Jurnal Ilmiah Manajemen Universitas Negeri Surabaya.Vol 2 (4).
Schiffman, L.G & Kanuk, L.L. (2007).Consumer Behavior. (9th ed.). New Jersey: Pearson Prentice  Hall.
Sekaran, Uma. 2006. Metodologi Penelitian Untuk Bisnis. Jakarta: Salemba 4
Sekaran, Uma. 2011. Research Method For Bussiness (Metode Penelitian Bisnis). Jakarta : Salemba Empat
Sekaran, Uma. 2009. Research Methods for Business : Metodologi Penelitian untuk Bisnis.Edisi 4.Buku 1. Jakarta: Salemba Empat
Septifani, Riska, Fuad A. dan Imam S. (2014). Pengaruh Green Marketing, Pengetahuan dan Minat Membeli terhadap Keputusan Pembelian. Jurnal Manajemen Teknologi. Vol. 13, No. 2.
Shaputra, Rizky Kharismawan. 2013. Penerapan Green Marketing Pada Bisnis Produk Kosmetik.Jurnal JIBENKA VOl 7(3) 47-53
Simamora, B. (2002). Panduan Riset Perilaku Konsumen. Surabaya : Pustaka Utama.
Winda, ., Lestari, R, B., & Kardinal. 2012. Pengaruh Brand Equity Terhadap Minat Pembelian Ulang Pada Restoran D’Cost Di Palembang Square. Jurnal IJCCS.













Lampiran 1. Kuesioner

KUESIONER PENELITIAN

PENGARUH PERSEPSI GREEN PRODUCT, BRAND PERSONALITY DAN PERCEIVED QUALITY TERHADAP MINAT BELI PRODUK NAAVAGREEN

Dengan hormat,
Saya Elsa Etika Ayu Ningsih mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNRAM, saat ini sedang melakukan penelitian denganjudul “Pengaruh Persepsi Green Product, Brand Personality dan Perceived Quality terhadap Minat BeliProduk NaavaGreen”.
Dengan segala hormat serta kerendahan hati, saya mengharapkan kesediaan saudara/i untuk mengisi kuesioner penelitian ini. Dimohon untuk membaca dengan cermat dan teliti serta memberikan jawaban yang sesuai dengan pendapat anda tanpa melewatkan satu pun pertanyaan/pernyataan dalam kuesioner
Atas perhatian serta kesediaannya, saya ucapkan banyak terima kasih.


      Hormat saya,


Elsa Etika Ayu Ningsih
       A1B 014 046
IDENTITAS RESPONDEN
Nama :
Alamat :
Jenis Kelamin* : a. Laki-laki
  b.Perempuan
Usia saat ini : (Pilih Salah satu di bawah ini)
< 20 thn
20 thn - 30thn
31thn - 40thn
41 thn - 50 thn
> 50 thn
Pekerjaan saat ini : (Pilih salah satu di bawah ini)
Pelajar/mahasiswa
PNS
Pegawai Swasta
Wiraswasta
Lain – lain …………………

PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER
Isilah pernyataan dibawah ini sesuai dengan kenyataan yang saudara/i alami. Dimohon untuk membaca dan memahami setiap pernyataan dengan seksama, kemudian berikan respon saudara/i dengan memberikan tanda centang (√ ) pada pilihan jawaban yang tersedia.
Pilihlahan Jawaban Keterangan Bobot/skor
SS Sangat Setuju 5
S Setuju 4
KS Kurang Setuju 3
TS Tidak Setuju 2
STS Sangat Tidak Setuju 1


Variabel Persepsi Green Product
Indikator Persepsi Green Product Pernyataan Jawaban
SS
(5) S
(4) KS
(3) TS
(2) STS
(1)
Persepsi NaavaGreen adalah produk yang ramah lingkungan.
NaavaGreen mencerminkan produk yang ramah lingkungan.
Kemasan bahan kemasan NaavaGreen dapat didaur ulang.
Komposisi isi Produk NaavaGreen dibuat dari bahan-bahan botanical alami.
Produk NaavaGreen tidak terkontaminasi bahan kimia yang berbahaya bagi konsumen.

Variabel Brand Personality
Indikator Brand Personality Pernyataan Jawaban
SS
(5) S
(4) KS
(3) TS
(2) STS
(1)
Sincerity Produk NaavaGreen terkesan sederhana
Iklan produk NaavaGreen sesuai dengan kenyataan
produk  NaavaGreen bermanfaat bagi saya
Tingkat daya tarik iklan NaavaGreen melalui kampanye “cantik alami”   
Excitement NaavaGreen memiliki produk yang unik   

Produk NaavaGreen memiliki kesamaan spirit dengan saya
Produk NaavaGreen menyampaikan pesan dengan imajinatif   

Produk NaavaGreen selalu up to date
Competence Produk NaavaGreen bisa diandalkan
Produk NaavaGreen merupakan pilihan tepat bagi saya   
Produk NaavaGreen tergolong produk kecantikan sukses   
Sophisticating Tingkat gengsi saya meningkat dengan produk NaavaGreen   
produk NaavaGreen merupakan merek baik
Rugedness
Produk NaavaGreen bermanfaat bagi aktivitas saya   
Produk NaavaGreen sesuai untuk menunjang aktivitas saya   


Variabel Perceived Quality
Indikator Perceived Quality Pernyataan Jawaban
SS
(5) S
(4) KS
(3) TS
(2) STS
(1)
Kinerja Produk NaavaGreen memberikan efek positif bagi kulit saya
Pelayanan Pelayanan produk yang diberikan oleh NavaGreen memuaskan bagi saya
Ketahanan Produk NaavaGreen tahan lama
Keandalan Kualitas produk NaavaGreen dari waktu ke waktu tidak berubah
Karakteristik Produk Produk NaavaGreen memiliki keunggulan dibandingkan produk lain

Kesesuaian dengan Spesifikasi Produk yang ditawarkan NaavaGreen sesuai dengan iklan

Hasil Kualitas produk NaavaGreen yang saya rasakan secara keseluruhan bagus

Variabel Minat Beli
Indikator Perceived Quality Pernyataan Jawaban
SS
(5) S
(4) KS
(3) TS
(2) STS
(1)
Minat transaksional Saya berencana untuk membeli produk NaavaGreen.
Minat refrensial Saya akan merekomendasikan orang lain untuk membeli produk NaavaGreen.
Minat preferensial Saya memilih produk Naavagreen saat akan membeli produk kosmetik.
Minat eksploratif Saya akan mencari informasi tentang produk NaavaGreen sebelum membeli produk kosmetik.
















Lampiran II
Rekapitulasi Jawaban Responden
Green Product (X1)

Brand Persona;ity (X2)
Perceived Quality (X3) 
Minat Beli (Y) 
Lampiran 3
1. Karakteristik Responden Menurut Usia




2. Karakteristik Responden Menurut Pekerjaan


Sumber : Data Primer yang Diolah 2019
  
LAMPIRAN 4
HASIL UJI VALIDITAS

Green Product (X1)
Correlations
X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 Jumlah
X1.1 Pearson Correlation 1 .061 .108 -.326* .167 .292*
Sig. (2-tailed) .675 .454 .021 .247 .039
N 50 50 50 50 50 50
X1.2 Pearson Correlation .061 1 -.269 -.059 .289* .300*
Sig. (2-tailed) .675 .059 .686 .042 .034
N 50 50 50 50 50 50
X1.3 Pearson Correlation .108 -.269 1 -.166 -.027 .472**
Sig. (2-tailed) .454 .059 .248 .852 .001
N 50 50 50 50 50 50
X1.4 Pearson Correlation -.326* -.059 -.166 1 -.018 .422**
Sig. (2-tailed) .021 .686 .248 .903 .002
N 50 50 50 50 50 50
X1.5 Pearson Correlation .167 .289* -.027 -.018 1 .501**
Sig. (2-tailed) .247 .042 .852 .903 .000
N 50 50 50 50 50 50
Jumlah Pearson Correlation .292* .300* .472** .422** .501** 1
Sig. (2-tailed) .039 .034 .001 .002 .000
N 50 50 50 50 50 50
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).


BRAND PERSONALITY (X2)
Correlations
X2.1 X2.2 X2.3 X2.4 X2.5 X2.6 X2.7 X2.8 X2.9 X2.10 X2.11 X2.12 X2.13 X2.14 X2.15 Jumlah
X2.1 Pearson Correlation 1 .229 .313* -.009 -.011 .187 .000 .279* .002 .087 .539** .067 .223 -.142 -.083 .346*
Sig. (2-tailed) .109 .027 .953 .940 .193 1.000 .050 .987 .548 .000 .646 .119 .325 .565 .014
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.2 Pearson Correlation .229 1 .149 .180 .060 -.122 .000 -.168 .122 .387** .281* .137 .172 .081 .024 .399**
Sig. (2-tailed) .109 .302 .211 .678 .399 1.000 .242 .397 .005 .048 .342 .233 .574 .870 .004
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.3 Pearson Correlation .313* .149 1 -.057 .126 .229 .211 .167 -.058 .155 .335* .150 -.092 -.128 -.044 .332*
Sig. (2-tailed) .027 .302 .694 .382 .110 .142 .245 .688 .281 .017 .298 .524 .376 .761 .019
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.4 Pearson Correlation -.009 .180 -.057 1 -.038 .230 .177 -.135 .065 .297* .066 .051 -.096 -.077 .043 .318*
Sig. (2-tailed) .953 .211 .694 .793 .108 .220 .350 .653 .036 .648 .725 .506 .595 .769 .024
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.5 Pearson Correlation -.011 .060 .126 -.038 1 -.113 -.150 .008 .122 .047 .106 .127 .010 .251 .282* .365**
Sig. (2-tailed) .940 .678 .382 .793 .436 .300 .956 .398 .744 .463 .380 .946 .078 .047 .009
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.6 Pearson Correlation .187 -.122 .229 .230 -.113 1 .204 .428** -.207 .048 -.049 .006 -.190 .086 .263 .321*
Sig. (2-tailed) .193 .399 .110 .108 .436 .156 .002 .150 .742 .735 .965 .187 .554 .065 .023
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.7 Pearson Correlation .000 .000 .211 .177 -.150 .204 1 .148 .049 .153 .109 .057 .082 .138 .128 .361**
Sig. (2-tailed) 1.000 1.000 .142 .220 .300 .156 .305 .737 .288 .450 .692 .572 .338 .377 .010
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.8 Pearson Correlation .279* -.168 .167 -.135 .008 .428** .148 1 -.153 -.098 .065 .206 -.037 .120 .160 .291*

Sig. (2-tailed) .050 .242 .245 .350 .956 .002 .305 .288 .499 .653 .152 .798 .408 .266 .040
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.9 Pearson Correlation .002 .122 -.058 .065 .122 -.207 .049 -.153 1 .214 .001 .157 .141 .203 -.029 .281*
Sig. (2-tailed) .987 .397 .688 .653 .398 .150 .737 .288 .136 .995 .276 .327 .157 .844 .048
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.10 Pearson Correlation .087 .387** .155 .297* .047 .048 .153 -.098 .214 1 .017 .342* -.178 .176 .078 .472**
Sig. (2-tailed) .548 .005 .281 .036 .744 .742 .288 .499 .136 .909 .015 .216 .221 .589 .001
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.11 Pearson Correlation .539** .281* .335* .066 .106 -.049 .109 .065 .001 .017 1 .140 .373** .112 .107 .478**
Sig. (2-tailed) .000 .048 .017 .648 .463 .735 .450 .653 .995 .909 .332 .008 .438 .458 .000
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.12 Pearson Correlation .067 .137 .150 .051 .127 .006 .057 .206 .157 .342* .140 1 -.019 .207 .083 .428**
Sig. (2-tailed) .646 .342 .298 .725 .380 .965 .692 .152 .276 .015 .332 .898 .149 .567 .002
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.13 Pearson Correlation .223 .172 -.092 -.096 .010 -.190 .082 -.037 .141 -.178 .373** -.019 1 .410** .158 .341*
Sig. (2-tailed) .119 .233 .524 .506 .946 .187 .572 .798 .327 .216 .008 .898 .003 .272 .015
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.14 Pearson Correlation -.142 .081 -.128 -.077 .251 .086 .138 .120 .203 .176 .112 .207 .410** 1 .510** .583**
Sig. (2-tailed) .325 .574 .376 .595 .078 .554 .338 .408 .157 .221 .438 .149 .003 .000 .000
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
X2.15 Pearson Correlation -.083 .024 -.044 .043 .282* .263 .128 .160 -.029 .078 .107 .083 .158 .510** 1 .547**
Sig. (2-tailed) .565 .870 .761 .769 .047 .065 .377 .266 .844 .589 .458 .567 .272 .000 .000
N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
Jumlah Pearson Correlation .346* .399** .332* .318* .365** .321* .361** .291* .281* .472** .478** .428** .341* .583** .547** 1
Sig. (2-tailed) .014 .004 .019 .024 .009 .023 .010 .040 .048 .001 .000 .002 .015 .000 .000

N 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).



PERCEIVED QUALITY (X3)
Correlations
X3.1 X3.2 X3.3 X3.4 X3.5 X3.6 X3.7 Jumlah
X3.1 Pearson Correlation 1 .075 -.045 -.160 .208 .072 -.149 .328*
Sig. (2-tailed) .607 .755 .268 .146 .618 .301 .020
N 50 50 50 50 50 50 50 50
X3.2 Pearson Correlation .075 1 .043 -.299* -.061 .123 .030 .295*
Sig. (2-tailed) .607 .768 .035 .676 .396 .838 .038
N 50 50 50 50 50 50 50 50
X3.3 Pearson Correlation -.045 .043 1 .144 -.073 .132 .084 .398**
Sig. (2-tailed) .755 .768 .320 .614 .361 .564 .004
N 50 50 50 50 50 50 50 50
X3.4 Pearson Correlation -.160 -.299* .144 1 .147 .053 .131 .395**
Sig. (2-tailed) .268 .035 .320 .307 .716 .366 .005
N 50 50 50 50 50 50 50 50
X3.5 Pearson Correlation .208 -.061 -.073 .147 1 .003 -.037 .371**
Sig. (2-tailed) .146 .676 .614 .307 .983 .800 .008
N 50 50 50 50 50 50 50 50
X3.6 Pearson Correlation .072 .123 .132 .053 .003 1 -.011 .551**
Sig. (2-tailed) .618 .396 .361 .716 .983 .939 .000

N 50 50 50 50 50 50 50 50
X3.7 Pearson Correlation -.149 .030 .084 .131 -.037 -.011 1 .432**
Sig. (2-tailed) .301 .838 .564 .366 .800 .939 .002
N 50 50 50 50 50 50 50 50
Jumlah Pearson Correlation .328* .295* .398** .395** .371** .551** .432** 1
Sig. (2-tailed) .020 .038 .004 .005 .008 .000 .002
N 50 50 50 50 50 50 50 50
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).


MINAT BELI (Y)
Correlations
Y1 Y2 Y3 Y4 Jumlah
Y1 Pearson Correlation 1 -.112 -.153 .075 .437**
Sig. (2-tailed) .438 .289 .603 .002
N 50 50 50 50 50
Y2 Pearson Correlation -.112 1 -.135 .181 .513**
Sig. (2-tailed) .438 .349 .208 .000
N 50 50 50 50 50
Y3 Pearson Correlation -.153 -.135 1 -.046 .307*
Sig. (2-tailed) .289 .349 .753 .030
N 50 50 50 50 50
Y4 Pearson Correlation .075 .181 -.046 1 .645**
Sig. (2-tailed) .603 .208 .753 .000
N 50 50 50 50 50
Jumlah Pearson Correlation .437** .513** .307* .645** 1
Sig. (2-tailed) .002 .000 .030 .000
N 50 50 50 50 50
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Lampiran 5
Hasil Uji Reliabilitas
Green product (X1)

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.755 5

Brand Personality (X2)

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.748 15

Perceived Quality (X3)

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.758 7

Minat Beli (Y)

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.753 4











Lampiran 6
Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 50
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation .49454672
Most Extreme Differences Absolute .095
Positive .071
Negative -.095
Test Statistic .095
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.













Lampiran 7
Hasil Uji Regresi Linier Berganda

Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 2.211 .611 .346 .731
Green Product .254 .117 .240 2.176 .035
Brand Personality .426 .134 .358 3.170 .003
Perceived Quality .426 .134 .358 3.170 .003
a. Dependent Variable: Minat Beli


Lampiran 8
Hasil Uji F
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 13.296 3 4.432 17.011 .000b
Residual 11.984 46 .261
Total 25.280 49
a. Dependent Variable: Minat Beli
b. Predictors: (Constant), Perceived Quality, Green Product, Brand Personality



Lampiran 9
Hasil Uji t
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 2.211 .611 .346 .731
Green Product .254 .117 .240 2.176 .035
Brand Personality .426 .134 .358 3.170 .003
Perceived Quality .426 .134 .358 3.170 .003
a. Dependent Variable: Minat Beli



Lampiran 10
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .725a .526 .495 .51042
a. Predictors: (Constant), Perceived Quality, Green Product, Brand Personality
b. Dependent Variable: Minat Beli




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

VARIASI BAHASA DALAM JUAL BELI ONLINE

VARIASI BAHASA DALAM JUAL BELI ONLINE